![]() |
| Pemkot Bandung perkuat pelestarian Seni tradisional Sunda melalui BADAYA |
Ajang Badaya menjadi wadah
apresiasi sekaligus ruang ekspresi bagi para seniman lokal yang tumbuh di
tengah masyarakat Kota Bandung.
Wali Kota Bandung, Muhammad Farhan,
menegaskan bahwa seni merupakan cerminan ekspresi budaya paling nyata yang
hidup dalam sendi masyarakat, sehingga membutuhkan wadah pementasan yang
berkelanjutan.
“Budaya masuk ke dalam jiwa kita
melalui nilai dan norma, tetapi ekspresi yang paling terlihat adalah seni.
Untuk itu, kita harus menghargai seni dengan memberikannya ruang untuk terus
berkarya,” ujar Farhan.
Akan Aktifkan Kembali Gedung
Kesenian Rumentang Siang
Guna mendukung ruang ekspresi
seniman secara konsisten, Farhan membeberkan rencana Pemkot Bandung untuk
menghidupkan kembali Gedung Kesenian Rumentang Siang sebagai pusat pertunjukan
seni tradisional saban pekan.
Empat cabang kesenian utama yang
siap dipentaskan secara bergilir meliputi:
Wayang Golek: Dirancang hadir secara rutin satu
kali setiap bulan.
Jaipongan & Kembang Sunda: Ditampilkan melalui proses
seleksi talenta lokal.
Pencak Silat: Menjadi pertunjukan seni bela
diri tradisional yang turut mengisi panggung.
Farhan meminta perangkat daerah terkait segera mengalokasikan dukungan anggaran agar Rumentang Siang dapat aktif kembali melayani publik.
Dorong Badaya Masuk Kalender Wisata
Kota
Pegelaran Badaya di Lapang Parkir Sarana Olahraga, Babakan Ciparay
Kepala Dinas Kebudayaan dan
Pariwisata Kota Bandung, Adi Junjunan Mustafa, menjelaskan bahwa Badaya telah sukses
dihelat di tiga kawasan (Bandung Timur, Tengah, dan Barat). Melihat antusiasme
warga, pihaknya menargetkan Badaya masuk ke dalam Kalender Pariwisata Kota
Bandung pada tahun mendatang.
Dukungan serupa disuarakan Anggota
DPRD Kota Bandung, Heri Hermawan. Ia menilai kawasan Babakan Ciparay, Bandung
Kulon, dan Bojongloa Kidul memiliki konsentrasi pelaku seni yang tinggi,
sehingga ajang seperti Badaya krusial untuk menjaga kelestarian budaya Sunda. (ray/red).
