![]() |
| Warga Cicadas siap menyambut wisatawan masuk ke "Desa Hantu" |
Masuk tahun ketiga
penyelenggaraannya, wahana kreatif ini terbukti efektif menggeliatkan roda
ekonomi lokal, khususnya bagi para pelaku UMKM setempat.
Berawal dari gagasan sederhana para pemuda Karang Taruna pada 2024 untuk menggalang dana perayaan Agustusan, konsep yang semula hanya "rumah hantu" biasa kini menjelma menjadi sensasi wisata berbasis komunitas.
"Awalnya cuma kumpul cari dana Agustusan. Karena konsep rumah hantu sudah pasaran, kami buat sekalian 'Desa Hantu' yang melibatkan satu kawasan warga. Dari yang dulu cuma satu gang, sekarang berkembang jadi tiga gang, dan UMKM yang terlibat makin banyak," ujar Ketua Panitia Desa Hantu 2026, Adi.
Cukup merogoh kocek Rp3.000,
pengunjung dari dalam dan luar Kota Bandung sudah bisa menguji nyali menyusuri
lorong-lorong pemukiman berbalut nuansa horor pedesaan.
Dampak Ekonomi Nyata bagi Warga
Inovasi akar rumput ini menuai
pujian dari Camat Cibeunying Kidul, Moch Edi Purwadi. Ia mengapresiasi
keberhasilan pemuda dalam memadukan seni hiburan rakyat dengan pemberdayaan
ekonomi.
Ketua RT 05, Aang, membeberkan
bahwa pergerakan pengunjung mencapai 400 hingga 500 orang per hari. Lonjakan
ini membawa berkah tersendiri bagi lapak-lapak dagangan warga. Bahkan, potensi
Desa Hantu mulai dilirik berbagai pihak.
![]() |
| Menikmati kuliner "Desa Hantu" |
Dukungan Positif: Telah menarik perhatian anggota
DPRD setempat.
Peluang Kolaborasi: Buka potensi kerja sama dengan
destinasi budaya kenamaan, Saung Angklung Udjo.
Ketua RW 06, Ramli, berharap
panggung kreativitas ini dapat terus diregenerasikan ke generasi muda
mendatang, membuktikan bahwa gang padat perkotaan pun mampu melahirkan ikon
wisata unik yang mandiri dan berdaya saing. (*/red).

.jpeg)
.jpeg)
