Kemarau Sampai Oktober, Jabar Antisipasi Kekeringan dan Kebakaran

GEDUNGSATE, Faktabandungraya.com,--- Kepala Badan Meteorogi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) klas 1 Bandung Tony Agus Wijaya mengatakan, musim kemarau di wilayah provinsi Jawa Barat terhitung sejak bulan Mei sampai dengan Oktober 2019 atau selama 6 bulan. Untuk itu, perlu dilakukan antisipasi dampak kekeringan dan bahaya kebakaran.

Berdasarkan kajian dan data yang dilimiki BMKG Bandung, bahwa hingga bulan Juli curah hujan sudah semakin berkurang. Sehingga kini dari 596 ribu hektar sawah yang ada di Jawa Barat, 5 persen di antaranya sudah mengalami kekeringan.

Yang perlu diantisipasi adalah puncak musim kemarau di bulan Agustus. Artinya, jumlah curah hujan paling sedikit, terjadi di bulan Agustus. Ini perlu diantisipasi, karena ada potensi kekeringan yang akan berakibat pada kebakaran hutan, lahan bahkan pemukiman.

Demikian dikatakan, Kepala BMKG Bandung Tony Agus Widaya dalam acara JAPRI (Jabar punya informasi) dengan tema Pencegahan bahaya kekeringan pada musim kemarau di Jawa Barat. Hadir menjadi narasumber juga Dinas PSDA Jabar yang di Wakili Kabid OP SDA, Bambang Sumantri; Kadis Pertanian dan Holtikultura Prov Jabar Hendi Jatnika; Kabalak BPBD Jabar Supriyatno, Akademisi dari Unpad Rony, di loby Museum Gedung Sate, Bandung, Selasa (9/7-2019).

Ditambahkannya, Itu adalah pola yang normal tetapi seperti diketahui bahwa akhir-akhir ini pola hujan, cuaca sering menyimpang dari polanya, kadang belum waktunya hujan sudah sering dan sebaliknya belum saatnya kemarau tetapi sudah kering, dari prakiraan kita musim kemarau ini cenderung normal, tidak ada gangguan yang sifatnya jangka panjang El Nino b(membuat lebih kering) atau La Nina (membuat lebih banyak hujan).

Sementara Kepala Bidang Operasional Pemeliharaan Dinas SDA Jabar, . Bambang Sumantri menyatakan, saat ini air yang tersedia sekitar 2,4 Milyar M³ cukup untuk memenuhi kebutuhan dan pemanfaatan untuk air minum dan industri, yang sekitar 2,2 Milyar M³ itu artinya masih memenuhi dengan pola yang sudah dilegalkan oleh gubernur.

Selama kemarau, Dinas SDA akan terus berupaya membantu memenuhi kebutuhan akan air untuk pertanian, sehingga sawah yang menggunakan daerah irigasi tetap terairi. Selain itu, kita juga akan benahi DI yang kondisi sudah kurang baik, agar air tetap mengalir ke persawahan, ujarnya.

Sedangkan Kepala Dinas Pertanian dan Holtikultura Provinsi Jawa Barat Hendi Jatnika menyebutkan, Yang pertama paling terdampak akibat musim kemarau adalah bagi tanaman padi sawah, ini yang sudah terjadi. Sawah yang terdampak adalah sawah tadah hujan yang masih menanam pada pada bulan Juni itu mereka terdampak sampai Fuso tetapi tidak semua terdampak.

Ditambahkannya, Jawa Barat ini adalah provinsi yang kaya air sampai saat ini kita masih punya standing crop atau eksisting padi sawah di area seluruh Jabar sekitar 500rb ha. Namun, sekitar 5 % atau 28 ribu hektar lebih sawah, yang mengalami kekeringan. Paling luas berada di Indramayu. Sedangkan yang mengalami puso atau tanamannya mati seluas 1.682 ha.

“Untuk mengamankan standing crop atau area yang sudah ada yang masih bisa diairi dengan pompanisasi dibidang seluas lebih kurang 500 rb Ha ini, pompa sudah siap, kita ada brigade asin (alat mesin pertanian) di dinas pertanian Kabupaten kabupaten. Kodim-Kodim Danrem-Danren itu sudah ada alat alat yang diperlukan bila masyarakat memerlukan bisa menghubingi kabupaten dan TNI AD setempat.

Sedangkan Kabalak BPBD Jabar, Supriyatno mengatakan, pihak mempersiapkan peralatan untuk membantu masyarakat akan kebutuhan air bersih. Bahkan kita juga sudah mensiagakan mobil operasional yang sudah berisi air, bila sewaktu-waktu terjadi kebakaran. Baik itu kebakaran hutan, kebun maupun perumahan warga.

Selain peralatan, BPBD Jabar juga sudah menyiapkan relawan bencana, yang apabila dibutuhkan siap bergerak, tandasnya. (husein).

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.