![]() |
| Melalui Program Buruan SAE, Kepala SMPN 50 Bandung Asep Ramdani merubah tumpukan brangkal menjadi laha produktif |
Kepala SMPN 50 Bandung Asep Ramdani
mengatakan, pemanfaatan lahan tersebut berawal dari keinginannya mengubah ruang
yang tidak produktif menjadi sarana pembelajaran ketika mulai bertugas pada
Juni 2025.
“Lahan awalnya itu tumpukan
berangkal. Saya berpikir bagaimana kalau lahan yang tadinya tidak efektif dan
tidak berguna kita jadikan sesuatu yang bermanfaat,” ujar Asep dalam podcast
Basa Basi PWI Kota Bandung, Kamis (1/10/2026).
Program tersebut kemudian
dikembangkan bersama Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Kota Bandung
melalui pendampingan penyuluh pertanian. Hasilnya, SMPN 50 Bandung telah tiga
kali panen berbagai komoditas, seperti pakcoy, kangkung, dan tanaman obat
keluarga (Toga).
Sekolah juga mendapat bantuan 250
ekor ikan nila dan lele serta ayam petelur berikut kandang dan pakan. Untuk
sementara, hasil panen dimanfaatkan memenuhi kebutuhan warga sekolah.
Asep menyebut program tidak
berhenti pada budidaya. Sekolah tengah menyiapkan pengolahan hasil panen
menjadi produk bernilai tambah, seperti jus pakcoy, minuman instan jahe, hingga
olahan lidah buaya.
Sementara itu, Penyuluh Pertanian
Ahli Pertama Asep Tristian mengatakan, keberhasilan program sangat ditentukan
oleh konsistensi sekolah. Para guru juga mendapat pelatihan melalui program
Nawadahan yang mencakup pembibitan, budidaya hingga pascapanen.
“Di SMPN 50 ini berbeda, Pak Kepala
Sekolahnya sangat konsen,” katanya.
Bagi siswa, kebun sekolah menjadi
ruang belajar yang lebih nyata. Mereka tidak hanya menerima teori, tetapi
terlibat langsung merawat tanaman dan mengamati proses pertumbuhan.
Asep menegaskan, ketahanan pangan
tidak selalu membutuhkan lahan luas. Pekarangan sekolah maupun rumah dapat
dimanfaatkan untuk sayuran, tanaman obat hingga perikanan, selama komoditas
disesuaikan dengan kondisi lahan dan paparan sinar matahari.
“Pangan itu bukan hanya padi.
Pemanfaatan lahan pekarangan bisa dikembangkan sebagai ketahanan pangan,”
ujarnya. (*/red).
