| Petani sedang melihat kondisi tanaman padi yang kekurangan air (foto:ist). |
Anggota Komisi IV DPRD Jabar
H.Zulkifly Chaniago, BE membenarkan bahwa, di berbagai daerah, sumur warga
mulai mongering, sehingga pasokan air bersih semakin terbatas. Kondisi tersebut
memaksa masyarakat menghemat penggunaan air, bahkan sebagian harus mencari
sumber air alternatif untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Dampak yang lebih besar juga
dirasakan para petani. Kekurangan air irigasi mengancam ribuan hektare sawah
dan lahan perkebunan, sehingga meningkatkan risiko gagal panen dan menurunnya
produktivitas hasil pertanian. Beberapa wilayah di Kabupaten Sumedang, Cirebon,
Indramayu, dan Kuningan dilaporkan mulai mengalami kekeringan.
Zulkifly mengatakan, saat dirinya menglaksanakan Pengawasan Pemerintah daerah, aspirasi warga, terkait akan kebutuhan air bersih untuk kebutuhan sehari-sehari. Warga berharap pemerintah daerah melalui BPBD, PDAM, serta instansi terkait segera menyalurkan bantuan air bersih ke daerah terdampak.

Petani menyedot air waduk untuk disalurkan ke sawah pertanian ( Foto:dok.antara)
“Masyarakat meminta pengaturan
distribusi air dari Waduk Jatigede di Sumedang dan Waduk Darma di Kuningan agar
mampu memenuhi kebutuhan irigasi lahan pertanian selama musim kemarau”, ujarnya.
Selain krisis air, cuaca panas yang
berkepanjangan juga meningkatkan potensi kebakaran hutan dan lahan. Karena itu,
masyarakat diimbau menggunakan air secara hemat, tidak melakukan pembakaran
lahan, serta meningkatkan kewaspadaan terhadap berbagai dampak cuaca ekstrem.
Langkah cepat pemerintah dalam
menjaga ketersediaan air bersih dan mengoptimalkan sistem irigasi dinilai
menjadi kunci untuk mengurangi dampak musim kemarau, menjaga ketahanan pangan,
serta melindungi mata pencaharian masyarakat yang bergantung pada sektor
pertanian. (syaf/sein).