Notification

×

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

Pengamat Sosial, Tugiman : Isu Persekusi Tokoh Agama Mengusik Jabar

Kamis, 08 Maret 2018 | 13:10 WIB Last Updated 2018-03-08T08:45:15Z
Klik
BANDUNG, (FBR.Com).,-- Pengamat sosial Universitas Pasundan Bandung, Dr.Tugiman, mengatakan beredarnya berita hoax melalui berbagai media tentang persekusi terhadap tokoh agama telah meresahkan dan mengusik ketenangan masyarakat Jawa Barat. Pasalnya selama akhir Januari s.d Februari 2018 terjadi 23 kali dugaan persekusi. Namun dari jumlah tersebut hanya 2 kasus yang merupakan kejadian sebenarnya, sisanya sebanyak 21 kasus diduga hoax.

Hal tersebut disampaikan Tugiman menanggapi penomena isu persekusi yang berkembang di Jawa Barat, di Kampus Unpas, Jl. Lengkong Besar No.64, Bandung, Kamis (08/03/18).

Dikatakan Tugiman, persekusi (persecution) dapat dipahami sebagai penindasan, penganiayaan atau pendzoliman dari satu pihak pada pihak lain. Bentuk, dan sasaran maupun pelakunya (persecutor) bisa berbeda dan bermacam-macam. Bentuk persekusi dapat berupa menyakiti fisik atau menekan secara psikis baik melalui pemukulan dan sejenisnya, ancaman, hinaan atau ujaran kebencian serta permusuhan.

Doktor Ilmu Hukum Unpad itu menilai bahwa, pemaknaan persekusi yang muncul saat menjadi jungkir balik, lantaran melalui kuasa media sosial dan media massa konvensional, dipublikasikan sedemikian rupa yang bertolak dengan fakta sebenarnya.

”Bisa saja persekutor (pelaku persekusi) cenderung dijungkirbalikan menjadi korban persekusi, reaksi korban persekusi dikonstruksi menjadi persekutor (pelaku persekusi), sehingga persekusi tidak murni lagi sebagai gagasan kemanusiaan tapi justru cenderung dijadikan media untuk mengintimidasi”, ungkap Tugiman.

Tugiman juga mengatakan, maraknya isu persekusi yang waktunya bersamaan dengan rangkaian Pilkada, menimbulkan berbagai spekulasi yang cenderung bias sehingga disamping membingungkan dan memunculkan sikap saling curiga antar kelompok dalam masyarakat juga rentan politisasi, ungkapnya.

”Menurutnya terdapat dua perspektif menonjol terkait penomena tersebut’’, Pertama, dugaan adanya rekayasa terkait isu tersebut, dan Kedua, kesalahpahaman masyarakat sebagai dampak menyebarnya berita hoax di berbagai media, terutama terkait dengan isu persekusi, dugaan orang gila masuk ke lingkungan masjid atau Pontren serta munculnya symbol yang diduga ancaman terhadap tokoh agama.

Pada bagian akhir Tugiman berharap aparat kepolisian bisa mengungkap dan memproses hukum para pelaku yang bermain dibalik peristiwa tersebut dan masyarakat diharap tetap tenang dan mepercayakan penanganan masalah tersebut kepada aparat penegak hukum.

“’Polisi perlu segera mengungkap dan mempreses pelakunya, sementara masyarakat sebaiknya tetap tenang, tidak terprovokasi dan mempercayakan penangananya kepada aparat penegak hukum” pungkasnya. (sein).

×
Berita Terbaru Update