Notification

×

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

Evaluasi Satu Tahun Kepemimpinan Wali Kota : Bandung Masih di Persimpangan Jalan

Kamis, 26 Februari 2026 | 22:33 WIB Last Updated 2026-02-26T15:33:48Z
Klik
Perayaan Hari Jadi Bandung (foto: dok humpro)


Oleh: Susanto Triyogo A, S.ST., M.T. (Sekretaris Komisi I DPRD Kota Bandung, Fraksi PKS)

Setahun sudah Kota Bandung kembali dipimpin wali kota definitif. Harapan publik kala itu begitu besar: lahirnya perubahan nyata, percepatan pembenahan kota, serta inovasi konkret untuk menjawab persoalan klasik yang selama ini membelit Bandung.

Namun setelah satu tahun berjalan, publik mulai bertanya: di mana gebrakan yang dijanjikan?

Bandung hari ini seperti berada di persimpangan jalan. Sebagai ibu kota Provinsi Jawa Barat, Bandung berkembang menjadi kota metropolitan dengan karakter high density. Secara geografis, kota ini berada di cekungan yang rentan terhadap akumulasi persoalan lingkungan jika tidak dikelola secara arif dan sistemik.

Di atas kertas, potensi Bandung sangat besar. Sebagai kota jasa dan perdagangan, Bandung memiliki kekuatan di sektor ekonomi kreatif, digitalisasi, pendidikan, hingga pariwisata. Namun di lapangan, persoalan perkotaan justru semakin kompleks: sampah menumpuk, kemacetan meningkat, kerusakan jalan berulang, dan banjir yang terus menghantui saat musim hujan tiba.

Jika kondisi ini dibiarkan tanpa lompatan kebijakan strategis, maka degradasi lingkungan dan penurunan kualitas hidup warga menjadi ancaman nyata. Pemerintah Kota harus mencerminkan tata kelola profesional yang menghadirkan good governance dalam pelayanan publik, bukan sekadar retorika.

Krisis Sampah Tanpa Terobosan

Persoalan sampah menjadi isu paling krusial. Pasca dinamika pengelolaan di TPA regional, solusi alternatif yang konkret dan berkelanjutan belum tampak signifikan. Pembentukan petugas pengolah sampah memang langkah awal, namun hasil pengawasan menunjukkan perubahan belum terasa di banyak titik.

Tumpukan sampah di pinggir jalan bukan hanya persoalan estetika. Ia memicu polusi, mempersempit badan jalan, mengganggu pejalan kaki, serta berdampak pada kesehatan masyarakat. Efek dominonya luas.

Konsep 3R belum berjalan efektif, edukasi pengurangan sampah dari sumber belum masif, dan inovasi teknologi pengolahan belum menjadi prioritas utama. Sudah saatnya pengelolaan sampah diarahkan pada konsep green economy dengan target zero waste yang terukur dan berbasis rencana aksi konkret. Tanpa kebijakan strategis, krisis ini berpotensi menjadi ancaman ekologis jangka panjang.

Kemacetan dan Transportasi: Perlu Integrasi Serius

Kemacetan semakin menggerus produktivitas warga. Pertumbuhan kendaraan pribadi tidak diimbangi sistem transportasi publik yang terintegrasi. Program angkutan umum berbasis teknologi memang mulai diperkenalkan, namun pada praktiknya masih terjadi tumpang tindih dengan angkutan konvensional.

Hasil pemantauan menunjukkan sebagian armada minim penumpang, sementara praktik berhenti sembarangan masih terjadi. Artinya, kebijakan transportasi belum menyentuh akar persoalan: integrasi sistem, penataan rute, serta perubahan perilaku. Bandung membutuhkan keberanian untuk melakukan reformasi transportasi secara konsisten dan terukur.

Pengangguran dan Ekonomi Kreatif

Sebagai pusat ekonomi kreatif, Bandung seharusnya menjadi lokomotif lahirnya lapangan kerja berbasis inovasi. Namun kenyataannya, angka pengangguran masih tinggi, termasuk dari kalangan sarjana.

UMKM dan pelaku ekonomi kreatif belum mendapatkan stimulus kebijakan yang kuat dan berkelanjutan. Padahal sektor inilah yang menjadi kekuatan utama kota. Diperlukan kebijakan afirmatif yang mampu mendorong akses permodalan, pelatihan berbasis kebutuhan industri, hingga integrasi dengan pasar digital.

Infrastruktur dan Banjir: Pola Lama yang Berulang

Kerusakan jalan masih ditangani dengan pola tambal sulam. Koordinasi antarinstansi belum optimal sehingga kualitas perbaikan sering tidak bertahan lama. Di sisi lain, penanggulangan banjir berjalan lambat dan cenderung reaktif.

Diperlukan pendekatan lintas wilayah, terutama dengan daerah hulu, pembangunan sistem drainase berkelanjutan, serta penambahan ruang terbuka hijau secara masif dan sistemik. Sumur resapan, RTH sempadan sungai, dan taman kota harus menjadi bagian dari desain ekosistem perkotaan, bukan sekadar proyek tahunan.

Banyak Rencana, Minim Eksekusi

Digitalisasi layanan publik dan revitalisasi kawasan heritage telah diumumkan. Namun masyarakat menunggu implementasi nyata, bukan sekadar perencanaan dan komunikasi publik.

Setiap kepemimpinan membutuhkan “signature program” yang menjadi identitas arah pembangunan. Hingga kini, belum terlihat program terobosan yang benar-benar menjadi penanda perubahan signifikan.

Bandung tidak kekurangan ide. Yang dibutuhkan adalah keberanian mengambil keputusan strategis, sense of urgency, dan konsistensi eksekusi.

Kini saatnya memilih arah. Kota ini tidak boleh terus berada di persimpangan jalan. Bandung harus melangkah maju dengan kebijakan tegas, terukur, dan berpihak pada warganya. Karena pada akhirnya, ukuran keberhasilan kepemimpinan bukan pada banyaknya rencana, melainkan pada perubahan nyata yang dirasakan masyarakat.

×
Berita Terbaru Update