![]() |
| Wali kota Bandung M.Farhan meresmikan Kampung Siaga Bencana Coblong |
Dalam kesempatan tersebut, Farhan
menegaskan kesiapsiagaan bencana tidak boleh dipahami hanya sebagai urusan
teknis, tetapi harus menjadi budaya yang melekat dalam kehidupan masyarakat.
Menurutnya, warga perlu terbiasa mengenali titik evakuasi, memahami prosedur
penyelamatan, serta saling membantu ketika bencana terjadi.
"Kesiapsiagaan harus menjadi kebiasaan masyarakat. Semangat gotong royong adalah kekuatan utama agar warga mampu menghadapi bencana secara bersama-sama," ujar Farhan.
Ia mengingatkan, Kota Bandung
memiliki tingkat kerawanan bencana yang cukup tinggi karena berada di kawasan
yang dipengaruhi aktivitas Sesar Lembang. Sebagai ibu kota Provinsi Jawa Barat,
dampak bencana di Bandung juga berpotensi memengaruhi wilayah yang lebih luas
sehingga kesiapsiagaan harus dibangun sejak dini.
Sementara itu, Kepala Dinas Sosial
Kota Bandung Yorisa Sativa mengatakan, pembentukan Kampung Siaga Bencana
merupakan bagian dari upaya mitigasi berbasis masyarakat. Saat ini, Kota
Bandung telah memiliki lima Kampung Siaga Bencana yang berada di Kecamatan Mandalajati,
Ujungberung, Cidadap, Sukasari, dan Coblong.
Setiap KSB dilengkapi Gardu Sosial
sebagai pusat koordinasi, Lumbung Sosial untuk penyimpanan logistik, serta
didukung personel Taruna Siaga Bencana (Tagana) dan berbagai sarana pendukung
penanggulangan bencana.
Dengan bertambahnya Kampung Siaga
Bencana di Kecamatan Coblong, Pemkot Bandung berharap kolaborasi antara
pemerintah dan masyarakat semakin kuat sehingga risiko bencana dapat ditekan,
sekaligus membangun budaya tangguh bencana di tengah kehidupan warga.
(ray/red).
Warga Coblong dilatih Kesiapsiagaan Bencana

