Gagasan itu dituangkan dalam dua
buku kumpulan sajak, “Kertajati: Sajak-Sajak Pembangunan” dan “Antara Perut dan
Maut”. Kedua buku tersebut dibedah dalam Festival Literasi Jawa Barat 2026
bertema “Bedah Buku Bersama Literasi Mewujudkan Jabar Istimewa untuk Semua” di
Aula Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Daerah (Dispusipda) Jawa Barat, Bandung,
Selasa (15/9/2026).
Buku “Kertajati” secara khusus
merekam kegelisahan Daddy terhadap pembangunan Bandara Internasional Jawa Barat
(BIJB) Kertajati di Kabupaten Majalengka yang sejak awal diharapkan menjadi
motor pertumbuhan ekonomi baru Jawa Barat.
“Ketika Kertajati dihadirkan,
sebenarnya ada spirit yang besar. Salah satunya adalah menjadikan Kertajati
sebagai roda penggerak perekonomian Jawa Barat,” ujar Daddy.
Menurutnya, keberhasilan Kertajati
tidak semestinya hanya diukur dari jumlah penerbangan. Bandara tersebut harus
mampu menciptakan efek ekonomi bagi masyarakat sekitar, membuka lapangan kerja,
menggerakkan UMKM dan memberikan dampak terhadap kawasan Ciayumajakuning.
Kertajati Jangan Berhenti Jadi Bandara
![]() |
| Daddy Rohanady menjelaskan isi buku "Kertajati" dan Antara Perut dan Maut" |
Pembahas buku, Dr. H. Ateng
Kusnandar A., SH., MM., menilai isu yang diangkat Daddy relevan karena
menyentuh pertanyaan mendasar tentang manfaat pembangunan infrastruktur bagi
masyarakat.
Ateng mempertanyakan sejauh mana
pembangunan Kertajati telah memberikan dampak terhadap pertumbuhan ekonomi
Cirebon, Indramayu, Majalengka dan Kuningan.
“Apakah pertumbuhan ekonomi di
Ciayumajakuning terasa dampaknya setelah ada Bandara Kertajati?” kata Ateng
dalam diskusi.
Menurutnya, bandara yang memiliki
kawasan pengembangan sekitar 1.800 hektare tersebut semestinya mampu menjadi
pusat pertumbuhan ekonomi baru. Potensinya dapat diperkuat melalui UMKM,
logistik, jasa pendukung penerbangan hingga penyerapan tenaga kerja lokal.
Daddy sendiri memiliki ikatan
panjang dengan Kertajati. Ia mengatakan, saat masih menjadi anggota DPRD Jabar
pada periode sebelumnya, dirinya menyaksikan besarnya dukungan anggaran daerah
untuk pembangunan bandara tersebut.
“Pada masanya, APBD Jawa Barat
digerus sekitar Rp400 miliar untuk itu. Itu yang membentuk ikatan saya dengan
Kertajati,” katanya.
Karena itu, kritik dalam bukunya
bukan sekadar kritik terhadap bangunan fisik bandara, melainkan pertanyaan
mengenai konsistensi kebijakan dan tujuan besar pembangunan Kertajati.
Daddy juga berharap mulai 2027 penerbangan jemaah haji Jawa Barat dapat dilakukan dari Kertajati.
“Kalau ada yang di ruangan ini
pergi haji tahun depan, harapannya berangkatnya dari Kertajati,” ujarnya.
Politik, Kekuasaan dan Literasi
![]() |
| Audens Bedah buku "Kertajati" dan "Antara Perut dan Maut" |
Menariknya, Daddy tidak hanya
mengkritik pihak lain. Ia juga memasukkan kritik terhadap partai politik
tempatnya bernaung.
“Kalau partai mau dipakai dan
dihargai orang, harusnya punya kontribusi besar. Apalagi kalau disebut sebagai
partai pembangunan Jawa Barat, harus menunjukkan bahwa partai hadir di situ,”
tuturnya.
Menurut Ateng, penggunaan puisi
sebagai medium kritik memberikan warna berbeda. Persoalan yang biasanya
disampaikan melalui bahasa politik dan dokumen kebijakan justru dikemas dalam
sajak yang lebih ringan, tetapi tetap menyimpan pesan sosial dan politik.
Buku-buku tersebut juga menyentuh
persoalan lain, mulai infrastruktur, sumber daya air, pembebasan lahan,
anggaran hingga proyek pembangunan yang dinilai belum optimal.
Bagi Daddy, karya tersebut
sekaligus menjadi upaya mewariskan pengalaman kepada generasi berikutnya. Ia
berharap anak muda tidak hanya menjadi pembaca, tetapi berani berpikir, menulis
dan menyampaikan gagasan.
“Saya ingin generasi muda belajar
dari mereka yang terdahulu. Kebetulan umur saya sudah 64 tahun. Apa yang saya
miliki, apa yang saya tahu, setidaknya spiritnya diwarisi oleh generasi muda,”
katanya.
Ia pun memberi pesan sederhana
kepada generasi muda, terutama wartawan, agar tidak berhenti membaca.
“Baca, baca dan baca. Apalagi
wartawan. Wartawan kalau tidak baca, di mata saya tulisannya pasti kering,”
ujar Daddy.
Melalui dua bukunya, Daddy
menunjukkan bahwa literasi tidak harus berhenti pada aktivitas membaca. Sastra
juga bisa menjadi ruang untuk mempertanyakan kebijakan, mengkritik pembangunan,
merekam kegelisahan dan menyampaikan gagasan tentang masa depan Jawa Barat.
(sein).


