Notification

×

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

Bedah Buku 'Kembalikan Citarum Harum', Merefleksikan Semangat Merawat Alam

Jumat, 22 Februari 2019 | 20:39 WIB Last Updated 2019-02-22T13:55:21Z
Klik

FAKTABANDUNGRAYA.COM, BANDUNG - Seminar Nasional dan Bedah Buku dengan tema Sinergitas Penta Helix Merawat Alam dan Mitigasi Bencana, digelar di Grand Asrilia Bandunh, Jumat (22/2/19), Bandung. Kegiatan seminar di awali dengan Bedah Buku “Kembalikan Citarum Harum Kembali” sebagai momentum satu tahun pencanangan program Citarum Harum.

Kegiatan yang digelar bersama oleh BNPB, Kodam III Siliwangi, Dinas Lingkungan Hidup Jabar, dan Citarum Institute, bertujuan untuk menggulirkan niat baik kita semua untuk merawat kesadaran dan pentingnya berfikir bagi ikhtiar pengurangan bencana yang saat ini harus menjadi fokus perhatian bersama.

Seminar nasional menghadirkan tiga pembicara utama, yakni Kepala BNPB Letnan Jenderal TNI Doni Monardo, Deputi 4 Kemenko Maritim Dr. Ir. Safri Burhanuddin, DEA , dan Gubernur Jawa Barat Mochamad Ridwan Kamil, ST, MUD.

Bedah Buku “Kembalikan Citarum Harum” yang merupakan buku setebal 380 halaman hasil telisik dua orang Joko Irianto Hamid dan Esa Tjatur Setiawan yang menulis paparan jurnalistik yang diniati untuk menjawab kritikan dunia internasional dimana sungai Citarum dijuluki “sungai terkotor sedunia” sejak 2013 oleh Black Smith Institute, organisasi nirlaba berbasis di New York. Kualitas sungai hakekatnya menggambarkan kualitas peradaban suatu bangsa.

Pada sesi bedah buku 'Kembalikan Citarum Harum' dikupas oleh Irma Hutabarat (Vetiver Indonesia), Joko Irianto Hamid (Lensa Indonesia.com), Dadan Ramdhan (Walhi Jabar), Haryono Budi Utomo (Artha Graha Peduli), Leonard Simanjuntak (Green Peace Indonesia).

Salahsatu penulis buku, Joko Irianto Hamid mengatakan bahwa kita berharap kehadiran buku ini menjadi diskursus karena buku ini menangkap bagaimana semangat dari Kodam III Siliwangi, yang dimotori oleh Pangdam nya pada waktu itu Mayjen TNI Doni Monardo (saat ini berpangkat Letjen).

"Menjadi trigger menggerakan semua unsur elemen masyarakat untuk menjawab tentang penanganan kerusakan citarum yang sangat akut sejak puluhan tahun tidak ada hasilnya bahkan divonis sebagai sungai terkotor di dunia," ungkapnya.

"Beruntung negara hadir disini, presiden dengan mengeluarkan perpres (No 15 Tahun 2018) tentang percepatan pengendalian pencemaran dan kerusakan das citarum, bahkan presiden mentargetkan 7 tahun revitalisasi ini harus sudah selesai," tambahnya.

Momentum ini, lanjut Joko, yang dalam arti sejarah bahwa belum pernah terjadi dalam pemerintahan sebelumnya.

"Saya tidak bermaksud mengaitkan ini dengan politik, tapi momentum ini yang tidak pernah terjadi di pemerintahan pemerintahan sebelumnya," kata Joko.

"Saya mengajak melalui buku ini, masyarakat jawa barat untuk bergerak bersama sama, bergotong royong, yang tadi disebutkan oleh gubernur (Ridwan Kamil) melalui konsolidasi pentahelix, mengembalikan citarum sebagaimana sebagai air yang dikonsumsi oleh jutaan manusia dan bisa menjadi energi listrik yang menerangi pulau jawa dan bali," tandasnya.

Sementara itu, Dr. Eki Baihaki,M.Si, Ketua Citarum Institute mengatakan bahwa Sinergitas Pentahelix secara ideal, semestinya segenap segmentasi masyarakat sebagaimana diamanatkan dalam Inpres No. 7 tahun 2018 dapat mengikuti model Pentahelix yang melibatkan elemen Government (G), Academics (A), Business (B), Community (C), dan Media (M) atau disingkat GABCM yang dalam Bahasa Indonesia dapat diterjemahkan sebagai Pemerintah, Dunia Pendidikan, Dunia Usaha, Komponen Masyarakat, dan Media.

"Penggunaan model Pentahelix ini juga diharapkan dapat meningkatkan rasa kebersamaan segenap Bangsa dan warga negara melalui Aksi Nasional Bela Negara. Dalam praktiknya hal ini merupakan smart power sebagai perwujudan aksi Bela Negara yang berbasis budaya dan kearifan lokal melalui penerapan skill, strategi, system, dan struktur dalam mencapai target yaitu kemakmuran rakyat," jelasnya.

"Sinergi hakekatnya adalah ikhtiar kita membangun dan memastikan hubungan kerjasama yang produktif serta kemitraan yang harmonis dengan para pemangku kepentingan,untuk menghasilkan karya yang bermanfaat dan berkualitas," sambungnya. (Sein/Cuy).
×
Berita Terbaru Update