![]() |
| Bupati Sumedang Dony Ahmad Munir |
Pelaksanaan yang melibatkan sekitar
270 ribu pemilih di 423 tempat pemungutan suara (TPS) tersebut menjadi
terobosan dalam penyelenggaraan demokrasi di tingkat desa. Penggunaan teknologi
elektronik diharapkan mampu menghadirkan proses pemilihan yang lebih efektif
sekaligus mendorong modernisasi tata kelola pemerintahan.
Wakil Bupati Sumedang M. Fajar
Aldila mengatakan, penerapan e-voting merupakan tindak lanjut dari gagasan
Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi. Sebelumnya, sistem tersebut telah diuji coba
secara terbatas di sejumlah daerah, di antaranya Indramayu dan Garut.
Ketika mendapat tawaran untuk
menerapkannya secara lebih luas, Pemkab Sumedang langsung menyatakan kesiapan.
“Ketika dihubungi dari provinsi,
kami langsung menyatakan kesiapan penuh untuk mengimplementasikannya,” ujar
Fajar dalam keterangannya pada Bandung Digital Safety Forum (BDSF) 2026 di
Pendopo Kota Bandung, Kamis (29/10/2026).
Menurutnya, pelaksanaan e-voting di
92 desa berlangsung lancar tanpa kendala berarti. Koordinasi lintas pihak,
kesiapan petugas, serta pendampingan kepada masyarakat menjadi faktor penting
keberhasilan pelaksanaan.
Fajar mengakui, penerapan teknologi
baru masih menghadapi tantangan, terutama bagi pemilih lanjut usia yang belum
terbiasa menggunakan perangkat elektronik. Karena itu, bimbingan dan
pendampingan di lapangan diperlukan agar seluruh warga dapat menggunakan hak
pilih tanpa hambatan.
Sementara itu, Bupati Sumedang Dony
Ahmad Munir menegaskan, transformasi digital harus memberikan manfaat nyata
hingga ke tingkat desa. Ia mendorong pengambilan kebijakan pemerintahan berbasis
data yang akurat dan terintegrasi, bukan sekadar perkiraan.
“Keputusan tidak lagi berdasarkan
asumsi, tetapi berdasarkan data yang akurat dan terintegrasi dari tingkat
bawah,” kata Dony.
Keberhasilan Pilkades e-voting
tersebut mendapat apresiasi dalam BDSF 2026 yang diinisiasi PWI Jawa Barat
bersama komunitas Jurnalis Hukum Bandung (JHB).
Dalam forum tersebut, Fajar juga
menekankan bahwa kemajuan teknologi harus diimbangi perlindungan data pribadi
dan peningkatan literasi digital masyarakat. Menurutnya, keamanan informasi
bukan hanya tanggung jawab pemerintah, tetapi membutuhkan kesadaran seluruh
pengguna teknologi.
Ia juga menilai media massa
memiliki peran penting dalam memberikan edukasi, terutama di tengah maraknya
informasi yang belum terverifikasi dan potensi penyalahgunaan kecerdasan buatan
(AI).
Pengalaman Sumedang menerapkan
e-voting di 92 desa menjadi bukti bahwa digitalisasi demokrasi dapat dimulai
dari pemerintahan paling dekat dengan masyarakat. Namun, keberlanjutannya tetap
membutuhkan infrastruktur yang andal, sumber daya manusia yang siap, serta
masyarakat yang cakap dan aman dalam menggunakan teknologi.
