![]() |
| Menaker Yassierli pada Public Sector Governance Summit (PSGS) yang diselenggarakan Ikatan Akuntan Indonesia (IAI) di Jakarta |
Hal itu disampaikan Yassierli saat
menjadi pembicara pada Public Sector Governance Summit (PSGS) yang
diselenggarakan Ikatan Akuntan Indonesia (IAI) di Jakarta, Kamis (25/6/2026).
Menurutnya, tata kelola sektor publik perlu bergeser dari sekadar orientasi
kepatuhan menuju penciptaan nilai dan dampak yang dirasakan masyarakat.
"Kami mengelola sekitar 155
juta angkatan kerja. Dengan tanggung jawab sebagai 'HRD negara', Kemnaker
berkomitmen menjadi contoh penerapan prinsip Environmental, Social, and
Governance (ESG) di lingkungan pemerintahan," ujar Yassierli.
Ia menjelaskan, penguatan tata kelola ketenagakerjaan dilakukan melalui program vokasi dan magang nasional, percepatan digitalisasi data, peningkatan integritas birokrasi, hingga penyusunan Sustainability Report yang mengacu pada standar Global Reporting Initiative (GRI).

Menaker Yassierli bersama peserta PSGS
Yassierli mengakui Indonesia masih menghadapi tantangan besar di sektor ketenagakerjaan, mulai dari tingkat pengangguran yang mencapai 7,24 persen, dominasi pekerja informal, hingga rendahnya tingkat pendidikan angkatan kerja yang sebagian besar masih berpendidikan maksimal SMA dan SMK.
Untuk menghasilkan kebijakan yang
lebih tepat sasaran, Kemnaker juga memperkuat kerja sama dengan Badan Pusat
Statistik (BPS) dalam menganalisis data ketenagakerjaan secara berkala. Langkah
tersebut diharapkan mampu melahirkan rekomendasi strategis yang menjawab
persoalan dunia kerja sekaligus meningkatkan produktivitas nasional.
Melalui pendekatan tersebut,
Kemnaker menargetkan tata kelola ketenagakerjaan yang tidak hanya akuntabel,
tetapi juga inklusif, adaptif, dan memberikan dampak langsung bagi
kesejahteraan pekerja serta masyarakat luas. (*/red).
.jpeg)