Ticker

6/recent/ticker-posts

Header Ads Widget

Link Banner

Anggota DPRD Jabar Tia Fitriani Apresiasi Inovasi Pembibitan Kentang Banyu Biru Farm

Anggota DPRD Jabar Hj. Tia Fitriani mengapresiasi inovasi Greenhouse Pembibitan kentang Banyu Biru Farm di Desa Margamukti ( foto:istimewa).

BANDUNG, faktabandungraya.com
,--- Anggota DPRD Provinsi Jawa Barat Tia fitriani apresiasi inovasi Greenhouse Pembibitan kentang Banyu Biru Farm milik petani muda di Desa Margamukti, Kecamatan Pangalengan, Kabupaten Bandung.

Apresiasi diberikan Tia Fitriani lantaran Green House Banyu Biru Farm dikembangkan dengan mengeluarkan modal pribadi dari para petani milenial.

”Tempat pemuliaan bibit-bibit kentang yang luar biasa. Yang dilakukan oleh dan kawan-kawan ini luar biasa luar biasa, karena mereka ini adalah kaum milenial yang tertarik dengan dunia pertanian,” tuturnya saat meninjau lokasi pembibitan Greenhouse Banyu Biru Farm, Sabtu (6/11/2021).

Berkaitan dengan hasil kentang yang diproduksi, dirinya mengungkap harapan dari petani muda tentang regulasi dan kemudahan ekspor.

Sampai sejauh ini mungkin ke depannya pemerintah akan lebih peduli dan memberikan dukungan support langsung terhadap keberadaan para petani yang memang di usia muda yang sudah tertarik dengan sendirinya untuk bertani dengan modal sendiri dan bisa berkembang belajar semakin baik dari hari ke hari ini hasilnya kita tunggu regulasi akan berpihak kepadanya,” katanya.

Sementara, pengelola Banyu Biru Farm, Damar Sakti menjelaskan, ”ketika kita mau tanam ada faktor yang mempengaruhi salah satunya bibit. Maka dari itu kenapa kita harus bikin pembibitan sendiri, ketika mahalnya harga bibit kentang di lapangan itu yang membikin produksi sendiri, maka itulah inovasi kita adanya green house ini," ungkapnya.

Sejauh ini, lanjut Damar, kendala yang dihadapi dalam penangkaran, penanaman, bertani kentang, hingga penjualan itu adalah kebanyakan jadi perizinan- perizinan.

"Kita masih kurang tahu atau misalkan ada abcd nya seperti apa, untuk bisa mendapatkan permodalan ketika kita mengajukan permohonan itu ada salah satunya yang kurang persyaratan nya, akhirnya susah untuk kita mendapatkan pemodalan," keluhnya.

Yang kedua, sambung Damar, adalah sistem informasi dari kabupaten maupun dari provinsi atau dari pusat itu jarang sampai masuk ke kita, kita tahu-tahu udah tutup, gitu jadi kendala terbesar kita ada di sana yaitu masalah informasi juga, terangnya.

Dirinya juga berharap kepada pemerintah agar bisa mencarikan pangsa pasar yang jelas untuk produk-produk pertanian.

"Terutama pada saat panen raya tiba, dan juga kendala tanam kentang salah satunya. Mahalnya harga pestisida dan NPK, dan murahnya harga kentang saat panen,” pungkasnya. (adikraya/Cuy)