![]() |
| UKRI gelar Nonton Bareng Pernyataan PErs Tahunan Menteri Luar Negeri 2026 |
Acara ini diikuti 208 mahasiswa
UKRI dari berbagai fakultas, serta dihadiri undangan dari sejumlah perguruan
tinggi di Bandung, antara lain Universitas Islam Bandung, Telkom University,
Universitas Teknologi Bandung, UIN Sunan Gunung Djati Bandung, Universitas
Informatika, dan Universitas Bisnis Bandung. Kegiatan terbuka untuk umum dan
sivitas akademika ini menjadi ruang belajar langsung mengenai arah kebijakan
luar negeri Indonesia di tengah dinamika global.
Wakil Rektor I UKRI, Dr. Heni
Haryani, S.Pd., M.Hum., dalam sambutannya menyampaikan apresiasi atas kepercayaan
Kemlu RI yang memilih UKRI sebagai mitra akademik. Ia menegaskan bahwa
Pernyataan Pers Tahunan Menlu tidak sekadar laporan kinerja, melainkan refleksi
posisi dan peran Indonesia di tingkat global.
“PPTM ini memotret dinamika
geopolitik dunia, isu perdamaian, hingga kerja sama internasional, yang sangat
penting dipahami oleh mahasiswa sebagai generasi penerus,” ujar Heni.
Menurutnya, kegiatan semacam ini
menjadi sarana pembelajaran strategis karena mahasiswa dapat menyimak langsung
kebijakan luar negeri yang aktual, faktual, dan relevan dengan tantangan
global. Ia juga menegaskan komitmen UKRI untuk terus mendorong kolaborasi
antara pemerintah dan perguruan tinggi.
“Kami berharap kegiatan ini
menumbuhkan wawasan global, kesadaran sebagai warga dunia, serta memperkuat
nilai-nilai kebangsaan dalam diplomasi damai,” katanya sebelum secara resmi
membuka acara.
Dunia dalam “Survival Mode” dan
Diplomasi Ketahanan
Sesi Bincang Polugri menghadirkan
Duta Besar Adam M. Tugio, Anggota Governing Council Indonesia ASEAN Institute
for Peace and Reconciliation (AIPR), sebagai narasumber utama. Diskusi
dimoderatori oleh Wakil Rektor UKRI Suhaeri, S.Sos., M.I.Kom., dengan penanggap
Dr. Muh. Resa Yudianto Suldani, S.S., M.A., dosen Ilmu Komunikasi UKRI.
Dalam pemaparannya, Dubes Adam
menyoroti analisis Kemlu RI yang menyebut dunia saat ini memasuki fase
“survival mode”, ditandai melemahnya hukum internasional, meningkatnya
penggunaan hard power, serta ketertinggalan institusi global. Kondisi ini
menciptakan ruang abu-abu antara perdamaian dan konflik terbuka.
Ia menegaskan bahwa politik luar
negeri Indonesia kini bergeser dari sekadar positioning menjadi instrumen
strategis untuk membangun ketahanan nasional, dengan prinsip foreign policy
begins at home dan pendekatan dynamic resilience yang adaptif dan antisipatif.
Capaian Diplomasi dan Tantangan
Komunikasi Publik
![]() |
| Usai nonton bareng foto bersama |
Menanggapi hal tersebut, Dr. Resa
Yudianto menekankan pentingnya penguatan SDM, struktur, dan kelembagaan
komunikasi agar capaian diplomasi dapat tersampaikan ke publik secara lebih
cepat, efektif, dan berdampak.
Mahasiswa Antusias, Dua Wakil
Diundang ke Kemlu
Antusiasme mahasiswa terlihat
dalam sesi tanya jawab yang menyoroti isu stabilitas kawasan, sentralitas
ASEAN, keterlibatan Indonesia di kawasan Pasifik, hingga reformasi Perserikatan
Bangsa-Bangsa (PBB). Mahasiswa menilai keaktifan Indonesia di forum
multilateral sebagai strategi memperkuat posisi Global South.
Kejutan istimewa hadir ketika
Dubes Adam mengumumkan bahwa dua mahasiswa peserta akan diundang berkunjung ke
Kantor Kementerian Luar Negeri di Pejambon untuk mengikuti sesi pertemuan
khusus dengan Menteri Luar Negeri RI. Mekanisme pemilihan mahasiswa akan
ditentukan oleh pihak universitas atau panitia.
Acara ditutup dengan kuis interaktif
dan berlangsung dinamis. Secara keseluruhan, kegiatan ini menjadi ruang
strategis diseminasi kebijakan luar negeri sekaligus menegaskan bahwa diplomasi
merupakan bagian penting dari ketahanan nasional dan masa depan generasi muda
Indonesia. (*/red).

