Ticker

6/recent/ticker-posts

Header Ads Widget

Link Banner

UKW Angkatan XXXVII Tahun 2020, Melangkah Bersama di Tengah Pandemi Covid-19

Tim Penguji, Panpel dan Pserta UKW ke XXXVII PWI Kota Bandung 
BANDUNG, faktabandungraya.com,--- Semoga Hari Esok lebih baik dari Hari Ini. Sebuah penggalan kalimat motivasi yang sering dimaknai sebagai suatu harapan dan optimistisme. Sekaligus mencerminkan bahwa sebagai makhluk berakal kita mesti berikhtiar untuk mencapai setiap tujuan. Mengutip kalimat yang pernah ditulis Dian Nafi (penulis), Tanamlah padi akan tumbuh padi, bahkan rumput juga tumbuh. Kalau menanam rumput, jangan harap akan tumbuh padi juga.

Penggalan kalimat motivasi tersebut mungkin sedikit tepat dalam menggambarkan pelaksanaan Uji Kompetensi Wartawan (UKW) Angkatan XXXVII Tahun 2020. Yang digelar oleh PWI Kota Bandung di tengah masa Pandemi Covid-19.

Harap, Berharap dan Harapan. Tiga kata yang mengkorelasikan optimisme para peserta, panitia pelaksana dan Pemerintah Kota Bandung sebagai pengisi materi dalam kegiatan UKW Angkatan XXXVII Tahun 2020 yang digelar selama 2 hari (Selasa dan Rabu, 15-16 September 2020).

36 wartawan dari berbagai media, cetak, online dan televisi, mengikuti uji kompetensi dengan harap, berharap dan harapan. Sebagai salahsatu peserta, Saya merasakan hal itu. Sebagian besar peserta, saya meyakini seluruh peserta dalam dirinya berharap dapat melewati 10 materi uji dengan status sebagai Wartawan Berkompeten yang dikeluarkan oleh Dewan Pers melalui tim penguji.

Selama dua hari, para peserta harus mampu menunjukan sikap, kredibiilitas dan kapabilitas sebagai wartawan kepada tim penguji. Dengan satu harap, dapat menyelesaikan tugas dengan nilai minimal 70 dari tiap materi uji.

Ternyata Uji Kompetensi Wartawan merupakan kegiatan yang sakral bagi setiap insan wartawan. Hal ini boleh disanggah, tapi bagi Saya itulah adanya. Yang Saya tahu, Uji Kompetensi Wartawan terdapat 3 tingkatan. Mulai dari Muda, Madya dan Utama.

Namun, untuk di tingkat Muda saja, peserta yang mengikuti uji sebagian besar mereka adalah wartawan yang sudah berpengalaman di lapangan. Baik dari jam terbang, pendidikan dan pengalaman di berbagai media berita.

Untuk apa mereka ikut uji kompetensi?, sementara jika mengutip pernyataan Ketua PWI (Persatuan Wartawan Indonesia) Jawa Barat Hilman Hidayat, menyebut bahwa profesi yang akan tergerus keberadaannya di masa mendatang adalah Wartawan. Bukan tanpa alasan, di tengah kemajuan teknologi informasi, acap kali dalam beberapa event/promosi branding. Pemilik Brand saat ini lebih banyak memilih saluran promosi produknya lewat para Youtuber ketimbang Media Berita.

Untuk itu, kata Hilman, hal yang membedakan adalah kualitas dan tanggung jawab secara profesi. Wartawan dilindungi oleh UU Pers No 40 Tahun 1999, dan tunduk terhadap Kode Etik Jurnalistik (KEJ).

"Dalam penulisan berita, kata demi kata harus dapat dipertanggungjawabkan, agar tidak terjadi fitnah. Maka dengan digelarnya UKW ini sangat penting bagi wartawan agar dapat mengerti kode etik jurnalistik," katanya.

Selain itu, dirinya juga menyampaikan di dalam tubuh organisasi PWI sesuai keputusan Kongres PWI di Solo, UKW menjadi syarat anggota kepengurusan dan keanggotaan biasa di PWI.

Dirinya juga berpesan, "Meskipun lulus, bukan (dikatakan) baik kalau moralitasnya buruk. Kata per kata, kalimat per kalimat dipertanggungkan tidak hanya di dunia, tapi juga di akhirat," pesannya.

Kesempatan yang sama, mengutip pernyataan Ketua PWI Kota Bandung Hardiyansyah dengan nada semangat dan optimisme, di tengah pandemi Covid-19 dengan segala keterbatasan ini. PWI Kota Bandung tetap eksis melaksanakan kegiatan UKW. 

