![]() |
| Pengelolaan Sampah di TPSS Gedebage Bandung |
Pengelola TPSS Gedebage, Rudi
Rudiana, mengatakan sampah yang masuk berasal dari rumah tangga, kegiatan
komersial, hingga program Gaslah. Sampah kemudian dipilah berdasarkan
karakteristiknya untuk menentukan metode pengolahan yang tepat.
“Yang pertama itu sampah organik
pakan maggot. Kedua sampah organik kompos, yang ketiga high value atau rongsok,
keempat low value, kelima bahan RDF,” ujar Rudi di TPSS Gedebage, Rabu
(19/8/2026).
Sampah organik menjadi komponen
terbesar dengan persentase sekitar 50–60 persen. Sebelum dijadikan pakan
maggot, sampah terlebih dahulu difermentasi selama dua hingga empat hari untuk
mengurangi bakteri negatif dan zat yang berpotensi mengganggu proses
maggotisasi.
Dari proses tersebut, TPSS Gedebage
mampu mereduksi sekitar 5–8 ton sampah organik setiap hari. Kapasitasnya
ditargetkan meningkat hingga 10 ton per hari, terutama jika pasokan sisa
makanan atau food waste mencukupi.
Saat ini terdapat 176 biopon berukuran 2,5 x 2,5 meter di area maggotisasi. Sekitar 90 persen di antaranya digunakan untuk proses budidaya maggot, sedangkan sisanya untuk penyimpanan sementara pakan.

Sampah di TPSS Gedebage dikelola jadi Maggot
Rudi menegaskan, maggot di TPSS
Gedebage tidak semata-mata dipandang sebagai komoditas budidaya, melainkan
sebagai “mesin biologis” untuk mengurangi sampah organik. Maggot yang
dihasilkan dapat dimanfaatkan untuk rumah maggot di tingkat kelurahan maupun
peternak sekitar.
Sementara itu, sisa pengolahan
berupa kasgot dimanfaatkan sebagai pupuk. Pemanfaatannya bahkan telah diuji
bersama alumni ITB angkatan 1974 di Singaparna, Tasikmalaya. Hasil uji tersebut
menunjukkan kasgot berpotensi mengurangi biaya pupuk sekaligus mendukung
peningkatan hasil panen.
Ke depan, Rudi mendorong
pengelolaan sampah dilakukan secara lebih desentralisasi, yakni sedekat mungkin
dengan sumber sampah. Dengan model tersebut, sampah dari satu wilayah tidak
perlu diangkut terlalu jauh ke lokasi pengolahan.
“Desentralisasi itu ada TPS di
Bandung Timur, Bandung Selatan, Bandung Utara, Bandung Barat. Jadi habis di
wilayah masing-masing,” katanya.
Model pengelolaan seperti di TPSS
Gedebage diharapkan menjadi bagian dari solusi pengurangan sampah Kota Bandung
dari sumbernya, sekaligus mengubah sampah organik menjadi sumber daya yang
memiliki nilai guna.
