![]() |
| Wali Kota Bandung M.Farhan memukul gong saat membuka Job Fair Future Connect 2026 di Teras Sunda Cibiru |
Wali Kota Muhammad Farhan menyebut
fenomena ini sebagai sesuatu yang wajar. Kota Bandung diibaratkan seperti gula
yang menarik semut—semakin berkembang, semakin banyak orang datang untuk
mencari kesempatan. Sebagai pencari kerja, saya merasakan betul analogi itu:
peluang memang ada, tapi tidak semua bisa langsung mendapatkannya.
Dengan jumlah penduduk usia
produktif yang mencapai sekitar 1,6 juta jiwa, ditambah sekitar 100 ribu
pendatang yang tinggal di kos dan kontrakan, persaingan kerja terasa semakin
ketat. Di lingkungan tempat saya tinggal saja, hampir setiap rumah kos dihuni oleh
orang-orang dengan tujuan yang sama—mencari pekerjaan dan memperbaiki hidup.
Data menunjukkan hampir setiap RW di Kota Bandung memiliki puluhan unit kos. Artinya, ribuan bahkan puluhan ribu orang datang membawa mimpi masing-masing. Namun, di balik itu, ada kenyataan bahwa lapangan kerja belum tentu sebanding dengan jumlah pencari kerja.

Para pencari kerja mendatangi stand loker di Job Fair Future Connect 2026 Teras Sunda Cibiru
Sebagai pencari kerja, kondisi ini
sering kali menghadirkan dilema. Di satu sisi, Bandung menawarkan banyak
peluang karena pertumbuhan ekonominya. Di sisi lain, persaingan yang tinggi
menuntut kami untuk terus meningkatkan kemampuan agar bisa bersaing.
Pemerintah Kota Bandung sendiri
terus berupaya mengatasi situasi ini dengan mendorong investasi yang kini telah
mencapai sekitar Rp11 triliun. Selain itu, kolaborasi dengan dunia usaha
seperti Kadin dan Apindo juga dilakukan untuk membuka lebih banyak lapangan
kerja.
Namun, bagi kami yang berada di
lapangan, harapan itu tetap harus dibarengi dengan usaha ekstra. Mengirim
lamaran, mengikuti pelatihan, hingga mencoba berbagai peluang menjadi bagian
dari keseharian.
Bandung memang kota yang
menjanjikan, tapi juga menguji. Di sini, mimpi bertemu realita—dan hanya mereka
yang siap beradaptasi dan terus belajar yang bisa bertahan. (ziz/red).
