Notification

×

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

Bukan Sekadar Nama, Disbudpar Ungkap Jejak Sejarah Jalan dan Taman di Bandung

Minggu, 27 September 2026 | 10:58 WIB Last Updated 2026-09-27T03:58:12Z
Klik
Disbudpar gelar Diskusi jejak sejarah di Museum kota Bandung



BANDUNG, FAKTABANDUNGRAYA,--- Nama jalan dan taman di Kota Bandung bukan sekadar penanda lokasi. Di baliknya tersimpan jejak sejarah, perubahan zaman hingga memori kolektif masyarakat. Hal itu mengemuka dalam kegiatan “Ngobrol di Museum” bertajuk Toponimi Taman dan Jalan di Kota Bandung yang digelar Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kota Bandung di Museum Sejarah Kota Bandung, Jumat (25/9/2026).

Diskusi menghadirkan sejarawan dan akademisi Dr. Miftahul Falah, M.Hum., serta peneliti sejarah Atep Kurnia. Kegiatan tersebut diikuti unsur legislatif, perangkat daerah, komite kebudayaan dan masyarakat umum.

Miftahul Falah mengungkapkan, penamaan jalan di Bandung mengalami perubahan mengikuti dinamika sejarah, terutama setelah masa dekolonisasi. Salah satunya kawasan Jalan Dipati Ukur yang pernah dikenal sebagai Ring Boulevard dan Beatrix Boulevard.

“Setiap jejak masyarakat yang terjadi pada masa lampau itu adalah sejarah. Dan yang menyatakan sejarahnya bukan peristiwanya, melainkan kita,” ujar Miftahul.

Sementara Atep Kurnia menyoroti sejarah perkembangan taman kota yang berkaitan erat dengan pembentukan Haminte Bandung pada 1906. Salah satu kawasan yang dibahas adalah Pieterspark, yang menjadi bagian dari perkembangan ruang kota pada masa kolonial.

Foto2 jejak sejarah Kota Bandung di Museum Kota Bandung


Pembahasan juga mengangkat Kajian Akademis Toponim Taman Kota terhadap 25 taman tematik di Bandung. Kajian tersebut memuat sejumlah rekomendasi penyesuaian nama agar lebih berkaitan dengan sejarah dan kearifan lokal kawasan.

Di antaranya, Taman Balai Kota direkomendasikan kembali menggunakan nama Taman Merdeka, Taman Lansia menjadi Taman Cisangkuy, serta Taman Dewi Sartika menjadi Taman Wastukancana.

Melalui kegiatan ini, Disbudpar berharap kajian sejarah tidak berhenti di ruang diskusi, tetapi menjadi pijakan dalam menjaga identitas kota, melestarikan warisan budaya dan menata ruang publik Bandung agar semakin memiliki karakter sejarah yang kuat. (*/red).

×
Berita Terbaru Update