Notification

×

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

Covid-19 Paksa Generasi Kolonial Melek Digital Tidak Gaptek

Kamis, 29 Juli 2021 | 14:49 WIB Last Updated 2021-07-30T07:58:59Z
Klik

Fanky Christian (Sekretaris Jenderal ACCCI ( foto:ist)
JAKARTA, ---- Pesatnya Digitalisasi di tengah pandemi Covid-19 diyakini menjadi peluang baru bagi pelaku usaha khususnya di industri teknologi dan keuangan untuk tetap bertahan dan berkembang di masa pandemi. Hal ini pula yang terjadi pada industri komputasi awan atau cloud computing  yang memiliki peluang besar untuk bertumbuh.

CEO dan Chief Editor Wartaekonomi.co.id Muhamad Ihsan menuturkan, perkembangan teknologi digital inilah yang mmbuat kita optimis bahwa di tengah pandemi prospek ekonomi dan digital semakin baik. Dari beberapa penelitian, sebutnya, ada opportunity yang besar sekali di pasar cloud computing karena memang ekonomi terus menuju ke arah digital.

"Apalagi berbagai penelitian juga mnyebutkan gaya hidup digital tidak hanya terjadi karena Covid-19, setelah Covid-19 sebagian dari kita mungkin akan tetap melakukan gaya hidup digital," ujarnya saat menghadiri webinar bertajuk Cloud System pada Industri Keuangan Nonbank Sebagai Upaya Digitalisasi dalam Rangka Pemulihan Ekonomi Nasional yang digelar Warta Ekonomi di Jakarta, Rabu (28/7/2021).

Senada dengan Ihsan, Direktur Utama PT Taspen (persero) A.N.S. Kosasih mengatakan, Covid-19 telah memaksa orang bahkan generasi kolonial alias para orang tua dipaksa untuk melek digital. Menurutnya, waktu PT Taspen melakukan investasi teknologi diprotes banyak pihak karena konsumen PT Taspen kan mayoritas orang tua atau lanjut usia yang gagap teknologi (gaptek).

"Tapi memang perubahan ini bukan karena CEO-nya hebat tapi karena Covid-19. Covid-19 membuat kita harus berubah dan mempermudah mengalihkannya ke teknologi digital. Tadi ada begitu banyak keberatan dari para pensiunan dari peserta kita, sekarang mereka minta kalau bisa digital saja daripada kontak fisik meski mnyenangkan tapi akibatnya fatal," jelas Kosasih.

Oleh sebab itu, pihaknya mengubah cara berbisnis dan proses klaim PT Taspen dengan teknologi untuk para konsumennya seperti aplikasi mobile PT Taspen.

"Kalau kita buka Taspen Mobile kita bikin autentifikasinya itu facial dan voice recognition. jadi biar enggak salah terima, tidak terjadi penipuan, dan disalahgunakan kita pakai itu facial recognition. Dan ini tidak bisa ditipu karena facial recognition bentuknya bukan video tapi live dan mereka diminta melakukan gerakan sesuai instruksi dari aplikasi misalnya tersenyum, gerakkan mata. kalau salah uangnya tidak terkirim," tukasnya.

"Jadi banyak pensiunan yang tadinya gaptek sekarang banyak pensiunan mulai bisa lakukan transaksi berbasis teknologi. Kalau dia tidak bisa mereka minta ke anak atau cucunya. apakah masih ada yang tidak bisa teknologi? ada tapi jumlahnya kurang dari 2%," tambah Kosasih.

A.N.S Kosasih ( Direktur Utma PT. Taspen (foto:ist)

Dalam kesempatan yang sama, Deputi Direktur IT PT Adira Dinamika Multi Finance Dodi Yuliarso mengungkapkan, potensi pertumbuhan industri cloud computing memang sangatlah besar. Terbukti perusahaan cloud computing global telah masuk dan memasarkan produknya di Indonesia. Sebut saja Alibaba Cloud, Google Cloud, Amazon dan Microsoft Azure.

