Apresiasi Survei PPPP, Politisi Gerindra Sindir Lembaga Survei Lain

Jakarta, Faktabandungraya.com,--- Wakil Ketua Umum Partai Gerindra Arief Poyuono mengapresiasi berbagai survei yang memenangkan Prabowo-Sandi (02), termasuk lembaga survei asing asal Amerika Precision Public Policy Polling (PPPP) yang baru-baru ini merilis hasil survei capres 2019 dan telah dimuat sejumlah media nasional.

Menurut Arief Poyuono, lembaga survei (PPPP) inilah yang bener-bener independent dan bukan lembaga survei bayaran yang pada diundang ke Istana negara tahun lalu sama kangmas Joko Widodo.

Lanjut Ketua Umum Federasi Serikat Pekerja BUMN Bersatu ini, cukup aneh jika lembaga-lembaga survei yang mengklaim dirinya independent yang hasilnya terus memenangkan Joko Widodo diundang ke istana oleh Joko Widodo," ujarnya saat dimintai tanggapannya terkait survei PPPP itu, Selasa (9/4-2019).

Ia pun mencontohkan, Lembaga Survei seperti LSI. Menurutnya hasil survei lembaga tersebut sangat aneh. Sebab, antara survei dan faktanya yang terjadi dimasyarakat tidak simetris.

"Kita bisa lihat tingginya angka pengangguran, menurunnya tingkat kesejahteraan masyarakat, pemerintahan yang korup belum lagi partai pengusung Joko Widodo dimana Ketua Umum dan elitnya banyak di cokok KPK. Belum lagi membanjirnya TKA, masa iya, Joko Widodo bisa terus tinggi tingkat elektabilitasnya," ujarnya penuh tanya.

Lembaga survei PPPP melakukan survai pemilihan presiden 2019 di Indonesia, pada 22 Maret- 4 April 2019 dengan jumlah responden 3. 032 dari 800.091 TPS di 499 kabupaten / kota di 34 provinsi. Dengan Margin kesalahan untuk ukuran sampel sebanyak 3.032 adalah +/- 1,78% pada tingkat kepercayaan 95%.

Adapun hasil surveinya, 58% menyatakan bahwa Indonesia sedang dikelola oleh pemerintahan Joko Widodo memburuk. Bahkan Indonesia dianggap dalam ancaman utang yang makin meningkat naik 69% menjadi Rp4.416 triliun pada 2014-2018.

Hasil survei PPPP ini juga disebutkan bahwa 54% resonden menginginkan presiden baru dan yang masih menginginkan Joko Widodo kembali menjadi jadi presiden sebessr 37%, sementara 9 % responden tidak memeberikan jawaban.

Dari 54% responden menganggap Joko Widodo tidak menjalankan pemerintahan dengan benar yang menghasilkan clean government dan masih banyak terjadi praktik korupsi yang berkaitan dengan proyek proyek infrastruktur.

Ketika ditanyakan siapa kandidat yang akan dipilih jika pemilihan dilakukan saat survei dilaksanakan, nama Joko Widodo dan Prabowo ditanyakan 38% responden memiilih nama Joko Widodo. Sedangkan yang memilih Prabowo sebanyak 40 % dan sisanya menyatakan belum dapat memutuskan.

Untuk diketahui, jajak pendapat ini dilakukan kepada warga negara Indonesia yang memiliki hak pilih dalam pemilihan 2019 dan juga untuk distribusi media umum. (rls/red).

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.