"Adanya kegiatan UKW bertujuan agar wartawan dalam melaksanakan tugas jurnalis lebih berkompeten dan profesional," ungkap pria yang akrab disapa Andy.

Kegiatan ini, kata Hardiyansyah, terlaksana juga berkat dukungan dari Pemerintah Kota Bandung. Selama dirinya memimpin organisasi profesi wartawan selama dua periode (2017-2019 dan 2019-2021), ini merupakan kegiatan ke-empat yang digelar PWI Kota Bandung.

Sementara, Sekretaris Daerah Kota Bandung Ema Sumarna mewakili Pemerintah Kota Bandung mengapresiasi pelaksanaan UKW Tahun 2020 di tengah masa pandemi Covid-19. Dengan tetap menerapkan protokol kesehatan secara ketat, menyediakan handsanitizer, masker dan faceshield.

Sebelum membuka secara simbolis pelaksanaan UKW Angkatan XXXVII Tahun 2020. Dirinya mengutip ramalan dari penulis Alvin Toffler yang menuliskan pada tahun 80-an tentang Third Wave. Salahsatunya ramalan tentang teknologi informasi dan media di abad 21 sangat mempengaruhi dunia.

Masa pandemi Covid-19, menjadi tantangan bersama. Bukan hanya pemerintah, peran media sangat dibutuhkan kondisi saat ini.

Media, kata Ema, merupakan salahsatu unsur dari konsep Pentahelix dalam membangun suatu daerah. Pentahelix terdiri dari unsur pemerintah, akademisi, swasta, komunitas dan media. 

"Peran pers sangat vital. Tanpa dukungan media, masyarakat akan kehilangan yang menjadi hal informatif bagi mereka. Sebagus apapun kebijakan yang dibuat pemerintah, akan sia sia (tanpa pemberitaan)," ungkapnya.

Dalam kesempatan ini, dirinya juga menjelaskan kebijakan yang diambil pemerintah Kota Bandung dalam menangani Covid-19, melalui pemulihan dampak kesehatan, ekonomi dan sosial. Sejak pandemi Covid-19 menghantam negara Indonesia, khususnya Kota Bandung, pemerintah daerah hanya sekali menerapkan PSBB.

Segala kebijakan diprioritaskan untuk penanganan Covid-19, Refocusing dan Realokasi anggaran sebesar 405 Miliar, untuk JPS (Jaring Pengaman Sosial) mencapai 370 Miliar, dan kesehatan sebesar 60 Miliar.

Lebih lanjut Sekda mengatakan, relaksasi ekonomi mulai diterapkan, namun dengan Adaptasi Kebiasaan Baru (AKB) yang ketat. "Ini memang pilihan sulit, selain bertanggungjawab menyelamatkan kesehatan warga, tapi ekonomi juga harus jalan," katanya.

Ada harap, berharap dan harapan. Harapan yang sama pandemi Covid-19 segera cepat berlalu. Ada harap dalam diri peserta mampu menyelesaikan dan mengerjakan ujian dengan hasil yang memenuhi standar nilai. Sementara, panitia pelaksana, dalam hal ini PWI Kota Bandung berharap seluruh peserta yang mengikuti UKW keluar dengan tingkat kelulusan 100 persen.

Meski kenyataannya, dari 36 peserta yang ikut uji kompetensi hanya 34 nama peserta yang keluar dengan status wartawan yang berkompeten. Artinya sebanyak 94,4 persen peserta dinyatakan lulus uji kompetensi angkatan XXXVII Tahun 2020.

Selamat kepada peserta yang lulus Uji Kompetensi Wartawan (UKW). Bagi yang belum lulus, kata Wawan Djuwarna salahsatu penguji UKW Angkatan XXXVII Tahun 2020, jangan berkecil hati. Tetaplah bekerja seperti biasa sebagai seorang jurnalis. Tetap terapkan pedoman Kode Etik Jurnalisme (KEJ) dan PPRA (Penulisan Pemberitaan Ramah Anak) dalam meliput dan menulis berita.

Bagi peserta yang mendapatkan status kelulusan standar uji kompetensi, Rita Sri Hastuti mewakili PWI Pusat menyampaikan dan mengingatkan setelah dinyatakan lulus dan menyandang predikat wartawan yang berkompeten. Jaga nama baik profesi wartawan dan medianya sebagai tempat bernaung. Juga nama baik tim penguji, karena akan melekat ketika bertugas di lapangan.

Satu hal yang saya ingat pesan dari Bapak Suherlan, yang bertugas sebagai penguji di kelompok saya. Kembangkan potensi diri sebagai jurnalis, dalam menulis dan mengembangkan isi berita. (suryadi)

Posting Komentar

0 Komentar