![]() |
| Sekretaris Komisi I DPRD Kota Bandung Susanto Triyogo Adiputro, (foto:humpro) |
Pertanyaan
tersebut menjadi semakin relevan ketika Indonesia sedang menikmati bonus
demografi. Saat ini lebih dari 64 persen penduduk Indonesia berada pada usia
produktif. Ini adalah peluang besar yang tidak dimiliki setiap bangsa. Namun,
sejarah mengajarkan bahwa jumlah penduduk usia produktif yang besar tidak
otomatis menghadirkan kemajuan. Banyak negara gagal mengubah bonus demografi
menjadi bonus kesejahteraan karena kehilangan arah pembangunan dan krisis
kepemimpinan.
Pancasila
bukan sekadar warisan sejarah yang disimpan dalam buku pelajaran. Pancasila
adalah kompas moral yang menjaga arah perjalanan bangsa. Ia hadir untuk
memastikan bahwa kemajuan ekonomi tidak menghilangkan kemanusiaan, bahwa
demokrasi tidak kehilangan hikmah, dan bahwa pembangunan tidak meninggalkan
keadilan sosial.
Bagi
generasi muda, tantangan hari ini jauh berbeda dibanding generasi pendiri
bangsa. Jika dahulu ancaman datang dari penjajahan fisik, kini ancaman hadir
dalam bentuk yang lebih kompleks: krisis identitas, polarisasi sosial, budaya
instan, penyebaran hoaks, hingga melemahnya semangat gotong royong. Ruang
digital yang seharusnya menjadi sarana memperkuat persatuan sering kali justru
menjadi arena pertentangan yang menguras energi kebangsaan.
Karena
itu, membaca ulang Pancasila menjadi sebuah keniscayaan.
Pancasila
harus dipahami bukan hanya sebagai dokumen politik, tetapi juga sebagai panduan
peradaban. Sila Ketuhanan Yang Maha Esa mengajarkan pentingnya moralitas dalam
kehidupan publik. Sila Kemanusiaan mengingatkan bahwa kemajuan harus berpihak
pada martabat manusia. Sila Persatuan Indonesia menjadi fondasi dalam merawat
kebhinekaan. Sila Kerakyatan memberikan arah bagi demokrasi yang berkeadaban.
Dan sila Keadilan Sosial menegaskan bahwa tujuan akhir pembangunan adalah
kesejahteraan seluruh rakyat.
Dalam
konteks politik kekinian, setidaknya ada tiga ujian besar yang sedang dihadapi
bangsa Indonesia.
Pertama,
menjaga identitas kebangsaan di tengah derasnya pengaruh global. Kedua,
memperkuat demokrasi agar tidak terjebak pada sekadar prosedur elektoral.
Ketiga, mewujudkan keadilan sosial yang dirasakan oleh seluruh lapisan
masyarakat.
Ketiga
agenda tersebut sesungguhnya adalah pengejawantahan nilai-nilai Pancasila dalam
kehidupan berbangsa dan bernegara.
Momentum
ini menjadi semakin penting karena Indonesia sedang bergerak menuju dua tonggak
sejarah besar: 100 tahun Sumpah Pemuda pada 2028 dan Indonesia Emas 2045.
Seratus
tahun yang lalu, para pemuda Nusantara mampu melampaui sekat-sekat kedaerahan
demi menghadirkan cita-cita bersama bernama Indonesia. Hari ini, semangat yang
sama perlu dihadirkan kembali dalam konteks yang berbeda. Jika dahulu arena
perjuangan berada di ruang-ruang pergerakan, kini perjuangan juga berlangsung di
ruang digital yang membentuk cara berpikir dan cara hidup generasi muda.
Menjelang
satu abad Sumpah Pemuda, sudah saatnya lahir kesadaran baru bahwa media sosial
bukan hanya ruang ekspresi, tetapi juga ruang kebangsaan. Setiap unggahan,
komentar, dan percakapan digital sesungguhnya ikut menentukan kualitas
persatuan bangsa.
Di sisi
lain, perjalanan menuju Indonesia Emas 2045 membutuhkan generasi muda yang
tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga kokoh dalam karakter. Bonus
demografi hanya akan menjadi berkah apabila disertai kualitas sumber daya
manusia yang unggul. Karena itu, generasi muda perlu membangun empat modal
utama: intelektualitas, integritas, kapasitas sosial, dan kepemimpinan.
Ke depan,
tantangan bangsa tidak semakin ringan. Oligarki ekonomi, korupsi, polarisasi
politik, disinformasi digital, dan krisis iklim merupakan persoalan nyata yang
membutuhkan keterlibatan aktif generasi muda. Tidak cukup hanya menjadi
penonton atau pengkritik. Kaum muda harus hadir sebagai bagian dari solusi
melalui jalur politik, gerakan sosial, maupun kerja-kerja kebudayaan.
Pancasila
telah memberikan arah. Sumpah Pemuda telah memberikan teladan. Kini giliran
generasi muda Indonesia mengambil peran sejarahnya.
Hari Lahir
Pancasila hendaknya tidak berhenti pada seremoni dan slogan. Peringatan ini
harus menjadi momentum membangkitkan kesadaran bahwa masa depan Indonesia tidak
ditentukan oleh keadaan, melainkan oleh kualitas generasi yang mengisinya.
Dua tahun
menuju 100 tahun Sumpah Pemuda dan kurang dari dua dekade menuju Indonesia Emas
2045. Waktu terus berjalan. Sejarah sedang menunggu kontribusi terbaik
anak-anak bangsa.
Pancasila harus tetap menjadi kompas yang menuntun langkah kita, agar Indonesia tidak hanya menjadi negara yang maju, tetapi juga bangsa yang bermartabat, berkeadilan, dan dirahmati Allah SWT. (***).
Penulis : Oleh: Sekretaris Komisi I DPRD Kota Bandung (foto : humpro). Susanto Triyogo Adiputro, Anggota DPRD Kota Bandung, Anggota DPRD Kota Bandung
