Ticker

6/recent/ticker-posts

Header Ads Widget

Link Banner

Penanganan Banjir di Jabar, Satgas Citarum Harum Selesaikan Bertahap Masalah Citarum

BANDUNG, Faktabandungraya.com,--- Kondisi dan permasalahan Sungai Citarum cukup komplek dari hulu hingga hilir cukup banyak dan sangat komplek. Untuk itu, harus dikerjakan secara holistik dan berkolaborasi. Namun, kini sejak dibentuknya Satgas Citarum Harum, kini permasalhan yang membelit Citarum mulai teratasi dan tertanggulangi.

Menurut Ketua Harian Satgas Citarum Harum PPKDAS Citarum Mayjen TNI ( Purn) Dedi KusnADI Thamim persoalan sungai Citarum mulai dari hulu hingga hilir banyak, dan sangat komplek. Seiring dengan berjalannya waktu satu persatu permasalahannya kini sudah bisa tertanggulangi.

“Bicara tentang lahan kritis, tanaman serta lahannya itu sendiri. Kemudian, sampah adalah yang menjadi bagian dari apa yang menjadi pesoalan, selama ini,” katanya dalam acara Japri ke-59 yang mengangkat tema, Penanganan Banjir di Jawa Barat, Gedung Sate, Jl Diponegoro No 22, Bandung, Kamis (16/1/2020).

Pembicara lain dalam diskusi bertajuk Penanganan Banjir di Jawa Barat tersebut adalah Sekretaris DLH Jabar Dr. Ir. Prima Mayaningtias, Kadis SDA Jabar Linda Al Amin, S.T., M.T, Kepala Balai Besar Wilayah Sungai Ciliwung Cisadane Bambang Hidayah dan Kabid PDAS Dishut Jabar Dedi Hendrawan.

Mayjen TNI (Purn) Dedi menjelaskan seiring dengan berjalannya waktu satu persatu persoalan yang membelit Citarum itu kini telah terselesaikan. Bila sebelumnya sungai tersebut bisa dipergunakan untuk berjalan, karena banyaknya sampah, sekarang mungkin tidak akan bisa lagi.

Mayjen TNI (Purn) Dedi juga mengatakan kalau dilihat dari fungsi dan tanggungjawabnya Ketua Harian Satgas PPK DAS Citarum mengendalikan 23 komandan sektor dan 7 kelompok kerja. Yang mana tugas sehari-harinya selalu membahas tentang Citarum, khususnya apa yang dilakukan di lapangan.

Sangat komplek sekali persoalan yang ditangani para DanSektor di lapangan, tidak semudah apa yang dibayangkan. “Tadi saya kedatangan tamu dari Singapura ingin membantu persoalan yang ada di Citarum, dia berbicara begitu mudah.Tentang penangan sungai,” katanya.

“Saya balik tanya. Penduduk Singapura berapa, dia jawab 6 juta. Saya jelaskan, saya di sini yang ada di DAS Citarum saja, jumlah penduduknya lebih dari 20 juta, dengan segala persoalan yang ada dilapangan. Baru bengong dengan jumlah penghuni yang lebih dari 20 juta jiwa.”

Korea Selatan saja, jelas Dedi Kusnadi butuh waktu selama 40 tahun untuk membuat sungainya berada dalam kondisi seperti yang ada sekarang ini. Pertanyaannya bagaimana dengan Citarum.

Citarum, katanya, memang ada Citarum Bestari, Citarum Bergetar, dan sekarang Citarum Harum setahap demi setahap, sudah mulai dilakukan pembenahan dari apa yang menjadi persoalan Citarum di Provinsi Jawa Barat.

Banjir yang menjadi persoalan, sejak adanya terowongan Curug Jompong di Nanjung, Kabupaten Bandung. Kini sudah tidak ada, banjir yang berkepanjangan. Selain itu kegiatan lainnya yang dilakukan Satgas Citarum dalam mempercepat aliran sungai, baik itu penggalian sedimen, pelebaran sungai, dan lain-lainnya. “Itupun mempercepatan aliran sungai, sehingga tidak terjadi banjir,” katanya.

Sekretaris DLH Jabar Dr. Ir. Prima Mayaningtias mengatakan Dinas Lingkungan Hidup Jawa Barat memfasilitasi koordinasi, dan juga penanganan berbagai permasalahan lingkungan. “Kalau dilihat dari prospek bangunan, tepatnya dari sisi perencanaan , kami melakukan bahasan tentang dokumen lingkungan, ijin lingkungan,” katanya.

Selain itu, jelas Prima lagi, kalau dikaitan dengan pembinaan kepada Industri, dan pengawasan terhadap kegiatan atau usaha industri yang melanggar dari ketentuan ijin lingkungan. Sifatnya kemitraan.

“Selain itu, DLH juga mempunyai UPT mengenai pengelolaan sampah regional, dan laboraborium lingkungan,” kata dia.

Dengan cakupan tugas yang luas itulah, di Citarum DLH ambil peran sebagai Ketua Harian Sekretariat Citarum. Jadi operator operasionalisasi dari posko satgas citarum itu adalah DLH. “Kami mensupport ketua harian Pak Gubernur dan memfasilitasi banyak pokja yang ada, kabupaten kota kemudian stake holder yang lain. Kami sebagai sekretaritnya, Lingkungan hidup sebagai sesuatu yang boderles ga dibatasi wilayah administrasi

Untuk itu, DLH menurut Prima mencoba bagimana mensinergi semua program kegiatan di Provinsi Pusat maupun Kabupaten Kota, dan stake holder lainnya.

Sementara itu, Kadis PSDA Jabar Linda Al Amin mengatakan pengendalian banjir di Citarum itu merupakan kewenangan pusat. Di Jabar ada 6 wilayah sungai, 4 kewenangannya ada di pusat, yaitu Wilayah Sungai Ciliwung-Cisadane, Wilayah Sungai Citarum, Wilayah Sungai Cimanuk-Cisanggarung, dan Wilayah Sungai Citandui.

Artinya ini, banyak sekali program-program dari Kementrian Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang yang dilakukan untuk menetralisir sungai, sementara Dinas Pengendalian Daerah Aliran Sungai sifatnya hanya, melakukan suport dukungan pengedalian banjir.

“Untuk Citarum ini alhamdulilah memasuki Januari ini sudah jauh berkurang dengan digunakan terowongan curug jompong mengurangi banjir yang selama ini terjadi,” ujarnya.

Adapun tugas PDAS Prov Jabar di tahun 2020 ini, adalah menuntaskan program-program tersisa. “Secara keseluruhan program program Citarum Hulu, sudah selesai. Kita ini tinggal penanganan masalah-masalah non teknis.”

Tahun depan 2021, jelas Linda, daerah yang ditangani mulai ke Citarum Hilir, seperti banjir di Karawang, Programnya membangun Bendungan Cibeet di Bekasi. “Lokasinya memang di Kabupaten Bogor, tetapi untuk penanganan banjir di Karawang dan Bekasi,” kata dia.

Bupati Bogor kata Linda, juga sudah meminta pembangunan bendungan Ciburay. Selain untuk penanganan banjir, bendungan tersebut nantinya juga bisa dimanfaatkan sebagai irigasi bagi masyarakat di kabupaten Bogor. Namun ini masih tahap desain, jadi masih tahap awal, tandasnya. (husein).

Posting Komentar

0 Komentar