![]() |
| Peringatan Hari Pendidikan Nasional seorang siswa memberi hormat kepada presiden BJ Habibi (ilustrasi) |
Kemudahan memperoleh informasi
melalui internet membuat siswa kini lebih mandiri dalam belajar. Dalam konteks
ini, peran guru bergeser menjadi sosok yang membantu menyaring informasi,
mengarahkan proses belajar, serta memastikan siswa memahami materi secara tepat
dan kritis.
Selain sebagai fasilitator,
Generasi Z juga menilai pentingnya peran guru dalam membangun hubungan yang
komunikatif dan personal. Guru yang ramah, empatik, serta mampu memahami
karakter siswa dinilai lebih efektif dalam menciptakan suasana belajar yang
nyaman dan kondusif.
Biqi, mahasiswa Universitas
Pasundan, mengungkapkan bahwa pesan moral dari guru justru menjadi hal yang
paling membekas dalam proses pendidikannya. Ia mengingat nasihat tentang
pentingnya kejujuran dan kedisiplinan sebagai bekal kehidupan.
“Saya paling ingat pesan guru untuk
selalu jujur dan disiplin. Itu yang membentuk saya sampai sekarang,” ujarnya.
Hal serupa disampaikan Bunga,
mahasiswa salah satu perguruan tinggi swasta di Bandung. Ia mengaku
terinspirasi oleh pesan gurunya yang mendorongnya untuk terus berkembang tanpa
harus membandingkan diri dengan orang lain.
“Kamu tidak harus jadi yang
terbaik, tapi jadilah lebih baik dari kemarin. Itu yang selalu saya ingat,”
kata Bunga.
Menurutnya, nasihat tersebut
menjadi motivasi untuk membangun kepercayaan diri dan menghindari rasa tidak
aman dalam menjalani kehidupan akademik maupun sosial.
Perubahan persepsi ini menunjukkan
bahwa peran guru di era digital semakin kompleks. Tidak hanya mentransfer ilmu,
guru juga dituntut menjadi mitra belajar yang adaptif, komunikatif, dan mampu
menginspirasi siswa.
Transformasi ini menjadi tantangan
sekaligus peluang bagi dunia pendidikan untuk terus berinovasi dalam
menciptakan sistem pembelajaran yang relevan dengan kebutuhan zaman, serta
mampu melahirkan generasi yang unggul dan berdaya saing tinggi. (zza/red).
