![]() |
| Wamenaker Afriansyah Noor saat jadi narsum Beyond Professional Touth Con 2026 di Jakarta |
Pesan itu disampaikan Wakil Menteri Ketenagakerjaan
(Wamenaker) Afriansyah Noor saat menjadi pembicara dalam Beyond Professional
Youth Con 2026 bertema “Beyond Work: What Happens When Your Profession Is No
Longer Your Identity?” di Jakarta, Sabtu (31/10/2026).
Menurut Afriansyah, tantangan ketenagakerjaan saat
ini bukan semata-mata terbatasnya lapangan kerja, melainkan juga kesenjangan
antara kompetensi pencari kerja dan kebutuhan industri. Karena itu, pendidikan
harus mampu melahirkan keterampilan yang berdampak pada produktivitas dan
kesejahteraan.
"Pendidikan harus diterjemahkan menjadi
kompetensi, kompetensi menjadi produktivitas, dan produktivitas menjadi
kesejahteraan," tegasnya.
Ia menekankan, penguasaan keterampilan teknis (hard
skills) harus berjalan beriringan dengan kemampuan nonteknis (soft skills),
seperti komunikasi, kolaborasi, kedisiplinan, kreativitas, dan pemecahan
masalah. Sertifikasi kompetensi juga penting sebagai bukti keahlian yang diakui
sesuai standar industri.
Untuk memperkuat kapasitas tenaga kerja, Kementerian Ketenagakerjaan (Kemnaker) menyediakan sejumlah program, mulai dari pelatihan vokasi di Balai Pelatihan Vokasi dan Produktivitas (BPVP), pemagangan, layanan SIAPkerja dan Karirhub, sertifikasi kompetensi, hingga pendampingan kewirausahaan melalui program Tenaga Kerja Mandiri (TKM).
.jpeg)
Wamenaker bersama peserta Beyond Professional Touth Con 2026
Afriansyah juga mendorong penyiapan SDM lokal sejak
tahap pembangunan industri. Masa konstruksi yang umumnya berlangsung dua hingga
empat tahun, menurutnya, harus dimanfaatkan untuk melatih calon pekerja agar
memiliki kompetensi sesuai kebutuhan ketika industri mulai beroperasi.
"Jangan sampai fisiknya sudah berdiri, tetapi
SDM-nya belum siap," ujarnya.
Selain itu, alih pengetahuan dan teknologi dari
tenaga kerja asing kepada pekerja domestik perlu diperkuat. Dengan pendampingan
dan transfer keahlian, tenaga kerja Indonesia diharapkan mampu mengisi posisi
strategis di berbagai sektor industri.
Afriansyah turut menyoroti tumbuhnya profesi baru,
seperti kreator konten, pekerja lepas, dan pekerja berbasis platform digital.
Perkembangan tersebut perlu diikuti penguatan pengakuan kompetensi, akses
pelindungan sosial, serta pemenuhan hak-hak pekerja.
Ia pun mengajak generasi muda mengubah pola pikir
dari sekadar pencari kerja menjadi individu yang terus mengembangkan
keterampilan. Menurutnya, kemampuan untuk belajar dan beradaptasi menjadi modal
penting di tengah perubahan profesi yang semakin cepat.
"Jangan takut berganti profesi atau memulai
perjalanan baru. Hal yang justru harus kita takuti adalah ketika dunia terus
berubah, tetapi kita memilih berhenti belajar," pungkasnya. (*/red).
.jpeg)