Notification

×

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

Gempolin Tekan Sampah dari Sumber, 90 Persen Warga Gempol Sari Mulai Memilah

Sabtu, 22 Agustus 2026 | 23:24 WIB Last Updated 2026-08-22T16:24:55Z
Klik
Program Gaslah, Gempolin mampu menangani sekitar 200 kilogram sampah per hari.


BANDUNG, FAKTABUNGRAYA — Upaya mengurangi sampah dari sumbernya terus digencarkan Kelurahan Gempol Sari, Kecamatan Bandung Kulon, Kota Bandung. Melalui inovasi Gempolin, warga didorong memilah sampah sejak dari rumah sebelum sampah diolah dan dimanfaatkan kembali.

Program yang telah berjalan sekitar enam bulan ini mengintegrasikan pendataan, edukasi, pemilahan hingga pengolahan sampah organik di tingkat lingkungan. Hasilnya, partisipasi warga terus meningkat dan kini sekitar 90 persen warga telah memilah sampah secara mandiri.

Lurah Gempol Sari Ruslan Adidjaja mengatakan, Gempolin menjadi salah satu upaya menangani sampah organik yang belum terakomodasi melalui program pengelolaan sampah lainnya.

“Warga didata dulu, yang sudah memilah maupun yang belum, kemudian kita edukasi,” ujar Ruslan di Kelurahan Gempol Sari, Kamis (20/8/2026).

Sampah organik yang telah dipilah kemudian dikumpulkan petugas Gober untuk diolah. Sebagian dimanfaatkan sebagai pakan maggot yang selanjutnya dapat menghasilkan kompos.

Dari sampah organik yang belum tertangani melalui program Gaslah, Gempolin mampu menangani sekitar 200 kilogram sampah per hari. Pengumpulan melibatkan sekitar enam petugas Gober.

Menurut Ruslan, perubahan kebiasaan menjadi tantangan utama. Namun, edukasi dan pendampingan langsung membuat kesadaran warga semakin tumbuh.

“Alhamdulillah sekarang hampir 90 persen lebih warga sudah memilah sampah,” katanya.

Kepala Seksi Ekonomi dan Pembangunan Kelurahan Gempol Sari Wahidin Sinaga menjelaskan, Gempolin bukan sekadar aplikasi, melainkan gerakan yang menggabungkan pendataan, pemilahan, pengolahan dan pemanfaatan sampah.

Pendataan dilakukan kader Gempolin yang berasal dari kelompok tani dan Dasawisma. Mereka mendatangi rumah warga untuk memastikan kondisi pemilahan sekaligus memberikan edukasi.

Hingga kini, data sekitar 2.093 kepala keluarga atau 63 persen dari total KK di Gempol Sari telah masuk dalam sistem. Data tersebut menjadi dasar untuk memetakan warga yang telah memilah maupun yang masih membutuhkan pendampingan.

“Dengan adanya Gempolin, kita tahu berapa orang yang sudah memilah. Kita juga punya petanya, sehingga terlihat sebaran warga yang sudah memilah,” ujar Wahidin.

Sebanyak sekitar 300 kader Gempolin bergerak di 10 RW dan 67 RT. Pendekatan dilakukan dari rumah ke rumah agar edukasi tidak berhenti pada sosialisasi, tetapi benar-benar mendorong perubahan perilaku.

Program Gaslah, Gempolin mampu menangani sekitar 200 kilogram sampah per hari.


Menariknya, pengolahan sampah di Gempol Sari tidak menggunakan satu metode yang sama. Kondisi wilayah dan keterbatasan lahan membuat setiap RT menyesuaikan teknologi pengolahan, mulai dari komposter, bata terawang, loseda, rumah maggot hingga lubang kompos.

“Dengan Gempolin ini kita tidak hanya memberikan sarana prasarana, tetapi juga melihat kondisi RW dan RT. Semuanya disesuaikan dengan kondisi topologinya,” jelasnya.

Hingga saat ini, sedikitnya 21 RT telah terkonfirmasi bekerja sama dan tercatat dalam sistem Gempolin. Program tersebut juga memastikan data tidak berhenti sebagai laporan administratif. Warga yang awalnya tercatat belum memilah dapat diperbarui statusnya setelah benar-benar melakukan pemilahan.

“Jangan hanya laporan bahwa dia sudah memilah, tapi ternyata tidak ada action. Dengan adanya ini ada aksi dari warga yang memang benar-benar sudah memilah,” tegas Wahidin.

Gempolin kini menjadi salah satu strategi Gempol Sari untuk mengurangi sampah dari rumah, memperkuat partisipasi warga, sekaligus mendorong pengelolaan sampah organik agar selesai di tingkat kawasan sebelum dibawa ke tempat pemrosesan akhir. (kyy/red).

×
Berita Terbaru Update