![]() |
| Wali kota Bandung Farhan mennjau tempat pengalahan sampah menjadi barang berguna |
Melalui program Gaslah (Petugas
Pemilah dan Pengolah Sampah) yang digencarkan Wali Kota Bandung, Muhammad
Farhan, dukungan masyarakat terus mengalir dari berbagai wilayah.
Salah seorang warga Cisaranten
Kulon, Andika menilai, program Gaslah menjadi langkah konkret dan tepat sasaran
di tengah kondisi Kota Bandung yang masih waspada terhadap potensi penumpukan
sampah.
“Secara prinsip kami warga
Cisaranten Kulon sangat mendukung program ini. Kita semua tahu saat ini Kota
Bandung sedang waspada terkait penumpukan sampah. Dengan adanya Gaslah, kami
paham bahwa program ini untuk mengurangi penumpukan sampah yang diawali dari
sumbernya, terutama sampah rumah tangga,” kata Andika.
Menurutnya, persoalan utama di
lingkungannya adalah masih banyaknya sampah organik yang tercampur dengan jenis
sampah lainnya.
Kehadiran petugas Gaslah yang
membantu dan mengajarkan memilah dan mengolah sampah, khususnya sampah organik,
dinilai sangat membantu warga dalam membangun kebiasaan baru.
“Dengan adanya petugas yang
langsung membantu memilah dan mengolah sampah, terutama organik, insyaallah
kami akan mendukung penuh agar program ini berjalan lancar,” ujarnya.
Dukungan serupa disampaikan Hikmat
Mulyana, warga Pasirkaliki, Kecamatan Cicendo. Ia menyampaikan apresiasi kepada
Pemkot Bandung atas peluncuran dan penguatan program Gaslah dalam satu tahun
Bandung Utama.
“Saya mengucapkan terima kasih
sebesar-besarnya kepada Pemerintah Kota Bandung yang telah meluncurkan program
Gaslah. Petugas Gaslah memberikan edukasi kepada masyarakat untuk memilah
sampah sehingga bisa mengatasi permasalahan sampah di tingkat rumah tangga,”
ujar Hikmat.
Tempat pengolahan sampah
Program Gaslah menjadi salah satu
strategi kunci Pemkot Bandung dalam membangun sistem pengelolaan sampah
berbasis sumber. Tidak hanya fokus pada pengangkutan, tetapi juga pada edukasi,
pendampingan dan pengolahan langsung di tingkat kewilayahan.
Dalam satu tahun Bandung Utama,
penguatan sumber daya manusia melalui penempatan petugas di tingkat RW menjadi
bukti bahwa penanganan sampah tidak lagi bersifat reaktif, melainkan preventif
dan partisipatif.
