![]() |
| Program Gaslah, Gempolin mampu menangani sekitar 200 kilogram sampah per hari. |
Program yang telah berjalan sekitar
enam bulan ini mengintegrasikan pendataan, edukasi, pemilahan hingga pengolahan
sampah organik di tingkat lingkungan. Hasilnya, partisipasi warga terus
meningkat dan kini sekitar 90 persen warga telah memilah sampah secara mandiri.
Lurah Gempol Sari Ruslan Adidjaja
mengatakan, Gempolin menjadi salah satu upaya menangani sampah organik yang
belum terakomodasi melalui program pengelolaan sampah lainnya.
“Warga didata dulu, yang sudah
memilah maupun yang belum, kemudian kita edukasi,” ujar Ruslan di Kelurahan
Gempol Sari, Kamis (20/8/2026).
Sampah organik yang telah dipilah
kemudian dikumpulkan petugas Gober untuk diolah. Sebagian dimanfaatkan sebagai
pakan maggot yang selanjutnya dapat menghasilkan kompos.
Dari sampah organik yang belum
tertangani melalui program Gaslah, Gempolin mampu menangani sekitar 200
kilogram sampah per hari. Pengumpulan melibatkan sekitar enam petugas Gober.
Menurut Ruslan, perubahan kebiasaan
menjadi tantangan utama. Namun, edukasi dan pendampingan langsung membuat
kesadaran warga semakin tumbuh.
“Alhamdulillah sekarang hampir 90
persen lebih warga sudah memilah sampah,” katanya.
Kepala Seksi Ekonomi dan
Pembangunan Kelurahan Gempol Sari Wahidin Sinaga menjelaskan, Gempolin bukan sekadar
aplikasi, melainkan gerakan yang menggabungkan pendataan, pemilahan, pengolahan
dan pemanfaatan sampah.
Pendataan dilakukan kader Gempolin
yang berasal dari kelompok tani dan Dasawisma. Mereka mendatangi rumah warga
untuk memastikan kondisi pemilahan sekaligus memberikan edukasi.
Hingga kini, data sekitar 2.093
kepala keluarga atau 63 persen dari total KK di Gempol Sari telah masuk dalam
sistem. Data tersebut menjadi dasar untuk memetakan warga yang telah memilah
maupun yang masih membutuhkan pendampingan.
“Dengan adanya Gempolin, kita tahu
berapa orang yang sudah memilah. Kita juga punya petanya, sehingga terlihat
sebaran warga yang sudah memilah,” ujar Wahidin.
Sebanyak sekitar 300 kader Gempolin bergerak di 10 RW dan 67 RT. Pendekatan dilakukan dari rumah ke rumah agar edukasi tidak berhenti pada sosialisasi, tetapi benar-benar mendorong perubahan perilaku.

Program Gaslah, Gempolin mampu menangani sekitar 200 kilogram sampah per hari.
Menariknya, pengolahan sampah di
Gempol Sari tidak menggunakan satu metode yang sama. Kondisi wilayah dan
keterbatasan lahan membuat setiap RT menyesuaikan teknologi pengolahan, mulai
dari komposter, bata terawang, loseda, rumah maggot hingga lubang kompos.
“Dengan Gempolin ini kita tidak
hanya memberikan sarana prasarana, tetapi juga melihat kondisi RW dan RT.
Semuanya disesuaikan dengan kondisi topologinya,” jelasnya.
Hingga saat ini, sedikitnya 21 RT
telah terkonfirmasi bekerja sama dan tercatat dalam sistem Gempolin. Program
tersebut juga memastikan data tidak berhenti sebagai laporan administratif.
Warga yang awalnya tercatat belum memilah dapat diperbarui statusnya setelah
benar-benar melakukan pemilahan.
“Jangan hanya laporan bahwa dia
sudah memilah, tapi ternyata tidak ada action. Dengan adanya ini ada aksi dari
warga yang memang benar-benar sudah memilah,” tegas Wahidin.
Gempolin kini menjadi salah satu
strategi Gempol Sari untuk mengurangi sampah dari rumah, memperkuat partisipasi
warga, sekaligus mendorong pengelolaan sampah organik agar selesai di tingkat
kawasan sebelum dibawa ke tempat pemrosesan akhir. (kyy/red).
