![]() |
| Bank Sampah Jasmine binaan DLH Kota Bandung |
Kepala Bidang Pengelolaan
Persampahan dan Limbah B3 DLH Kota Bandung, Salman Faruq menyampaikan, pihaknya
tengah meningkatkan kapasitas pengolahan sampah hingga 450 ton per hari, sesuai
arahan Wali Kota Bandung.
“Gaslah ini tingkat kinerjanya
sudah sangat baik. Kita bisa lihat dari dashboard, bahkan target sering
terlampaui,” ujar Salman.
Ia menjelaskan, dalam program
Gaslah, setiap individu ditargetkan mampu mengelola sekitar 2,5 kilogram sampah
per hari, dengan total kumulatif mencapai sekitar 40 ton. Capaian tersebut
kerap melebihi target yang ditetapkan.
Namun demikian, Salman menyebut,
tantangan utama saat ini bukan pada pengumpulan sampah organik, melainkan pada
proses pengolahan lanjutan setelah sampah tersebut terkumpul dari masyarakat.
“Yang harus kita pastikan sekarang
adalah pengolahan pasca pengumpulan. Artinya, fasilitas di lapangan seperti
komposter, bata terawang, hingga rumah maggot harus aktif kembali,” jelasnya.
Untuk itu, DLH Kota Bandung
mendorong penguatan pengolahan sampah di tingkat kewilayahan, termasuk di
kelurahan dan komunitas warga. Berbagai metode pengolahan sederhana seperti
komposting dan budidaya maggot terus dioptimalkan agar mampu mengurangi beban
sampah secara signifikan.
Selain itu, pengolahan sampah organik juga dilakukan di sejumlah lokasi seperti Jelekong dan Gedebage, yang difokuskan pada produksi kompos dan media tanam.

Pengambilan sampah warga yang telah dipilah
“Kalau terjadi kelebihan kapasitas
(overflow), kita sudah siapkan skema aktivasi lokasi pengolahan tambahan,
termasuk di eks TPA Jelekong untuk dijadikan kompos,” katanya.
Upaya ini juga diperkuat dengan
rencana reaktivasi sejumlah Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) yang
sebelumnya sempat tidak beroperasi, guna menambah kapasitas pengolahan di
tingkat kota.
Menurut Salman, penguatan
pengolahan berbasis lingkungan menjadi kunci dalam mengatasi persoalan sampah
di Kota Bandung, terutama di tengah keterbatasan kuota pengangkutan ke Tempat
Pembuangan Akhir (TPA).
Dengan keterlibatan aktif
masyarakat dan fasilitas pengolahan di lingkungan, diharapkan volume sampah
yang harus diangkut ke TPA dapat ditekan secara signifikan.
“Pengelolaan sampah tidak bisa hanya
mengandalkan pengangkutan. Harus dimulai dari lingkungan masing-masing,”
ungkapnya. (rob/red).
