Notification

×

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

FIAD Soroti Pendidikan, Perlindungan Pekerja hingga Krisis Regenerasi Petani

Selasa, 29 September 2026 | 10:18 WIB Last Updated 2026-09-29T03:18:53Z
Klik
FIAD gelar pertemuan di Gedung Indonesia Menggugat, Bandung



BANDUNG, FAKTABANDUNGRAYA,--- Forum Intelektual Antardisiplin (FIAD) mendorong pembenahan mendasar dalam sejumlah sektor strategis Indonesia, mulai dari pendidikan, ketenagakerjaan, hingga pertanian. Forum menilai pembangunan tidak cukup hanya mengejar pertumbuhan ekonomi dan perubahan regulasi, tetapi harus memastikan manusia tetap menjadi subjek utama.

Gagasan tersebut mengemuka dalam pertemuan FIAD di Gedung Indonesia Menggugat, Bandung, Minggu (27/9/2029), yang mempertemukan akademisi, guru, pekerja, petani, praktisi, serta perwakilan lembaga pendidikan dan pemerintah.

Dalam bidang pendidikan, FIAD menilai sekolah tidak boleh sekadar menjadi tempat memindahkan pengetahuan. Pendidikan harus membentuk kemampuan berpikir kritis, mengambil keputusan, hidup bersama secara adil, sekaligus membangun karakter dan keadaban.

FIAD juga menyoroti perlunya otonomi kontekstual bagi sekolah dan daerah. Kurikulum nasional dinilai tetap penting sebagai standar bersama, tetapi implementasinya perlu memberi ruang bagi sekolah menyesuaikan pembelajaran dengan kondisi sosial, budaya, geografis, ekonomi, dan lingkungan masing-masing.

“Jangan terus-menerus mengganti kurikulum,” menjadi salah satu perhatian forum. Perbaikan pendidikan dinilai lebih membutuhkan evaluasi implementasi, pendampingan guru, need assessment, serta pengukuran dampak terhadap peserta didik.

Persoalan guru juga mendapat perhatian. Guru didorong memiliki otonomi profesional agar tidak hanya menjadi pelaksana kebijakan, melainkan pendidik yang mampu mengembangkan pembelajaran sesuai kebutuhan siswa.

Lebih jauh, FIAD mengingatkan pendidikan perlu membekali siswa dengan “radar eksploitasi”. Pengetahuan tentang kontrak kerja, hak pekerja, risiko perdagangan orang, kerja paksa, hingga pola rekrutmen menjadi penting agar lulusan tidak hanya siap memasuki pasar kerja, tetapi juga mampu melindungi dirinya.

Pekerja Jangan Jadi Sekadar Komponen Industri

Pada sektor ketenagakerjaan, FIAD menyoroti perubahan hubungan kerja akibat digitalisasi, otomatisasi, informalisasi, pekerja platform, migrasi kerja, hingga meningkatnya bentuk pekerjaan yang rentan.

Forum mendorong transformasi ekonomi yang menempatkan pekerja sebagai subjek pembangunan. Perlindungan hak, upskilling dan reskilling, serta jaminan sosial dinilai perlu berjalan seiring dengan perubahan teknologi.

Perhatian khusus juga diarahkan pada pekerja di sektor pendidikan tinggi. FIAD menyoroti persoalan standar pengupahan serta perlindungan dosen dan pekerja kampus. Forum juga mendorong agar kepatuhan perguruan tinggi terhadap standar pengupahan menjadi bagian dari indikator akreditasi.

Selain itu, FIAD menilai tata kelola perguruan tinggi perlu lebih demokratis, termasuk membuka ruang keterwakilan serikat pekerja kampus dalam struktur pengambilan keputusan.

Pengawasan ketenagakerjaan juga menjadi sorotan. FIAD mendorong pengawas tenaga kerja memperoleh dukungan anggaran yang memadai sekaligus memiliki mekanisme akuntabilitas yang kuat, termasuk kemungkinan keterlibatan representasi pekerja dalam komite ketenagakerjaan.

Diskusi FIAD : soroti Pendidikan, PErlindungan Pekerja hingga Krisis Petani


Petani Harus Jadi Subjek, Bukan Sekadar Penerima Bantuan

Di sektor pertanian, persoalan regenerasi petani menjadi salah satu perhatian utama. Rendahnya pendapatan, persoalan harga hasil pertanian, penguasaan lahan, ekspansi korporasi, hingga implementasi kebijakan dinilai turut memengaruhi minat generasi muda untuk bertani.

FIAD menilai keberlanjutan pertanian tidak semata soal menjaga produksi pangan, tetapi juga memastikan keberadaan generasi yang akan meneruskan kehidupan di sektor tersebut.

Petani, menurut forum, perlu ditempatkan sebagai subjek pembangunan dan pemegang hak, bukan sekadar penerima bantuan. Berbagai regulasi mengenai perlindungan petani, reforma agraria, dan pangan juga dinilai membutuhkan penguatan pada tahap implementasi.

Dari Diskusi Menuju Policy Brief

Pertemuan Bandung menjadi bagian dari rangkaian kerja FIAD dalam menyusun kajian lintas disiplin. Hasil pembahasan pendidikan dasar dan menengah akan dikembangkan lebih lanjut selama dua hingga tiga bulan, sementara isu ketenagakerjaan dan pertanian menjadi pendalaman dari kajian sebelumnya.

FIAD sebelumnya mengembangkan 17 areas of concern, mulai dari ekonomi, hukum dan keadilan, sosial politik, antikorupsi, pendidikan, pangan, pertanian, keadilan iklim, energi hingga kekayaan alam.

Forum yang digerakkan sejumlah intelektual lintas disiplin ini menempatkan perjumpaan antara pengetahuan akademik dan pengalaman masyarakat sebagai bagian penting dalam menghasilkan rekomendasi kebijakan.

FIAD sendiri berkembang dari keresahan bersama para intelektual terhadap berbagai persoalan bangsa. Pada 13 Agustus 2026, Prof. Sulistyowati Irianto, Prof. Teddy Prasetyono, Prof. Manneke Budiman, dan Prof. Premana W. Premadi turut tampil dalam pembacaan Manifesto Pendirian Intelektual FIAD di Taman Ismail Marzuki, Jakarta.

Pertemuan Bandung kembali menegaskan arah tersebut: membawa persoalan nyata masyarakat ke ruang intelektual, lalu mengubahnya menjadi gagasan dan rekomendasi yang dapat diuji dalam ruang publik.

Penanggung Jawab: Prof. Sulistyowati Irianto, Prof. Manneke Budiman, Prof. Teddy Prasetyono, Prof. Premana Premadi, Prof. Wening Udasmoro, dan Dr. Ari Sudjito.

×
Berita Terbaru Update