![]() |
| SiteMinder : catat perjalan domestik dan pesanan hotel di Indonesia |
Berdasarkan data pemesanan
sepanjang Maret 2026, wisatawan domestik menyumbang 52 persen dari total
booking hotel di Indonesia. Angka ini meningkat dibandingkan periode yang sama
tahun sebelumnya yang berada di level 48 persen, sekaligus melanjutkan tren
kenaikan dalam beberapa tahun terakhir.
Kenaikan permintaan tersebut
terlihat merata di sejumlah destinasi regional. Lombok mencatat pertumbuhan
tertinggi sebesar 7,5 persen, disusul Yogyakarta sebesar 7,1 persen dan Bandung
sebesar 6,8 persen. Ketiganya melampaui rata-rata nasional yang tercatat
sebesar 2,6 persen. Sementara itu, Bali menunjukkan pertumbuhan relatif stabil
di angka 0,1 persen.
Selain peningkatan jumlah
pemesanan, perilaku wisatawan juga mengalami perubahan. Jarak waktu antara
pemesanan dan tanggal menginap (lead time) cenderung semakin pendek. Secara
nasional, rata-rata lead time turun dari 16 hari pada 2025 menjadi 15 hari pada
2026.
Penurunan paling signifikan terjadi
di Lombok, dengan rata-rata lead time menjadi 20 hari dari sebelumnya 24 hari.
Bali mencatat rata-rata 31 hari, sementara Bandung menjadi destinasi dengan
waktu pemesanan paling singkat, yakni hanya sekitar 8 hari sebelum kedatangan.
Country Manager SiteMinder
Indonesia, Fifin Prapmasari, mengatakan bahwa perubahan ini mencerminkan pergeseran
preferensi wisatawan domestik yang kini semakin fleksibel dalam merencanakan
perjalanan.
Menurutnya, Lebaran tetap menjadi
momen penting untuk berkumpul bersama keluarga, namun kini juga diiringi dengan
keinginan untuk menciptakan pengalaman baru, seperti staycation atau perjalanan
ke destinasi regional.
“Data ini menunjukkan bahwa
wisatawan domestik semakin adaptif dan spontan dalam merencanakan perjalanan,
terutama selama musim liburan,” ujarnya.
Di tengah peningkatan permintaan,
hotel-hotel di Indonesia juga melakukan penyesuaian strategi harga. Secara
nasional, rata-rata tarif harian (average daily rate) mengalami penurunan
sebesar 3,3 persen, dari Rp1,77 juta pada 2025 menjadi Rp1,71 juta pada 2026.
Penurunan tarif terbesar terjadi di
Bali yang turun 7,4 persen, diikuti Yogyakarta sebesar 3,4 persen dan Lombok
sebesar 3,2 persen. Sementara itu, Bandung menjadi satu-satunya destinasi yang
mencatat kenaikan tarif sebesar 2,5 persen.
Fifin menilai kondisi ini
mencerminkan tingginya persaingan antarhotel dalam menarik wisatawan domestik.
Ia menekankan pentingnya strategi yang adaptif, termasuk menawarkan paket
menginap yang memberikan nilai tambah bagi tamu.
Menurutnya, hotel yang mampu
merespons perubahan tren dengan cepat akan memiliki peluang lebih besar untuk
meningkatkan pendapatan, tidak hanya selama periode Lebaran tetapi juga pada
rangkaian long weekend berikutnya.
Dengan meningkatnya mobilitas
domestik dan fleksibilitas wisatawan, sektor perhotelan dinilai berada pada
momentum yang tepat untuk memperkuat kinerja sepanjang tahun. (*/red).
