Sekretaris Jenderal Kemnaker, Cris
Kuntadi, menegaskan kerja sama tersebut merupakan tindak lanjut dari
kesepahaman yang telah dibangun sejak 2025 untuk mempercepat peningkatan
kompetensi SDM di bidang teknologi informasi dan komunikasi.
“Pendidikan vokasi tidak boleh
berhenti di ruang kelas. Mahasiswa harus mampu mempraktikkan ilmu, memahami
kebutuhan industri, dan siap beradaptasi dengan perkembangan teknologi.
Kemitraan dengan Huawei menjadi salah satu langkah nyata untuk mewujudkan hal
tersebut,” ujar Cris.
Melalui kerja sama ini, Kemnaker
dan Huawei akan bersinergi dalam penyelarasan kurikulum, menghadirkan praktisi
industri sebagai dosen tamu, memperluas akses pelatihan berbasis teknologi,
menyediakan program magang, hingga membuka peluang campus hiring bagi mahasiswa
Polteknaker.
Program Training to Trainer dari
Huawei ICT Academy juga akan dimanfaatkan untuk memperkuat kapasitas dosen agar
mampu mentransfer kompetensi digital terkini kepada mahasiswa. Upaya ini
diharapkan memberikan manfaat bagi seluruh program studi, mulai dari
Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3), Relasi Industri, hingga Manajemen Sumber
Daya Manusia.
Kemnaker menilai investasi pada
pengembangan manusia merupakan kunci utama meningkatkan daya saing bangsa.
Melalui kolaborasi dengan dunia industri, lulusan pendidikan vokasi diharapkan
tidak hanya siap memasuki pasar kerja, tetapi juga memiliki kesempatan
berkembang, bekerja secara bermartabat, dan mampu menjawab tantangan
transformasi digital menuju Indonesia Emas 2045. (*/red).
