Sungai Cisangkuy Hitam, Satgas Citarum Temukan Bak Pengolahan Limbah PT Adetex Meluber

BANJARAN, faktabandungraya.com,--- Menindaklanjuti laporan warga yang mengeluhkan aliran sungai Cisangkuy kembali terlihat hitam, Satgas Citarum Sektor 21 Subsektor 7 Pameungpeuk lakukan pemeriksaan dan pengawasan langsung ke beberapa industri penghasil limbah cair di wilayah Kecamatan Pameungpeuk, Kabupaten Bandung.

Alhasil pada Sabtu pagi, (17/8/19), anggota satgas subsektor 21-7 Pameungpeuk mendapati bak penampungan pengolahan limbah PT Adetex meluber, diduga air limpahan limbah mengalir dan merembes hingga aliran sungai Citalugtug (anak sungai Cisangkuy) yang berjarak sekitar 5 meter dari bak pengolahan limbah.

Komandan Sektor 21 melalui Pasiminlog Letda Saniyo mengatakan bahwa ada informasi dari warga yang mengeluhkan sungai Cisangkuy berwarna hitam, setelah dicek dan ditelusuri satgas menemukan bak pengolahan limbah PT Adetex meluber sehingga luapannya mengalir dan merembas ke sungai.

Untuk sementara, "kami menyarankan kepada pabrik untuk meninggikan lagi dinding bak pengolahan agar tidak terjadi lagi luapan seperti ini," ujar Letda Saniyo.


Sementara, Dinas LH Kabupaten Bandung melalui Kasie Penaatan Hukum Dinas Lingkungan Hidup Robby Dewantara yang juga terlibat dalam sidak, membenarkan bahwa pihak pabrik harus segera melakukan penambahan tinggi dinding bak pengolahan karena berkaitan dengan kapasitas.

Dikatakan Robby Dewantara, ada beberapa permasalahan yang teridentifikasi, "yang pertama kapasitas tidak sesuai dengan kuantitas yang diolah baik itu dari segi equipment (peralatan) seperti pompa dan lain sebagainya," ujarnya.

Selanjutnya, "kurangnya koordinasi antara tim produksi dan tim ipal, nah ini juga akan kita evaluasi secara menyeluruh kaitan dengan penanganan ini. Jadi tidak hanya penanganan di akhir saja, tapi kita harus menyeluruh yang berkaitan dengan produksi, karena bagaimanapun harus ada link yang sangat sinergis," tuturnya.

Ketika terjadi hal seperti ini, lanjut Robi, harus ada koordinasi antara tim produksi dan tim IPAL, agar dapat segera menghentikan kegiatan produksi sehingga dapat mengurangi potensi luberan air limbah di bak penampungan.

Menurut Robby, banyak faktor yang mempengaruhi kejadian yang terjadi di IPAL PT Adetex, "ada kesalahan teknis, kurangnya koordinasi, ada beberapa hal yang harus dievaluasi, kalo kita lihat riwayat perusahaan ini bukan hanya sekarang saja, tapi ada beberapa kejadian yang sudah dilakukan," ungkapnya.

"Ini mungkin rangkaian dari beberapa kejadian yang lalu, ada yang sudah dilakukan peninggian tapi koordinasi tidak jalan, nah ini yang harus dibenahi. Jadi orang tidak berpikir hanya di ipal, tidak seperti itu, tapi produksi juga mempengaruhi," tandasnya.

Di tempat yang sama, General Manager PT Adetex, H. Sutisna mengakui bahwa bak penampungan air limbah mengalami kelebihan kapasitas sehingga meluber keluar bak penampungan. Dikatakannya, sejak dua minggu lalu kejadian seperti ini sudah lebih dari dua kali terjadi lantaran mesin pompa mati, sehingga tidak bisa menyalurkan air limbah ke pengolahan selanjutnya.

"Luberan terjadi di bak penampungan pengolahan setelah proses (biologi) dari aerasi dan clarifier," ujarnya.

Dijelaskan H. Sutisna, kapasitas bak mampu menampung limbah sekitar 4000 M³. Dengan adanya kejadian ini, pihaknya akan melakukan komunikasi dan koordinasi untuk perbaikan, antara bagian IPAL dan bagian Produksi.

"Di sisi lain, untuk menghindari hal hal yang tidak diinginkan, secara kapasitas sudah diperhitungkan antara input dan output, tapi karena ada instrumen (alat) yang trouble, sehingga antara input dan output tidak sesuai karena pompa trouble," jelasnya.

Untuk itu, sesuai rekomendasi satgas citarum dan Dinas LH Kabupaten Bandung, pihaknya langsung melakukan penambahan tinggi dinding bak pengolahan, "jadi kalaupun ada trouble, misalnya satu atau dua jam bisa terantisipasi," ucapnya.

Kejadian melubernya air limbah dari bak pengolahan, H. Sutisna mentaksir jumlah air limbah yang meluber tidak lebih dari 15 persen dari kapasitas bak penampungan.

"Saya prediksikan melihat dari kondisi yang ada, tidak lebih dari 15 persen," pungkasnya. (Cuy)

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.