![]() |
| Wali kota Bandung Farhan dalam acara Trevel Mart Jabar Istimewa 2026 |
Pernyataan tersebut disampaikan
Farhan usai menghadiri Travel Mart Jabar Istimewa dan Launching Perhimpunan
Industri Pariwisata Indonesia (Parwindo) di Hotel Horison Ultima Bandung,
Selasa (10/2/2026).
“Setiap kawasan berpengelola di
Kota Bandung harus zero waste. Kalau dalam tiga bulan tidak ada komitmen, mohon
maaf, akan ada sanksi,” tegas Farhan.
Menurutnya, persoalan sampah
menjadi tantangan terbesar yang dapat merusak nilai estetika dan pengalaman
wisata. Tanpa pengelolaan yang baik, kreativitas dan keunggulan destinasi tidak
akan memiliki arti.
“Sebagus apa pun destinasi wisata,
seindah apa pun Braga atau Asia Afrika, semuanya akan rusak ketika sampah tidak
terkendali,” ujarnya.
Sebagai langkah konkret, Pemkot
Bandung telah membangun model pengelolaan sampah berbasis kawasan, yang dinilai
relevan untuk sektor pariwisata dan ekraf. Model tersebut telah diterapkan di
sejumlah pasar tradisional sebagai kawasan berpengelola.
Pasar Caringin, yang sebelumnya
menanggung sekitar 500 ton sampah lama, kini dinyatakan bersih. Sampah lama
telah diangkut seluruhnya, sementara sampah harian dikelola melalui kerja sama
bisnis ke bisnis (B2B) dengan pihak ketiga.
“Caringin bisa dikatakan sudah selesai.
Sekarang yang ada hanya sampah harian dan itu sudah dikelola dengan sistem yang
jelas,” kata Farhan.
Model serupa sebelumnya diterapkan
di Pasar Gedebage dan akan diperluas ke Pasar Ciroyom. Pemkot juga mengawal
pembenahan infrastruktur pendukung, seperti drainase di Pasar Caringin, yang
menjadi tanggung jawab pengelola swasta.
Dalam konteks industri pariwisata,
Farhan mencontohkan praktik baik yang dilakukan Hotel Mercure Jalan Supratman.
Hotel tersebut telah mengelola sampah organik secara mandiri serta memiliki
sistem Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) yang berfungsi optimal.
“Sampah organik tidak diangkut.
Yang dibuang hanya residu, itu pun dipilah lagi antara recycle dan RDF. Sampah
tertentu seperti LB3 ditangani secara khusus,” jelasnya.
![]() |
| Kuliner Bandung |
Farhan mengungkapkan, dari total
1.597 ton sampah per hari yang dihasilkan Kota Bandung, saat ini baru 22 persen
yang mampu dikelola. Pemerintah menargetkan pengelolaan meningkat menjadi 36
persen pada April 2026, dan sesuai RPJMN harus mencapai 65 persen.
“Kuncinya keterlibatan semua pihak,
termasuk pelaku wisata dan ekonomi kreatif,” ujarnya.
Berdasarkan parameter kuantitatif
Kementerian Lingkungan Hidup, skor pengelolaan sampah Kota Bandung saat ini
berada di angka 54,16 dari sekitar 60 poin, dengan status “kota dalam
pembinaan”. Aspek kebijakan dan anggaran dinilai optimal, namun tata kelola
kelembagaan dan kapasitas SDM masih perlu diperkuat.
Untuk itu, Pemkot Bandung merekrut
1.597 petugas pemilah dan pengolah sampah, masing-masing satu orang di setiap
RW. Selain itu, audit akan dilakukan terhadap seluruh kawasan berpengelola,
termasuk hotel, pusat wisata, dan destinasi ekonomi kreatif.
Farhan menegaskan, penegakan hukum
lingkungan kini menjadi perhatian serius pemerintah pusat. Ia mengungkapkan telah
dua kali diperiksa terkait penanganan sampah Pasar Caringin, meski kini
persoalan tersebut sudah tertangani.
“Kota Bandung menjadi salah satu
sampel penegakan pidana lingkungan. Saya tidak mau ada hotel atau tempat wisata
yang bermasalah soal sampah. Kita audit satu per satu,” tegasnya.
Ia juga mengajak pelaku industri
pariwisata dan ekonomi kreatif mendukung program nasional ASRI (Aman, Sehat,
Resik, Indah) yang diluncurkan Presiden Prabowo pada 3 Februari 2026.
“Ekonomi kreatif Bandung harus
tumbuh sejalan dengan prinsip ASRI. Kreativitas boleh luar biasa, tapi untuk
urusan sampah, ikuti kepemimpinan saya,” pungkas Farhan. (*/red).

