![]() |
| Rapat paripurna DPRD Jabar dgn agenda penyampaian Pandangan Umum Fraksi terhadap Ranperda Peubahan APBD Jabar 2026 |
Mewakili fraksi-fraksi di DPRD Jabar, Fraksi Partai Nasdem yang diwakili oleh Bendahara Fraksi Sri Wahyuni Utami menyoroti secara tajam kondisi fiskal daerah yang dinilai semakin menyempit.

Rapat paripurna DPRD Jabar dgn agenda Pandangan Umum Fraksi
Nasdem mengkritisi kontradiksi dalam
Ranperda PAPBD 2026, di mana target pendapatan daerah turun Rp2,27 triliun
(7,52%) dari Rp30,12 triliun menjadi Rp27,85 triliun, namun alokasi belanja
daerah justru naik Rp991,55 miliar (3,32%) menjadi Rp30,82 triliun. Ketimpangan
ini memicu defisit anggaran yang membengkak hingga Rp3,26 triliun.
Empat poin krusial yang menjadi
catatan dan pertanyaan mendasar DPRD Jawa Barat meliputi:
Penurunan Pendapatan Asli Daerah
(PAD): Target PAD
yang merosot Rp1,57 triliun menuntut Pemprov Jabar segera mengevaluasi strategi
kemandirian fiskal lewat perluasan basis ekonomi dan digitalisasi, tanpa
menambah beban pajak masyarakat.
Kualitas Serapan Anggaran: Realisasi semester pertama 2026
(pendapatan 42,74% dan belanja 40,19%) diminta tidak sekadar diukur dari capaian
persentase, melainkan pada efektivitas dan dampak langsung bagi publik.
Evaluasi Penyertaan Modal BUMD: Penyesuaian penyertaan modal untuk
PT Bandarudara Internasional Jawa Barat (BIJB) dari Rp100 miliar menjadi Rp50
miliar harus didasari roadmap bisnis yang jelas, bukan sekadar menutupi
operasional rutin.
Perwakilan Fraksi Nasdem menyetarhakn PU Fraksi Nasdem
Rencana Utang Daerah Rp3,4 Triliun: Pemprov Jabar diminta mengkaji
secara terukur peruntukan serta skema pembiayaan pinjaman daerah baru sebesar
Rp3,4 triliun agar tidak membebani kapasitas APBD dan pelayanan publik di masa
depan.
Ketua DPRD Jawa Barat, Buky Wibawa,
menyampaikan bahwa seluruh pandangan umum fraksi telah diserahkan kepada
pimpinan dewan. Tahapan berikutnya adalah penyampaian jawaban resmi Gubernur
Jawa Barat yang dijadwalkan pada Rapat Paripurna, Jumat (4/9/2026).
