Notification

×

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

Kementerian Perhubungan Menilai TOD Padalarang Lebih Pas Daripada Walini

Selasa, 25 Januari 2022 | 11:26 WIB Last Updated 2022-01-25T04:26:00Z
Klik

Pimpinan dan anggota Pansus VI saat malakukan raker dengan Kementerian Perhubungan dan Manajemen Pembangunan KCJB (foto:daro). 

BANDUNG, Faktabandungraya.com,-- Pembangunan Kereta Cepat Jakarta-Bandung (KCJB), yang kini sudah mencapai 79,9 persen, diharapkan dapat beroperasional pada bulan Juni 2023.  Namun, hingga kini masih terjadi pro-kontra. Mulai dari penamaan hingga tempat Transit Oriented Development (TOD).

Bukan hanya terkait proses pembangunannya, pro-kontra juga dikaitkan dengan namanya. Pada masa-masa awal pembangunannya, nama yang digaungkan adalah Kereta Cepat Indonesia China (KCIC) kemudian berubah jadi Kereta Cepat Jakarta-Bandung (KCJB). Belakangan, nama KCIC lebih dilekatkan pada perusahaan patungan Indonesia-China itu.

Anggota Pansus VI DPRD Jabar yang menggodok Raperda RTRWP Jabar, Drs.H. Daddy Rohnady membenarkan bahwa hingga saat ini pembangunan KCJB sudah mencapai 79,9 persen, sehingga diharapkan pembangunan dapat selesai danberoparasional pada bulan Juni 2023 mendatang.

Namun, walaupun progress pembangunan sudah mencapai 79,9 persen, masih saja terjadi pro-kontra, baik soal pembangunan, penamaan (KCIC atau KCJB) hingga kini belum jelas diputuskan. Nama yang dipergunakan. Termasuk juga perubahan Transit Oriented Development (TOD).

Demikian dikatakan Daddy Rohanady yang juga anggota Komisi IV DPRD Jabar ini saat dimintai tanggapannya terkait perkembangan pembangunan KCJB, Selasa (25/01/2022).  

Dikatakan, pada rencana awal ada empat transit oriented develompent (TOD) yaitu satu berada di DKI Jakarta, yakni Halim Perdana Kusumah dan tiga di Provinsi Jawa Barat, yakni di Karawang, Walini (Kab.Bandung Barat), dan Tegalluar (kota Bandung). Namun, dalam perkembangannya, TOD Walini ditunda lebih dahulu.    

Menurut politisi Partai Gerindra Jabar ini, ditundanya pembangunan TOD Walini, karena pihak Kementerian Perhubungan (Kemenhub) menilai Padalarang lebih pas daripada Walini. Hanya saja, salah satu syaratnya untuk mengoptimalkan TOD Padalarang adalah harus ada feeder dari Kebon Kawung serta melayani Bandung dan Cimahi.

Padahal, di kawasan Walini sudah beredar banyak pihak yang berusaha membebaskan lahan. Hal itu bisa dipahami mengingat rencana awal di TOD Walini pada awalnya akan dikembangkan menjadi alternatif pengganti Ibu Kota Jawa Barat. Bahkan ada rencana dibangun pula kampus Institut Teknologi Bandung (ITB). Dengan demikian, dibutuhkan lahan lebih dari seribu hektare.

Di sisi lain, dengan ditambahnya TOD Padalarang, dibutuhkan pula kerja sama dengan manajemen Kota Baru Parahyangan. Memang pasti dibutuhkan banyak penyesuaian. Meskipun demikian, Padalarang dinilai lebih strategis. Padalarang dianggap lebih potensial menjadi titik pertemuan dari banyak lokasi, sehingga lebih potensial pula untuk menjaring penumpang.

Sebagai informasi, Transit Oriented Development (TOD) adalah pada konsep perencanaan kota yang terintegrasi dengan menggabungkan sistem transportasi, tempat tinggal, area komersial, ruang terbuka, dan ruang publik.

Tujuan konsep TOD tak lain untuk memudahkan masyarakat dan pengguna untuk melakukan perjalanan dengan berjalan kaki, sepeda, maupun moda transportasi umum.

Pengoptimalan penggunaan moda transportasi umum ini, menjadikan kota-kota yang menerapkan konsep TOD berhasil mengurangi angka kemacetan karena penggunaan kendaraan pribadi juga berkurang. (adikarya/husein).

×
Berita Terbaru Update