![]() |
| Wali kota Bandung M.Farhan |
Komitmen tersebut ditegaskan Wali
Kota Bandung, Muhammad Farhan saat menghadiri forum NGULIK (Ngobrol dan Diskusi
Teknologi Informasi dan Komunikasi Data dan Statistik), Kamis (4/6/2026).
Menurut Farhan, perkembangan AI
telah mengubah wajah dunia, termasuk cara pemerintah melayani masyarakat.
Karena itu, Kota Bandung ingin menjadi salah satu daerah terdepan dalam
implementasi AI yang tetap berpihak pada kepentingan publik.
“Saya merasa sangat bahagia karena
hari ini kita membahas arah peta jalan AI nasional. Ini penting agar kita bisa
menentukan implementasi strategis AI di lingkungan pemerintahan dan masyarakat
Kota Bandung,” ujar Farhan.
Ia menilai, transformasi digital
saat ini telah memasuki fase penting yang tidak lagi hanya berbicara soal
penggunaan teknologi, tetapi bagaimana teknologi mampu menyelesaikan persoalan
masyarakat secara nyata.
Dalam konteks pemerintahan daerah,
AI dinilai memiliki potensi besar untuk mempercepat pelayanan publik,
meningkatkan akurasi pengambilan kebijakan, memperkuat efisiensi birokrasi,
hingga menciptakan tata kelola pemerintahan yang lebih transparan dan akuntabel.
Namun di balik peluang besar
tersebut, Farhan mengingatkan adanya tantangan serius yang harus diantisipasi,
terutama terkait kesiapan sumber daya manusia.
Menurutnya, pemanfaatan AI
membutuhkan aparatur dan masyarakat yang memiliki kemampuan digital memadai
agar teknologi tidak hanya menjadi simbol modernisasi, tetapi benar-benar dapat
digunakan secara optimal.
“Teknologi secanggih apa pun tidak
akan berguna tanpa kesiapan manusianya,” katanya.
Selain kesiapan SDM, Farhan juga
menyoroti pentingnya keamanan data dan etika digital. Ia mengingatkan AI
memiliki kemampuan besar dalam mengolah informasi dan membantu proses
pengambilan keputusan sehingga perlindungan data pribadi harus menjadi
prioritas utama.
“Jangan sampai perlindungan data
pribadi diabaikan sehingga data masyarakat bisa dikuasai, disimpan, dan diolah
dengan cara yang salah,” tegasnya.
Farhan menilai keberhasilan
implementasi AI tidak bisa dilakukan pemerintah sendiri. Dibutuhkan kolaborasi
kuat antara pemerintah, akademisi, dunia usaha, komunitas teknologi, media,
masyarakat, hingga pemerintah pusat.
Ia pun mengapresiasi dukungan
Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) dalam membangun ekosistem AI
nasional yang sehat dan berkelanjutan.
Secara historis, Bandung memang
memiliki jejak panjang sebagai kota inovasi dan pusat perkembangan teknologi di
Indonesia. Mulai dari era pendidikan teknik di masa kolonial, lahirnya berbagai
kampus teknologi ternama, hingga berkembangnya ekosistem digital dan startup,
Bandung dikenal sebagai laboratorium kreativitas dan inovasi nasional.
Kini, di tengah revolusi kecerdasan
buatan dunia, Bandung kembali mencoba mengambil peran strategis melalui
pembangunan pelayanan publik berbasis AI yang tetap mengedepankan sisi
kemanusiaan.
Farhan menegaskan, secanggih apa
pun AI, teknologi tidak akan pernah mampu menggantikan empati manusia dalam
melayani masyarakat.
“AI tidak bisa menggantikan rasa
empati. Sentuhan kemanusiaan tetap menjadi hal yang sangat penting dalam
pelayanan kepada masyarakat,” ujarnya.
Karena itu, ia mengajak seluruh
pemangku kepentingan untuk membangun budaya kerja yang terbuka terhadap inovasi
dan tidak takut menghadapi perubahan zaman.
“Saatnya kita menyelesaikan the
last mile of digital transformation. Mari bersama-sama membangun Bandung yang
lebih maju melalui pemanfaatan teknologi yang bertanggung jawab dan berpihak
kepada masyarakat,” pungkasnya. (kyy/red).