"Indonesia sebetulnya potensi pertumbuhan cloud sangat tinggi, memang kita terbentur regulasi sehingga adopsinya masih belum tumbuh signifikan tapi akan tumbuh cepat. cloud companynya juga wktu itu belum banyak tapi sekarang sudah banyak, ini akan menarik dua tahun ke depan," ucapnya.

Lebih lanjut, dia memberikan sedikit tips memilih perusahaan cloud di masa pandemi saat ini. Pertama ialah pilih perusahaan yang aspek securitynya sudah teruji dan mumpuni. Kemudian, pilih perusahaan yang benar-benar memiliki jam terbang tinggi di industri cloud computing.

"untuk memilih salah satu perusahaan cloud adalah dari aspek security karena di masa pandemi ini cyber crime semakin meningkat jadi kita harus sangat-sangat selektif memilih company cloud tersebut. Plus juga company cloudnya harus benar-benar yang punya pengalaman, expert dan teknologi yang mumpuni," sebutnya.

Untuk diketahui, industri komputasi awan perlahan namun pasti mulai tumbuh dan berkembang di Indonesia kendati sedikit tertinggal. Hal itu setidaknya terlihat dari hasil studi yang dikembangkan oleh Asia Cloud Computing Association (ACCA), di mana pada tahun 2020 lalu hanya menempatkan Indonesia di posisi 12 dari keseluruhan 14 negara Asia Pasifik yang masuk dalam penelitiannya terkait kesiapan pengembangan industri cloud computing di negaranya.

“ACCA punya indeks yang diberi nama Cloud Readiness Index (CRI), dan Indonesia pada tahun 2020 masih diberikan skor sebesar 55,0. Memang ada kenaikan disbanding skor pada tahun 2018 yang masih 47,0, namun yang perlu dicatat bahwa (skor) negara-negara lain juga berkembang, bahkan lebih cepat dari kita,” kata Direktur Pengaturan Bank Umum Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Eddy Manindo Harahap, belum lama ini.

Eddy menjelaskan bahwa posisi pertama dalam indeks CRI tersebut ditempati oleh Hong Kong dengan skor sebesar 81,9 lalu diikuti Singapura di peringkat kedua dengan skor 81,5 dan Selandia Baru di peringkat tiga dengan skor 77,1. Sementara Indonesia berada di peringkat 12, tertinggal dari negara-negara Asia Tenggara lain, seperti Malaysia yang berada di peringkat delapan dengan skor 68,5, Thailand di peringkat Sembilan dengan skor 60,2 dan Filipina yang tepat berada di atas Indonesia dengan skor 55,3.

“Artinya meskipun ada peningkatan dari tahun 2018, adalah tugas kita semua, mulai dari regulator, pelaku usaha, (industry) industri pendukung, ekosistem cloud computing, semua pihak, untuk dapat bersama-sama bekerjasama mengembangkan industri ini ke depan,” tutur Eddy.

webinar bertajuk Cloud System pada Industri Keuangan Nonbank Sebagai Upaya Digitalisasi dalam
Rangka Pemulihan Ekonomi Nasional yang digelar Warta Ekonomi di Jakarta
Ketertinggalan Indonesia dalam industri cloud computing setidaknya didapat dari dua poin utama yang masih menjadi kelemahan Indonesia. Pertama, kecepatan broadband di Indonesia yang masih berada di kisaran 16,7 mbps, sementara rata-rata kecepatan broadband di 14 negara Asia Pasifik yang masuk dalam penelitian ACCA mencapai 82,4 mbps.

“Selain itu kelemahan kita adalah dari segi regulasi yang dinilai oleh ACCA masih tidak mendukung karena ada banyak kasus regulasi kita yang masih saling tumpang tindih,” ungkap Eddy. (rls/red).

×
Berita Terbaru Update