Notification

×

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

Wali Kota Bandung Ajak Warga Hapus Stigma Autisme, Gaungkan Kesadaran Sepanjang April

Senin, 13 April 2026 | 22:58 WIB Last Updated 2026-04-14T06:08:21Z
Klik

Peringatan World Autism Awareness Day 2026, Farhan mengajak Warga Hapus Stigma Autisme



BANDUNG, FAKTABANDUNGRAYA,--- Pemerintah Kota Bandung mengajak masyarakat untuk meningkatkan kesadaran dan kepedulian terhadap autisme melalui rangkaian kegiatan selama bulan April dalam momentum World Autism Awareness Day 2026.

Hal tersebut disampaikan Wali Kota Bandung, Muhammad Farhan, dalam acara peringatan World Autism Awareness Day 2026 yang digelar di Pendopo Kota Bandung, Senin (13/4/2026).

Farhan menegaskan bahwa peringatan Hari Kesadaran Autisme tidak cukup hanya dipusatkan dalam satu hari, melainkan harus menjadi gerakan bersama yang digaungkan secara berkelanjutan sepanjang bulan April.

“Selama bulan April ini, gaung tentang Autism Awareness harus terus kita suarakan. Ini bukan hanya peringatan, tetapi gerakan bersama untuk meningkatkan pemahaman masyarakat,” ujarnya.

Ia menilai kegiatan yang digelar komunitas autisme di Kota Bandung selama ini telah menjadi agenda tahunan yang positif. Tidak hanya bersifat seremonial, kegiatan tersebut juga menampilkan berbagai potensi dan bakat individu dengan autisme melalui seni rupa, kriya, hingga pertunjukan kreatif lainnya.

Farhan mengaku terkesan dengan kualitas karya yang ditampilkan oleh para peserta. Menurutnya, karya tersebut menunjukkan kemampuan luar biasa yang perlu mendapat ruang apresiasi lebih luas di masyarakat.

“Karyanya bagus sekali, bahkan ini salah satu yang terbaik yang pernah saya lihat, baik seni rupa maupun kriya,” katanya.

Meski demikian, Farhan mengakui bahwa Pemerintah Kota Bandung masih menghadapi tantangan dalam pendataan jumlah individu dengan autisme. Hingga saat ini, data yang akurat mengenai penyandang autisme di Kota Bandung belum tersedia secara lengkap.

Farhan apresiasi karya anak Autisme


Kondisi tersebut dipengaruhi oleh sejumlah faktor, termasuk keterbatasan identifikasi medis serta masih kuatnya stigma di masyarakat yang membuat sebagian keluarga enggan membuka kondisi anggota keluarganya.

“Kadang dianggap sebagai keterbelakangan biasa, padahal ini berbeda. Ini menjadi tantangan kita dalam penanganan autisme di Kota Bandung,” jelasnya.

Pemkot Bandung, lanjut Farhan, terus berupaya meningkatkan pemahaman dan sensitivitas masyarakat terhadap isu autisme seiring berkembangnya ilmu pengetahuan dan kemampuan deteksi yang semakin baik.

Ia berharap, meningkatnya kesadaran publik dapat mendorong terciptanya lingkungan yang lebih inklusif serta mendukung lahirnya kebijakan yang lebih tepat sasaran bagi individu dengan autisme di masa mendatang.

“Yang kita lakukan adalah terus merespons fenomena di masyarakat dengan pendekatan yang lebih memahami, karena dengan perkembangan ilmu pengetahuan, kita semakin mampu mengidentifikasi kondisi autisme secara lebih baik,” tuturnya. (kyy/red).

×
Berita Terbaru Update