![]() |
| Anggota Komisi I DPRD Kota Bandung Ahmad Rahmat Purnama meminta Dinsos melakukan evaluasi berkala terhadap program pengentasan kemiskinan |
Hal tersebut
mengemuka dalam podcast YouTube “Ahmad Aja” yang menghadirkan Kepala Dinas
Sosial Kota Bandung dr. Yorisa Sativa di Kantor Sinergi Indonesia Kota Bandung,
Selasa (26/5/2026).
Yorisa
mengungkapkan, Dinsos masih menemukan kelompok penerima manfaat yang menerima
bansos secara terus-menerus. Bahkan, terdapat warga yang telah menerima PKH,
bantuan sembako, maupun BLT selama delapan tahun.
“Ada warga Kota
Bandung yang sudah delapan tahun menerima bansos, baik itu PKH, Sembako, maupun
Bantuan Langsung Tunai (BLT),” ujar Yorisa.
Menanggapi kondisi
tersebut, Anggota Komisi I DPRD Kota Bandung Ahmad Rahmat Purnama meminta
Dinsos melakukan evaluasi berkala terhadap program pengentasan kemiskinan.
Menurutnya, bansos harus menjadi jembatan menuju kemandirian, bukan membuat
masyarakat terus bergantung pada bantuan.
“Kita dorong
Dinsos untuk melakukan evaluasi secara berkala agar program pengentasan
kemiskinan tidak menciptakan masyarakat yang ketergantungan pada bansos, namun
menciptakan kemandirian ekonomi,” kata Ahmad.
Yorisa menilai
perubahan paradigma menjadi penting. Bansos seharusnya tidak berhenti pada
pemberian bantuan langsung, tetapi dilanjutkan dengan modal usaha, pelatihan
keterampilan, dan stimulus ekonomi.
Konsep tersebut
sejalan dengan slogan “Bansos Sementara, Berdaya Selamanya”. Menurut Yorisa,
pendekatannya bukan hanya memberikan “ikan”, tetapi juga “umpan dan kail” agar
penerima manfaat memiliki kemampuan untuk mandiri secara finansial.
Di sisi lain,
persoalan ketepatan data penerima bansos juga menjadi sorotan. Ahmad
mengungkapkan adanya keluhan warga yang sebelumnya masuk kategori miskin atau
desil 1–5, tetapi dalam pembaruan data justru bergeser ke desil 6–10.
Yorisa
menjelaskan, perubahan tersebut dapat terjadi akibat pembaruan data secara
berkala oleh Pusat Data dan Informasi (Pusdatin) bersama BPS. Padahal, kondisi
ekonomi warga dapat berubah cepat akibat PHK, bencana, atau kehilangan tulang
punggung keluarga.
Untuk
mengantisipasi persoalan tersebut, Dinsos Kota Bandung menyiagakan petugas Kasi
Kesejahteraan Sosial dan operator SIKS-NG di 151 kelurahan dan 30 kecamatan.
“Warga yang merasa
datanya tidak sesuai tinggal datang ke kelurahan dengan membawa NIK. Petugas
akan mengecek posisi desilnya. Jika ada sanggahan, kami dapat mengusulkan
reaktivasi untuk dilakukan ground check atau survei ulang di lapangan,” jelas
Yorisa.
Yorisa juga
menilai keterbatasan anggaran pemerintah perlu diimbangi dengan penguatan
kemitraan. Saat ini terdapat sekitar 90 Lembaga Kesejahteraan Sosial atau
kelompok donor/muzaki di Kota Bandung yang berpotensi dilibatkan dalam program
pengentasan kemiskinan.
Menurutnya, jika
bantuan pemerintah dan sumber daya masyarakat dapat dipadukan dengan data yang
akurat, bansos tidak hanya menjadi solusi jangka pendek, tetapi dapat menjadi
pintu masuk menuju pemberdayaan dan kemandirian ekonomi warga. (*/red).
