![]() |
| Pimpinan dan anggota Komisi V saat meninjau progres pembangunan RKB SMAN 20 Kota Bekasi |
Anggota Komisi V DPRD Jawa Barat
H.M. Hasbullah Rahmad mengatakan, kendala tersebut harus segera dievaluasi dan
diselesaikan agar pembangunan RKB dapat rampung dan digunakan pada tahun ajaran
baru 2026–2027.
“Semua kendala harus segera
dibereskan. Target kami jelas, saat tahun ajaran baru dimulai, ruang kelas
sudah bisa digunakan,” kata Hasbullah Rahmad yang akrab disapa Bang Has, Rabu
(4/2/2026).
Ia menjelaskan, dalam rapat kerja
Komisi V bersama Dinas Pendidikan Jawa Barat, terungkap adanya keterlambatan
pembangunan RKB SMAN 20 Kota Bekasi. Dari rencana awal pembangunan 20 ruang
kelas, hingga kini baru 10 ruang yang berhasil diselesaikan.
Untuk memastikan kondisi riil di
lapangan, Komisi V DPRD Jawa Barat kemudian melakukan peninjauan langsung ke
lokasi. Hasilnya, progres pembangunan RKB memang baru mencapai 72 persen.
“Atas dasar itu, kami mendorong
Pemprov Jawa Barat melalui Dinas Pendidikan untuk segera menuntaskan
pembangunan, sehingga seluruh RKB dapat dimanfaatkan pada tahun ajaran baru
2026–2027,” ujarnya.
Meski mendorong percepatan, Bang
Has menegaskan pembangunan tidak boleh dilakukan secara tergesa-gesa dengan
mengorbankan kualitas. Ia mengingatkan agar mutu bangunan dan aspek keselamatan
warga sekolah tetap menjadi prioritas.
“Kami mendorong percepatan, tapi
bukan asal jadi. Kualitas harus terjamin dan tidak membahayakan guru, tenaga
kependidikan, maupun siswa,” tegasnya.
Terkait kemungkinan kebutuhan
tambahan anggaran untuk menyelesaikan pembangunan dan melengkapi sarana
pendukung pembelajaran, Komisi V DPRD Jawa Barat menyatakan siap mendorong
alokasi anggaran melalui APBD Perubahan 2026.
“Dengan sisa waktu yang terbatas,
dibutuhkan komitmen semua pihak agar pembangunan bisa selesai tepat waktu,”
katanya.
Sementara itu, Kepala SMA Negeri 20
Kota Bekasi, Sri Suwarsih, berharap pembangunan lanjutan dapat kembali
dianggarkan pada 2026 agar kapasitas ruang kelas dapat ditambah. Saat ini,
sekolah yang berdiri sejak 2016 tersebut masih menerapkan sistem pembelajaran
bergantian akibat keterbatasan ruang.
“Kami berharap seluruh kegiatan
belajar mengajar bisa dilakukan satu shift, sehingga lebih nyaman dan berdampak
pada peningkatan semangat serta prestasi siswa,” pungkasnya. (*/sein)
