Notification

×

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

Pancasila sebagai Kompas Kaum Muda Menuju Kejayaan Indonesia

Jumat, 19 Juni 2026 | 19:21 WIB Last Updated 2026-06-19T12:21:49Z
Klik
Sekretaris Komisi I DPRD Kota Bandung  Susanto Triyogo Adiputro, (foto:humpro)


 

DITENGAH derasnya arus globalisasi, revolusi teknologi, dan perubahan sosial yang berlangsung sangat cepat, bangsa Indonesia kembali memperingati Hari Lahir Pancasila. Peringatan ini bukan sekadar mengenang sebuah rumusan dasar negara yang lahir pada 1 Juni 1945. Lebih dari itu, momentum ini mengajak kita bertanya: masihkah Pancasila menjadi pedoman hidup bangsa, terutama bagi generasi muda yang akan menentukan wajah Indonesia di masa depan?

Pertanyaan tersebut menjadi semakin relevan ketika Indonesia sedang menikmati bonus demografi. Saat ini lebih dari 64 persen penduduk Indonesia berada pada usia produktif. Ini adalah peluang besar yang tidak dimiliki setiap bangsa. Namun, sejarah mengajarkan bahwa jumlah penduduk usia produktif yang besar tidak otomatis menghadirkan kemajuan. Banyak negara gagal mengubah bonus demografi menjadi bonus kesejahteraan karena kehilangan arah pembangunan dan krisis kepemimpinan.

Pancasila bukan sekadar warisan sejarah yang disimpan dalam buku pelajaran. Pancasila adalah kompas moral yang menjaga arah perjalanan bangsa. Ia hadir untuk memastikan bahwa kemajuan ekonomi tidak menghilangkan kemanusiaan, bahwa demokrasi tidak kehilangan hikmah, dan bahwa pembangunan tidak meninggalkan keadilan sosial.

Bagi generasi muda, tantangan hari ini jauh berbeda dibanding generasi pendiri bangsa. Jika dahulu ancaman datang dari penjajahan fisik, kini ancaman hadir dalam bentuk yang lebih kompleks: krisis identitas, polarisasi sosial, budaya instan, penyebaran hoaks, hingga melemahnya semangat gotong royong. Ruang digital yang seharusnya menjadi sarana memperkuat persatuan sering kali justru menjadi arena pertentangan yang menguras energi kebangsaan.

Karena itu, membaca ulang Pancasila menjadi sebuah keniscayaan.

Pancasila harus dipahami bukan hanya sebagai dokumen politik, tetapi juga sebagai panduan peradaban. Sila Ketuhanan Yang Maha Esa mengajarkan pentingnya moralitas dalam kehidupan publik. Sila Kemanusiaan mengingatkan bahwa kemajuan harus berpihak pada martabat manusia. Sila Persatuan Indonesia menjadi fondasi dalam merawat kebhinekaan. Sila Kerakyatan memberikan arah bagi demokrasi yang berkeadaban. Dan sila Keadilan Sosial menegaskan bahwa tujuan akhir pembangunan adalah kesejahteraan seluruh rakyat.

Dalam konteks politik kekinian, setidaknya ada tiga ujian besar yang sedang dihadapi bangsa Indonesia.

Pertama, menjaga identitas kebangsaan di tengah derasnya pengaruh global. Kedua, memperkuat demokrasi agar tidak terjebak pada sekadar prosedur elektoral. Ketiga, mewujudkan keadilan sosial yang dirasakan oleh seluruh lapisan masyarakat.

Ketiga agenda tersebut sesungguhnya adalah pengejawantahan nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Momentum ini menjadi semakin penting karena Indonesia sedang bergerak menuju dua tonggak sejarah besar: 100 tahun Sumpah Pemuda pada 2028 dan Indonesia Emas 2045.

Seratus tahun yang lalu, para pemuda Nusantara mampu melampaui sekat-sekat kedaerahan demi menghadirkan cita-cita bersama bernama Indonesia. Hari ini, semangat yang sama perlu dihadirkan kembali dalam konteks yang berbeda. Jika dahulu arena perjuangan berada di ruang-ruang pergerakan, kini perjuangan juga berlangsung di ruang digital yang membentuk cara berpikir dan cara hidup generasi muda.

Menjelang satu abad Sumpah Pemuda, sudah saatnya lahir kesadaran baru bahwa media sosial bukan hanya ruang ekspresi, tetapi juga ruang kebangsaan. Setiap unggahan, komentar, dan percakapan digital sesungguhnya ikut menentukan kualitas persatuan bangsa.

Di sisi lain, perjalanan menuju Indonesia Emas 2045 membutuhkan generasi muda yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga kokoh dalam karakter. Bonus demografi hanya akan menjadi berkah apabila disertai kualitas sumber daya manusia yang unggul. Karena itu, generasi muda perlu membangun empat modal utama: intelektualitas, integritas, kapasitas sosial, dan kepemimpinan.

Ke depan, tantangan bangsa tidak semakin ringan. Oligarki ekonomi, korupsi, polarisasi politik, disinformasi digital, dan krisis iklim merupakan persoalan nyata yang membutuhkan keterlibatan aktif generasi muda. Tidak cukup hanya menjadi penonton atau pengkritik. Kaum muda harus hadir sebagai bagian dari solusi melalui jalur politik, gerakan sosial, maupun kerja-kerja kebudayaan.

Pancasila telah memberikan arah. Sumpah Pemuda telah memberikan teladan. Kini giliran generasi muda Indonesia mengambil peran sejarahnya.

Hari Lahir Pancasila hendaknya tidak berhenti pada seremoni dan slogan. Peringatan ini harus menjadi momentum membangkitkan kesadaran bahwa masa depan Indonesia tidak ditentukan oleh keadaan, melainkan oleh kualitas generasi yang mengisinya.

Dua tahun menuju 100 tahun Sumpah Pemuda dan kurang dari dua dekade menuju Indonesia Emas 2045. Waktu terus berjalan. Sejarah sedang menunggu kontribusi terbaik anak-anak bangsa.

Pancasila harus tetap menjadi kompas yang menuntun langkah kita, agar Indonesia tidak hanya menjadi negara yang maju, tetapi juga bangsa yang bermartabat, berkeadilan, dan dirahmati Allah SWT. (***).

Penulis :  Oleh:  Sekretaris Komisi I DPRD Kota Bandung (foto : humpro). Susanto Triyogo Adiputro, Anggota DPRD Kota Bandung, Anggota DPRD Kota Bandung


×
Berita Terbaru Update