![]() |
| Menaker Yassierli |
Forum tahunan yang diselenggarakan
Organisasi Perburuhan Internasional (ILO) itu menjadi ruang strategis bagi
pemerintah, pekerja, dan pengusaha dari berbagai negara untuk membahas arah
masa depan dunia kerja di tengah tantangan digitalisasi, transformasi ekonomi,
dan perubahan pasar tenaga kerja global.
Menaker Yassierli menegaskan,
kehadiran Indonesia dalam ILC ke-114 merupakan bagian dari upaya memastikan
transformasi dunia kerja berjalan seimbang antara perlindungan pekerja, keberlangsungan
usaha, dan penciptaan kesempatan kerja.
"Indonesia hadir untuk membawa
suara ketenagakerjaan nasional. Perubahan dunia kerja harus kita kelola agar
pekerja tetap terlindungi, kesempatan kerja semakin terbuka, dunia usaha tetap
berjalan, dan investasi tetap terjaga," ujar Yassierli, Minggu (7/6/2026).
Menurutnya, berbagai isu yang
dibahas dalam konferensi tersebut memiliki keterkaitan langsung dengan
kehidupan jutaan pekerja dan pelaku usaha, mulai dari perlindungan pekerja
perempuan, hak-hak pekerja platform digital, penguatan hubungan industrial,
hingga strategi menjaga keberlangsungan usaha sebagai sumber utama penciptaan
lapangan kerja.
Tahun ini, ILC mengangkat tema
“Navigating Change Through Inclusive Social Dialogue” atau mengelola perubahan
melalui dialog sosial yang inklusif. Tema tersebut menekankan pentingnya
komunikasi yang terbuka dan konstruktif antara pemerintah, pekerja, dan
pengusaha dalam menghadapi perubahan dunia kerja yang semakin dinamis.
Bagi Indonesia, pendekatan dialog
sosial dinilai menjadi fondasi penting dalam menjawab berbagai tantangan
ketenagakerjaan, termasuk perkembangan ekonomi digital, meningkatnya pekerjaan
berbasis platform, serta tekanan ekonomi global yang memengaruhi pasar tenaga
kerja.
"Dalam situasi global yang
penuh tantangan, dialog sosial menjadi kunci. Pekerja, pengusaha, dan
pemerintah harus terus membangun komunikasi yang konstruktif agar hubungan
industrial tetap kondusif dan keberlangsungan usaha tetap terjaga," kata
Yassierli.
Dalam forum tersebut, Indonesia
akan memberikan perhatian khusus terhadap sejumlah agenda strategis, antara
lain penguatan perlindungan pekerja platform digital, peningkatan kesetaraan
gender dan perlindungan pekerja perempuan, penguatan mekanisme dialog sosial
tripartit, serta dukungan terhadap peningkatan partisipasi Palestina dalam
forum ILO.
Selain menyampaikan Pernyataan
Nasional Indonesia pada Sidang Pleno ILC, Menaker juga dijadwalkan menghadiri
pertemuan Menteri Ketenagakerjaan kawasan Asia Pasifik atau Asia Pacific Group
(ASPAG) Labour Ministers' Meeting.
Salah satu agenda penting lainnya
adalah penyerahan instrumen asli ratifikasi Konvensi ILO Nomor 188 tentang
Pekerjaan dalam Sektor Penangkapan Ikan kepada Direktur Jenderal ILO. Langkah
ini menjadi penegasan komitmen Indonesia dalam memperkuat perlindungan dan
kesejahteraan pekerja, khususnya di sektor perikanan yang selama ini menjadi
salah satu sektor strategis nasional.
Kepala Biro Kerja Sama Kementerian
Ketenagakerjaan, M. Arif Hidayat, mengatakan partisipasi aktif Indonesia dalam
ILC menunjukkan keseriusan pemerintah untuk terus terlibat dalam penyusunan
kebijakan ketenagakerjaan global yang berdampak langsung terhadap dunia kerja
nasional.
Melalui keikutsertaan dalam ILC
ke-114, Indonesia tidak hanya membawa kepentingan nasional ke panggung
internasional, tetapi juga memperkuat posisinya sebagai negara yang aktif
mendorong terciptanya dunia kerja yang adil, inklusif, produktif, dan
berkelanjutan bagi seluruh pekerja. (*/red).
