Notification

×

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

Pemkot Bandung Siapkan Tiga Langkah Strategis Atasi Kemacetan

Minggu, 22 Februari 2026 | 23:27 WIB Last Updated 2026-02-22T16:27:46Z
Klik
Infrastruktur jalan di Kota Bandung


BANDUNG, FAKTABANDUNGRAYA,--- Pemerintah Kota (Pemkot) Bandung menyiapkan tiga langkah strategis untuk mengatasi persoalan kemacetan yang selama ini menjadi keluhan utama warga dan menjadi tantangan serius bagi sektor pariwisata serta pertumbuhan ekonomi daerah.

Hal tersebut disampaikan Wali Kota Bandung, Muhammad Farhan, dalam wawancara khusus program “Berita Satu Spesial” B-Tv bertema Satu Tahun Kepala Daerah, Sinergi Pusat & Daerah, Jumat (20/2/2026).

Farhan mengakui, Kota Bandung memiliki potensi besar sebagai destinasi wisata unggulan. Namun, persoalan klasik seperti sampah dan kemacetan masih menjadi pekerjaan rumah yang berdampak langsung terhadap mobilitas warga maupun kenyamanan wisatawan.

“Ada tiga hal yang akan dilakukan untuk menghadapi kemacetan ini,” ujarnya.

Penguatan Infrastruktur Jalan

Langkah pertama, Pemkot Bandung akan meningkatkan kapasitas dan kualitas infrastruktur jalan. Upaya ini dilakukan melalui kolaborasi dengan pemerintah pusat dan pemerintah provinsi.

Farhan menjelaskan, pemerintah pusat telah merampungkan dua jalan layang utama di Kota Bandung. Meski demikian, kebutuhan infrastruktur dinilai masih besar. Setidaknya diperlukan enam flyover tambahan di lintasan kereta api serta tiga jembatan konektivitas di sekitar Stasiun KCIC Tegaluar dan kawasan Gedebage.

Selain pembangunan fisik, peningkatan kualitas penerangan jalan umum (PJU) juga menjadi perhatian, terutama di kawasan Jalan Soekarno-Hatta wilayah timur yang hingga kini masih menjadi salah satu titik kemacetan krusial.

Optimalisasi ATCS Berbasis AI

Pembangunan infrastruktur jalan

 
Langkah kedua adalah penerapan teknologi berbasis kecerdasan buatan melalui sistem Automatic Traffic Control System (ATCS). Sistem ini dirancang untuk mengatur lalu lintas secara lebih adaptif dan efisien melalui pengendalian lampu lalu lintas berbasis data.

Menurut Farhan, implementasi ATCS bukan perkara sederhana karena membutuhkan perencanaan matang serta koordinasi lintas pemerintahan.

“Pengadaannya harus betul-betul direncanakan dengan sangat baik karena melibatkan tiga organisasi besar, pemerintah pusat, pemerintah provinsi, dan pemerintah kota,” jelasnya.

Penguatan Transportasi Massal

Langkah ketiga sekaligus menjadi prioritas jangka panjang adalah penguatan transportasi massal. Pemkot Bandung bersama Kementerian Perhubungan dan dukungan World Bank tengah mendorong dua program utama, yakni pengembangan Bus Rapid Transit (BRT) dan studi kelayakan Light Rail Transit (LRT).

BRT dirancang melayani koridor timur–barat, sementara LRT akan menghubungkan jalur utara–selatan. Skema ini diharapkan menjadi tulang punggung sistem transportasi massal Kota Bandung di masa depan.

Meski demikian, Farhan menegaskan revitalisasi angkutan kota (angkot) tetap menjadi bagian penting dalam sistem baru tersebut. Angkot diharapkan bertransformasi menjadi moda pengumpan (feeder) bagi BRT dan LRT sehingga tercipta sistem transportasi yang terintegrasi.

Ia juga menyoroti bahwa trayek angkutan umum di Bandung belum mengalami perubahan sejak 1984. Kondisi tersebut, ditambah rendahnya kualitas armada, membuat masyarakat semakin bergantung pada kendaraan pribadi.

“Terus terang sekarang ini kualitas kendaraan umum dan transportasi umum di Kota Bandung sangat tidak layak,” ungkapnya.

Farhan menekankan, sinergi antara pemerintah pusat, provinsi, dan kota menjadi kunci percepatan realisasi berbagai program tersebut. Pembenahan transportasi, lanjutnya, bukan hanya bertujuan mengurai kemacetan, tetapi juga untuk mendorong pertumbuhan ekonomi dan meningkatkan daya saing pariwisata Kota Bandung ke depan. (Rob/sein).

×
Berita Terbaru Update