DPD GPEI Jabar Gelar Seminar Industri Unggulan Ekspor Jawa Barat


FAKTABANDUNGRAYA.COM, BANDUNG - DPD GPEI (Gabungan Perusahaan Eksportir Indonesia) Jawa Barat menggelar Seminar Industri Unggulan Ekspor Jawa Barat bertajuk, “Memperbaiki Daya Saing Sektor Industri Strategis Guna Peningkatan Ekspor Nasional”, Kamis, (21/2/2019), di Hotel Prama Grand Preanger jalan Asia Afrika Bandung.

Maksud dan tujuan diselenggarakannya seminar ini tentu saja sesuai dengan tujuan utama dari berdirinya GPEI, yakni mengembangkan perdagangan ekspor, mendorong Usaha Kecil dan Menengah, mengoptimalkan Sumber Daya Alam dan Sumber Daya Manusia, serta meningkatkan ekspor dan investasi. Hal ini dikatakan Ketua Dewan Pengurus Daerah (DPD) Gabungan Pengusaha Ekspor Indonesia (GPEI) Jawa Barat Abdul Sobur.

Dirinya berharap, di tahun 2020 dan tahun selanjutnya, ekspor-ekspor yang berasal dari Jawa Barat lebih mengusung industri-industri strategis, seperti industri agro, maritim, dan industri kreatif.

“DPD GPEI Jabar ingin lebih mendorong industri-industri strategis seperti industri agro, maritim, dan kreatif agar lebih bernilai tambah,” kata Abdul Sobur, “Seperti diketahui, ekspor nasional didominasi Jawa Barat, disusul Jawa Timur dan Jawa Tengah,” ungkapnya.

Lebih lanjut Abdul Sobur mengungkapkan, masih ada beberapa sektor yang impornya masih besar seperti, industri otomotif, dan industri farmasi, “Jadi walaupun volumenya tidak besar, namun Added Value industri-industri strategis tinggi, jadi hal itulah yang akan DPD GPEI Jabar canangkan di tahun depan dan tahun seterusnya,” tegasnya.

Abdul Sobur menjelaskan, daya saing adalah persoalan bagaimana kita berhadapan dengan bangsa-bangsa di negara lain, “Saat ini Indonesia relatif kalah dari segi ekspor, buktinya kita masih di bawah Vietnam dan Malaysia, hal tersebut terjadi dikarenakan beban biaya di Indonesia lebih tinggi, padahal untuk kualitas produk, Indonesia punya peluang,” ungkapnya.

Abdul Sobur mengungkapkan, Jawa Barat saat ini menjadi basis industri kreatif nasional, “Jawa Barat unggul di industri agro, karena alam di Jawa Barat terkenal subur,” ujarnya.

“Namun di pentas internasional dalam persaingan global tidaklah mudah ketika berhadapan dengan Vietnam, Malaysia, dan bangsa-bangsa lain, karena bangsa lain bisa menekan biaya produksi dan biaya logistik, sehingga mereka bisa Running di pasar dunia,” ungkap Abdul Sobur.

“Indonesia saat ini masih menempati urutan 29 dari total negara-negara eksportir di dunia, masih jauh di bawah Chechnya, Vietnam, dan Malaysia, tetapi sedikit di atas Filipina dan Singapura karena Singapura negara jasa,” ungkap Abdul Sobur.

“Indonesia masih kalah jauh bila dibandingkan dengan China, Amerika, Jepang, Korea, Jerman dan Italia yang ekspornya sangat tinggi,” sambungnya.

“Namun untuk Industri Agro, seharusnya Indonesia berada di urutan 3 dunia, karena negara yang memiliki hutan tropis terbesar di dunia hanya 3 negara, yaitu Brazil, Zaire, dan Indonesia. Kita lihat Indonesia adalah penghasil kayu, rotan dan turunannya yang pertumbuhannya paling cepat dibandingkan negara-negara Eropa, sebagai contoh, pohon di Indonesia bisa tumbuh dan dipanen hanya dalam waktu 4 hingga 20 tahun, sedangkan di Eropa yang memiliki empat musim, pohon baru bisa dipanen setelah berumur 80 tahun,” jelas Abdul Sobur.

“Maka industri agro, industri maritim, dan industri kreatif di Jawa Barat akan kita dorong menjadi industri strategis, contohnya industri alas kaki, tekstil, dan garmen pertumbuhannya luar biasa di kota Bandung,” kata Abdul Sobur.

“Saat seminar tadi saya mendengar pihak Bea Cukai ada optimisme dan memiliki 10 strategi untuk bisa mendorong pertumbuhan ekspor di Indonesia, diantaranya menekan biaya yang tidak perlu, serta penimbunan barang logistik di suatu kawasan yang selama tiga tahun bisa tidak dikenakan pajak, dan bagi perusahaan yang berorientasi ekspor hal seperti itu bisa menguntungkan, karena bisa tidak dikenakan pajak sebesar 12 persen, sehingga perusahaan memiliki daya saing,” pungkasnya. (Cuy/Bgs).

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.