Notification

×

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

Bedah Buku Karya Daddy Rohanady : Soroti Masa Depan BIJB Kertajati

Selasa, 15 September 2026 | 21:24 WIB Last Updated 2026-09-15T14:59:29Z
Klik
Penulis buku ' Kertajati" dan 'Antara Perut dan Maut,' Drs.H. Daddy Rohanady : menjelaskan isi & makna dari kedua buku tersebut dlm acara Festival Literasi Jabar 2026 bertemakan "Nedah Buku Bersama Literasi Mewujudkan Jabar IStimewa untuk Semua", di aula Dispusipda Jabar, kota Bandung, Selasa (15/9/2026).



  
BANDUNG, FAKTABANDUNGRAYA — Kritik terhadap pembangunan Jawa Barat tidak selalu harus disampaikan lewat ruang rapat atau dokumen kebijakan. Anggota DPRD Jawa Barat dari Fraksi Partai Gerindra, Drs. H. Daddy Rohanady, memilih puisi sebagai medium untuk menuangkan kegelisahan sekaligus kritiknya terhadap berbagai persoalan pembangunan daerah.

Gagasan itu dituangkan dalam dua buku kumpulan sajak, “Kertajati: Sajak-Sajak Pembangunan” dan “Antara Perut dan Maut”. Kedua buku tersebut dibedah dalam Festival Literasi Jawa Barat 2026 bertema “Bedah Buku Bersama Literasi Mewujudkan Jabar Istimewa untuk Semua” di Aula Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Daerah (Dispusipda) Jawa Barat, Bandung, Selasa (15/9/2026).

Buku “Kertajati” secara khusus merekam kegelisahan Daddy terhadap pembangunan Bandara Internasional Jawa Barat (BIJB) Kertajati di Kabupaten Majalengka yang sejak awal diharapkan menjadi motor pertumbuhan ekonomi baru Jawa Barat.

“Ketika Kertajati dihadirkan, sebenarnya ada spirit yang besar. Salah satunya adalah menjadikan Kertajati sebagai roda penggerak perekonomian Jawa Barat,” ujar Daddy.

Menurutnya, keberhasilan Kertajati tidak semestinya hanya diukur dari jumlah penerbangan. Bandara tersebut harus mampu menciptakan efek ekonomi bagi masyarakat sekitar, membuka lapangan kerja, menggerakkan UMKM dan memberikan dampak terhadap kawasan Ciayumajakuning.

Kertajati Jangan Berhenti Jadi Bandara

Daddy Rohanady menjelaskan isi buku "Kertajati" dan Antara Perut dan Maut"


Pembahas buku, Dr. H. Ateng Kusnandar A., SH., MM., menilai isu yang diangkat Daddy relevan karena menyentuh pertanyaan mendasar tentang manfaat pembangunan infrastruktur bagi masyarakat.

Ateng mempertanyakan sejauh mana pembangunan Kertajati telah memberikan dampak terhadap pertumbuhan ekonomi Cirebon, Indramayu, Majalengka dan Kuningan.

“Apakah pertumbuhan ekonomi di Ciayumajakuning terasa dampaknya setelah ada Bandara Kertajati?” kata Ateng dalam diskusi.

Menurutnya, bandara yang memiliki kawasan pengembangan sekitar 1.800 hektare tersebut semestinya mampu menjadi pusat pertumbuhan ekonomi baru. Potensinya dapat diperkuat melalui UMKM, logistik, jasa pendukung penerbangan hingga penyerapan tenaga kerja lokal.

Daddy sendiri memiliki ikatan panjang dengan Kertajati. Ia mengatakan, saat masih menjadi anggota DPRD Jabar pada periode sebelumnya, dirinya menyaksikan besarnya dukungan anggaran daerah untuk pembangunan bandara tersebut.

“Pada masanya, APBD Jawa Barat digerus sekitar Rp400 miliar untuk itu. Itu yang membentuk ikatan saya dengan Kertajati,” katanya.

Karena itu, kritik dalam bukunya bukan sekadar kritik terhadap bangunan fisik bandara, melainkan pertanyaan mengenai konsistensi kebijakan dan tujuan besar pembangunan Kertajati.

Daddy juga berharap mulai 2027 penerbangan jemaah haji Jawa Barat dapat dilakukan dari Kertajati.

“Kalau ada yang di ruangan ini pergi haji tahun depan, harapannya berangkatnya dari Kertajati,” ujarnya.

Politik, Kekuasaan dan Literasi

Audens Bedah buku "Kertajati" dan "Antara Perut dan Maut"


Sementara “Antara Perut dan Maut” membawa pembaca masuk ke sisi lain kehidupan politik. Buku tersebut mengangkat dinamika perebutan kekuasaan, ambisi politik, kursi partai hingga realitas pragmatis yang dihadapi politisi.


Menariknya, Daddy tidak hanya mengkritik pihak lain. Ia juga memasukkan kritik terhadap partai politik tempatnya bernaung.

“Kalau partai mau dipakai dan dihargai orang, harusnya punya kontribusi besar. Apalagi kalau disebut sebagai partai pembangunan Jawa Barat, harus menunjukkan bahwa partai hadir di situ,” tuturnya.

Menurut Ateng, penggunaan puisi sebagai medium kritik memberikan warna berbeda. Persoalan yang biasanya disampaikan melalui bahasa politik dan dokumen kebijakan justru dikemas dalam sajak yang lebih ringan, tetapi tetap menyimpan pesan sosial dan politik.

Buku-buku tersebut juga menyentuh persoalan lain, mulai infrastruktur, sumber daya air, pembebasan lahan, anggaran hingga proyek pembangunan yang dinilai belum optimal.

Bagi Daddy, karya tersebut sekaligus menjadi upaya mewariskan pengalaman kepada generasi berikutnya. Ia berharap anak muda tidak hanya menjadi pembaca, tetapi berani berpikir, menulis dan menyampaikan gagasan.

“Saya ingin generasi muda belajar dari mereka yang terdahulu. Kebetulan umur saya sudah 64 tahun. Apa yang saya miliki, apa yang saya tahu, setidaknya spiritnya diwarisi oleh generasi muda,” katanya.

Ia pun memberi pesan sederhana kepada generasi muda, terutama wartawan, agar tidak berhenti membaca.

“Baca, baca dan baca. Apalagi wartawan. Wartawan kalau tidak baca, di mata saya tulisannya pasti kering,” ujar Daddy.

Melalui dua bukunya, Daddy menunjukkan bahwa literasi tidak harus berhenti pada aktivitas membaca. Sastra juga bisa menjadi ruang untuk mempertanyakan kebijakan, mengkritik pembangunan, merekam kegelisahan dan menyampaikan gagasan tentang masa depan Jawa Barat. (sein).

×
Berita Terbaru Update