Notification

×

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

Wamenaker: Generasi Muda Jangan Berhenti Belajar di Tengah Perubahan Dunia Kerja

Minggu, 01 November 2026 | 12:30 WIB Last Updated 2026-11-01T05:30:54Z
Klik
Wamenaker Afriansyah Noor saat jadi narsum Beyond Professional Touth Con 2026 di Jakarta



JAKARTA, FAKTABANDUNGRAYA,--- Perkembangan teknologi digital, kecerdasan buatan (AI), dan otomatisasi mengubah peta kebutuhan tenaga kerja. Menghadapi perubahan tersebut, generasi muda dituntut tidak hanya mengandalkan ijazah, tetapi juga terus memperkuat keterampilan dan kemampuan beradaptasi agar mampu bersaing di pasar kerja.

Pesan itu disampaikan Wakil Menteri Ketenagakerjaan (Wamenaker) Afriansyah Noor saat menjadi pembicara dalam Beyond Professional Youth Con 2026 bertema “Beyond Work: What Happens When Your Profession Is No Longer Your Identity?” di Jakarta, Sabtu (31/10/2026).

Menurut Afriansyah, tantangan ketenagakerjaan saat ini bukan semata-mata terbatasnya lapangan kerja, melainkan juga kesenjangan antara kompetensi pencari kerja dan kebutuhan industri. Karena itu, pendidikan harus mampu melahirkan keterampilan yang berdampak pada produktivitas dan kesejahteraan.

"Pendidikan harus diterjemahkan menjadi kompetensi, kompetensi menjadi produktivitas, dan produktivitas menjadi kesejahteraan," tegasnya.

Ia menekankan, penguasaan keterampilan teknis (hard skills) harus berjalan beriringan dengan kemampuan nonteknis (soft skills), seperti komunikasi, kolaborasi, kedisiplinan, kreativitas, dan pemecahan masalah. Sertifikasi kompetensi juga penting sebagai bukti keahlian yang diakui sesuai standar industri.

Untuk memperkuat kapasitas tenaga kerja, Kementerian Ketenagakerjaan (Kemnaker) menyediakan sejumlah program, mulai dari pelatihan vokasi di Balai Pelatihan Vokasi dan Produktivitas (BPVP), pemagangan, layanan SIAPkerja dan Karirhub, sertifikasi kompetensi, hingga pendampingan kewirausahaan melalui program Tenaga Kerja Mandiri (TKM).

Wamenaker bersama peserta Beyond Professional Touth Con 2026 


Afriansyah juga mendorong penyiapan SDM lokal sejak tahap pembangunan industri. Masa konstruksi yang umumnya berlangsung dua hingga empat tahun, menurutnya, harus dimanfaatkan untuk melatih calon pekerja agar memiliki kompetensi sesuai kebutuhan ketika industri mulai beroperasi.

"Jangan sampai fisiknya sudah berdiri, tetapi SDM-nya belum siap," ujarnya.

Selain itu, alih pengetahuan dan teknologi dari tenaga kerja asing kepada pekerja domestik perlu diperkuat. Dengan pendampingan dan transfer keahlian, tenaga kerja Indonesia diharapkan mampu mengisi posisi strategis di berbagai sektor industri.

Afriansyah turut menyoroti tumbuhnya profesi baru, seperti kreator konten, pekerja lepas, dan pekerja berbasis platform digital. Perkembangan tersebut perlu diikuti penguatan pengakuan kompetensi, akses pelindungan sosial, serta pemenuhan hak-hak pekerja.

Ia pun mengajak generasi muda mengubah pola pikir dari sekadar pencari kerja menjadi individu yang terus mengembangkan keterampilan. Menurutnya, kemampuan untuk belajar dan beradaptasi menjadi modal penting di tengah perubahan profesi yang semakin cepat.

"Jangan takut berganti profesi atau memulai perjalanan baru. Hal yang justru harus kita takuti adalah ketika dunia terus berubah, tetapi kita memilih berhenti belajar," pungkasnya. (*/red).

×
Berita Terbaru Update