Notification

×

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

Perkuat Pelaku UMKM Sepatu Cibaduyut, Tim Peneliti Rumuskan Indeks Keterampilan dan Kesiapan Smart IKM

Kamis, 25 Juni 2026 | 22:22 WIB Last Updated 2026-06-25T16:13:15Z
Klik
Pelaku UMKM Sepatu Cibaduyut mendapatkan pelatihan  ketrampilan dan kesiapan Smart IKM



BANDUNG, FAKTABANDUNGRAYA,--- Upaya menjaga eksistensi sentra sepatu Cibaduyut terus dilakukan melalui pendekatan ilmiah yang melibatkan pengrajin, akademisi, praktisi, dan pemerintah. Salah satunya diwujudkan melalui Focus Group Discussion (FGD) bertema formulasi model kesiapan Smart Industri Kecil Menengah (IKM) berbasis Craftsmanship Skills Index (CSI) dan komitmen manajerial, Rabu (24/6/2026).

Kegiatan yang merupakan bagian dari Program Hibah Kemdiktisaintek 2026 itu bertujuan merumuskan indikator kompetensi pengrajin sekaligus memetakan kesiapan UMKM sepatu tradisional menghadapi transformasi industri yang semakin digital.

Ketua peneliti, Dr. Nurhaeni Sikki, S.A.P., M.A.P., menegaskan bahwa forum tersebut bukan untuk menilai kemampuan pengrajin, melainkan menyerap pengalaman dan pengetahuan yang telah diwariskan selama bertahun-tahun.

“Kami ingin belajar langsung dari para empu sepatu. Pengalaman mereka menjadi dasar penting dalam menyusun model penguatan UMKM sepatu tradisional,” ujarnya.

Dalam diskusi, para pelaku industri mengingatkan pentingnya menjaga keberlanjutan Cibaduyut sebagai sentra alas kaki nasional. Koordinator Satpel PI Persepatuan Bandung, Roni Sukirman, menilai tantangan yang dihadapi pengrajin saat ini tidak hanya terkait produksi, tetapi juga pemasaran, harga, hingga kemampuan beradaptasi dengan perubahan pasar.

Sementara itu, pengrajin senior Gun Gun Ruhiyadi menegaskan bahwa industri alas kaki menjadi sumber penghidupan utama bagi banyak keluarga. “Saya hidup dari sepatu,” ungkapnya, seraya berharap semakin banyak pelatihan yang aplikatif dan pendampingan usaha yang berkelanjutan bagi pelaku UMKM.

Perwakilan IKM, Ikin Sodikin, juga mengingatkan agar Cibaduyut tidak hanya mengandalkan nama besar yang telah dikenal luas. Menurutnya, inovasi dan kualitas produk harus terus diperkuat agar sentra sepatu tradisional tetap bertahan di tengah gempuran produk impor.

Pelaku UMKM Sepatu Cibaduyut bersama Ketua tim peneliti Dr.Nurhaeni Sikki
pada FGD terkait Program Hibah Kemdiktisauntek 2026 

“Jangan sampai Sepatu Cibaduyut tinggal nama saja, seperti dinosaurus,” katanya.

FGD turut memvalidasi delapan kompetensi utama pengrajin, mulai dari desain pola, pemilihan material, penjahitan, finishing, transfer pengetahuan kriya, hingga kesiapan pemasaran digital menuju Smart IKM.

Dari hasil pembahasan, peserta merekomendasikan perlunya pelatihan berbasis praktik, pendampingan usaha yang berkesinambungan, serta dukungan pemerintah melalui program subsidi bahan baku untuk menekan biaya produksi pengrajin sepatu handmade.

Melalui penyusunan Craftsmanship Skills Index, para pemangku kepentingan berharap Cibaduyut, termasuk sentra alas kaki di Garut dan Ciomas Bogor, dapat terus berkembang sebagai industri tradisional yang adaptif, berdaya saing, dan tetap menjadi penopang ekonomi masyarakat. (*/red).

×
Berita Terbaru Update