Notification

×

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

Harkitnas, Pjs Walikota Bandung Ajak Warga Tingkat Persatuan dan Terus Berinovasi

Senin, 21 Mei 2018 | 15:33 WIB Last Updated 2018-05-30T14:33:26Z
Klik

BANDUNG, (FBR.Com) – Kota Bandung sudah cukup lama terkenal sebagai kota yang memiliki kemampuan untuk menebarkan semangat kreativitas. Untuk Penjabat Sementara Wali Kota Bandung, Muhamad Solihin mengajak seluruh warga Bandung untuk terus berinovasi dan meningkatkan kreatifitas dalam berbagai hal. Hal ini penting dalam rangka mengisi kemerdekaan.

Solihin meminta seluruh masayrakat Bandung untuk tidak cepat berpuas diri dalam mengisi kemerdekaan. “Jangan pernah puas dengan apa yang sudah kita capai, tugas pemerintah membangkitkan semangat kreativitas warga. Jika masyarakat kreatif, bisa menggerakkan ekonomi,” tutur Solihin usai menjadi pembina upacara pada peringatan Hari Kebangkitan Nasional di Plaza Balai Kota Bandung, Senin (21/5/2018).

Sebagai kota dengan sumber daya manusia berkualitas, Kota Bandung memiliki kemampuan untuk menebarkan semangat kreativitas itu ke daerah lain di Indonesia. Salah satu alasannya, karena Bandung memiliki beberapa perguruan tinggi terbaik di Indonesia.“Kalau ingin warga kreatif, pemerintah juga harus lebih kreatif dan inovatif. Jangan pernah berpikir untung rugi,” tegasnya.

Menurut Solihin, salah satu kreativitas yang perlu didorong adalah soal pemanfaatan media komunikasi. Pemerintah dan masyarakat harus mampu memanfaatkan kecanggihan teknologi mutakhir itu dengan sebaik-baiknya.“Semua media informasi dan komunikasi dimanfaatkan untuk kebaikan bukan untuk saling menghujat. Jangan sampai media ini justru menjadi sarana untuk memecah belah bangsa. Itu bertentangan dengan nilai dan prinsip yang ingin dijunjung dalam peringatan Hari Kebangkitan Nasional,” ujar Solihin.
Menurutnya, momentum kebangkitan nasional diawali peristiwa pembentukan organisasi pergerakan nasional pertama di Indonesia, Budi Utomo, pada 20 Mei 1908.. Saat itu, rakyat Indonesia ingin berjuang untuk memerdekakan Indonesia tanpa melihat latar belakang suku, agama, maupun pendidikan.

“Yang harus kita maknai bersama adalah bagaimana menjaga persatuan kesatuan bangsa ini lebih baik dibandingkan waktu pembentukan Budi Utomo pada tahun 1908,” tandasnya. (sein).

×
Berita Terbaru Update