Notification

×

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

BMKG: Mayoritas Wilayah Jawa Barat Hadapi Kemarau Lebih Kering dan Panjang pada 2026

Rabu, 15 April 2026 | 15:46 WIB Last Updated 2026-04-15T08:46:15Z
Klik
BMKG Prediksi sebagian Besar Wilayah Jabar Musim Kemarau Lebih Kering

  
BANDUNG, FAKTABANDUNGRAYA,--- Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) memprediksi sebagian besar wilayah Jawa Barat akan mengalami musim kemarau yang lebih kering dan berlangsung lebih lama pada 2026. Kondisi ini bahkan disebut melampaui rata-rata klimatologis dalam 30 tahun terakhir.

Prakirawan Cuaca Stasiun Klimatologi BMKG Jawa Barat, Vivi Indhira, menyampaikan bahwa sekitar 93 persen wilayah di Jawa Barat akan mengalami curah hujan di bawah normal selama musim kemarau. Hal ini berarti intensitas hujan jauh lebih rendah dibandingkan kondisi biasanya.

“Mayoritas wilayah akan menghadapi musim kemarau yang lebih kering, sehingga perlu diantisipasi sejak dini,” ujarnya dalam kegiatan press release musim kemarau 2026 yang digelar secara daring, Selasa (14/4/2026).

Sejumlah daerah yang diperkirakan terdampak antara lain Kota Bandung, Kota Tasikmalaya, Cianjur, Sukabumi, Bekasi, Cirebon, dan Kuningan. Sementara itu, hanya sekitar 7 persen wilayah yang diprediksi mengalami kondisi hujan normal.

Tak hanya lebih kering, BMKG juga memperkirakan sekitar 81 persen wilayah di Jawa Barat akan mengalami durasi musim kemarau yang lebih panjang dari biasanya. Wilayah seperti Sukabumi, Karawang, Indramayu, dan Kota Tasikmalaya termasuk yang akan merasakan dampak tersebut.

Untuk awal musim kemarau, sebagian besar wilayah diprediksi mulai memasuki periode tersebut pada Mei 2026, disusul Juni 2026 untuk wilayah lainnya, termasuk Kota Bandung dan sekitarnya. Puncak musim kemarau sendiri diperkirakan terjadi pada Agustus 2026 di sekitar 90 persen wilayah Jawa Barat.

BMKG turut memberikan sejumlah rekomendasi guna menghadapi kondisi ini. Di antaranya adalah optimalisasi pemanfaatan waduk dan bendungan, percepatan pembangunan embung, serta langkah antisipasi krisis air bersih seperti penyaluran air dan penyediaan sumur bor darurat.

Pada sektor pertanian, petani diimbau menyesuaikan kalender tanam dengan menghindari masa puncak kemarau, serta menggunakan varietas tanaman tahan kering atau beralih ke komoditas palawija. Selain itu, efisiensi penggunaan air melalui sistem irigasi hemat air juga perlu ditingkatkan.

BMKG juga mengingatkan potensi bencana yang dapat menyertai musim kemarau panjang, seperti kekeringan dan kebakaran hutan. Untuk itu, kesiapsiagaan semua pihak sangat dibutuhkan, termasuk dalam menjaga ketersediaan air bagi operasional pembangkit listrik tenaga air (PLTA).

Di sisi kesehatan, masyarakat diminta meningkatkan kewaspadaan terhadap risiko infeksi saluran pernapasan akibat asap, serta menjaga kualitas sanitasi di tengah keterbatasan air bersih selama musim kemarau berlangsung. (*/red).

×
Berita Terbaru Update