Ticker

6/recent/ticker-posts

Header Ads Widget

Link Banner

Mirza : Disinformasi Di Tengah Situasi Pandemi COvid-19, Perlu Penguatan Fungsi Humas

H.Mirza Agam Gumay, SM.Hk anggota Komisi I DPRD Jabar (foto;ist)

BANDUNG, Faktabandungraya.com,--- Sejak ditemukannya virus corona (Covid-19-red) di Indonesia, telah ditemukan cukup banyak disinformasi atau berita bohong (hoax), terutama di media social.

Cukup banyak dan gencarnya disinformasi yang berselancar di dunia maya  terutama di Media Sosial,  tentunya menjadi salah satu penyebab penghambat penanganan pendemi covid-19.  Padahal pemerintah telah berupaya semaksimal mungkin untuk segera mengakhiri pandemic covid-19 yang sudah melanda Indonesia lebih dari setahun.

Agar disinformasi tidak terus-terus berselancar di dunia maya, menurut anggota Komisi I DPRD Jabar H.Mirza Agam Gumay, SM.Hk, tentunya perlu penguatan peran dan fungsi humas di setiap tingkat pemerintahan, sebagai garda terdepan untuk menghalau setiap informasi hoax yang banyak tersaji melalui media sosial.

Humas yang ada di pemerintahan harus mampu memberikan informasi-informasi yang utuh dan tidak setengah-setengah kepada masyarakat. Sehingga masyarakat dapat mengetahui dan memahami berita yang sebenarnya, bukan berita bohong.

Informasi dari pemerintah harus disampaikan oleh humas  secara benar dan utuh kepada masyarakat  disemua tingkatan pemeritahan mulai dari Pemerintah pusat hingga pemerintahan desa.

Agam –sapaan—Mirza Agam Gumay, menghimbau dan mengingatkan masyarakat agar tidak muda percaya terhadap informasi yang ditebar  melalui media social,  dan jangan juga cepat menyebarkannya, . Hal ini, karena belum tentu berita tersebut benar dan sesuai dengan faktanya. Untuk, carilah informasi melalui media mainstream yang isi berita dapat dipercaya kebenarannya.

Gara-gara disinformasi, tidak sedikit masyarakat yang terpengaruh dan akhirnya salah paham, sehingga tidak percaya bahwa virus corona (covid-19) telah menjadi pandemic dan menyebar di hampir seluruh Negara di dunia ini.

Bahkan didunia sudah lebih dari 4  juta manusia meninggal akibat terpapar, sedangkan Indonesia sendiri angka kematian akibat terpapar covid-19 sudah himpir menembuas 75.000 jiwa. Dan di Jabar jumlah yang meninggal sudah diatas 7.000 orang.

Namun, anehnya walaupun sudah jelas-jelas virus corona bagi yang terpapar yang disertai penyakit bawaan, telah menyebabkan banyak orang meninggal akibat terpapar covid-19, masih ada juga yang tidak percaya. Bahkan diminta untuk mematuhi dan disiplin dalam penerapan protocol kesehatan 5M, masih banyak yang ngenyel dan berani menentang Satgas Penanganan Covid-19.  

Mereka  (masyarakat-red) yang masih ngeyel saat diingatkan oleh petugas Satgas Penanganan covid-19, terutama saat penerapan PPKM Mikro dan PPKM Darurat, tentunya tidak terlapas dari disinformasi yang mereka dapatkan dari dunia maya.

Mudahnya masyarakat dalam mengakses informasi hoax  terutama dari media social menyebabkan masyarakat mudah mempercayai informasi tersebut dan tak jarang menimbulkan aksi saling menyalahkan baik antar masyarakat maupun masyarakat kepada pemerintah.

Agam menghimbau dan mengajak masyarakat untuk berhenti (Stop) menebar informasi hoax tentang covid-19.  Dan mari kita sama-sama memerangi pandemic covid-19 agar kehidupan kita dapat kembali normal. 

“Mari kita jaga kesehatan diri sendiri, keluarga dan orang-orang yang kita sayangi serta lingkungan agar terhindar dari covid-19 dengan cari mematuhi dan disiplin dalam prokes 5M, tandasnya. (adikarya/husein).