![]() |
| HJKB ke-216, Pemkot Bandung usung tegline " Solidarity in Harmony" |
Tagline tersebut menggambarkan
Bandung sebagai ruang bersama, tempat warga, komunitas, seniman, pelaku ekonomi
kreatif hingga berbagai gagasan dapat bertemu, berinteraksi dan menciptakan
sesuatu yang baru.
Semangat tersebut bukan lahir tanpa
sejarah. Bandung telah melewati sejumlah titik penting yang membentuk karakter
kotanya, mulai dari lahir sebagai pusat pemerintahan pada 1810, dikenal sebagai
Paris van Java pada 1928, peristiwa Bandung Lautan Api pada 1946, hingga
Konferensi Asia-Afrika 1955. Memasuki era modern, Bandung kembali menemukan
identitasnya sebagai salah satu kota kreatif sejak 2008.
Solidarity in Harmony menjadi upaya
meneruskan perjalanan tersebut. Identitas visual HJKB ke-216 merupakan
pengembangan dari identitas HJKB ke-215, tetapi dengan pendekatan yang lebih
dinamis dan terbuka.
Jika sebelumnya elemen visual
dibentuk seperti bagian-bagian yang saling mengunci dalam satu komposisi, tahun
ini setiap elemen dibuat lebih bebas untuk bergerak, bertemu dan menghasilkan
beragam kemungkinan susunan.
Konsep itu merefleksikan
perkembangan ruang kota yang semakin terbuka bagi aktivitas masyarakat.
Sepanjang 2025, Pemerintah Kota Bandung mempromosikan 84 agenda pariwisata dan
kebudayaan melalui Calendar of Event.
Berbagai agenda tersebut
menghidupkan ruang publik, salah satunya melalui Asia Africa Festival 2025 yang
menghadirkan pertunjukan budaya, bazar UMKM, komunitas seni dan aktivitas
publik di kawasan Asia Afrika, Braga hingga Cikapundung.
Penguatan ruang bersama juga
dilakukan melalui pengaktifan sejumlah kawasan kota, termasuk kolong Pasupati
yang dikembangkan sebagai ruang kreatif bagi komunitas, seniman dan masyarakat.
Bukan Sekadar Seremonial
Dalam konsep HJKB ke-216, kata
“Solidarity” merepresentasikan kebersamaan yang memungkinkan warga, komunitas
dan berbagai gagasan bergerak dalam satu energi. Sementara “Harmony” tidak
dimaknai sebagai keseragaman, melainkan kemampuan mengelola perbedaan agar
menjadi kekuatan yang produktif.
Karena itu, HJKB ke-216 tidak
sekadar menjadi perayaan usia Kota Bandung. Momentum ini sekaligus menjadi
refleksi bahwa keberagaman dan kebersamaan dapat menjadi energi untuk membawa
Bandung terus berkembang.
Secara visual, identitas HJKB
ke-216 dirancang dengan karakter hangat, ringan dan dekat dengan masyarakat.
Elemen grafisnya dibuat adaptif agar mudah dikenali di berbagai media dan
ukuran, termasuk dalam penggunaan satu warna.
Angka 216 menjadi salah satu elemen
utama yang dirancang agar mudah dikenali dalam sekali lihat.
Melalui “Solidarity in Harmony”,
HJKB ke-216 hendak menegaskan satu pesan: Bandung tidak dibangun oleh satu
warna, melainkan oleh beragam elemen yang ketika bertemu mampu menciptakan
harmoni dan kekuatan baru.(rob/red).
