Notification

×

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

Prof Usman Suherman : Dosen Tidak Paham Membuat Jurnal Dimanfaatkan Pebisnis Plagiat

Selasa, 27 November 2018 | 16:03 WIB Last Updated 2018-11-30T09:10:12Z
Klik


Jabar, faktabandungraya.com,-- Ketua Kopertis Wilayah IV Jabar Prof Dr Uman Suherman AS M.Pd yang menjadi nara sumber Seminar Nasional Teknik Publikasi Artikel Bereputasi Internasional dan Manajemen Agreditasi, mengatakan, seorang dosen untuk meningkatkan akredasinya dan jabatan dituntut untuk dapat membuat jurnal internasional. Namun, sayangnya cukup banyak dosen yang tidak paham membuat jurnal, sehingga dimanfaatkan oleh Pebisnis plagiat.

Menurut Usman, menulis artikel dan membuat jurnal adalah kewajiban seorang dosen, agar punya kapasitas yang bagus, dan layak untuk naik panggung, termasuk juga untuk meningkatkan akredasi dan sertifikasi dosen.

"Pemahamannya jangan dibalik. Menulis untuk naik panggung. Akibatnya, banyak muncul jurnal predator," kata Prof Umam usai menjadi narasumber Seminar Nasional,yang diselenggarakan oleh Pusat Pendidikan dan Pengembangan Manajemen (P3M) Universitas Winayamukti, di hotel Papandayan Bandung, jalan Gatot Subroto, Selasa (27/11-18).

Dikatakan, Prof. Usman, jurnal predator adalah jurnal plagiat yang dibuat para pebisnis dengan tujuan mencari keuntungan semata. Bisnis tersebut tumbuh subur, karena dosen banyak yang tidak paham bagaimana cara menulis yang baik.

Plagiat itu ada dua (2) jenis yaitu plagiat kepada orang lain yaitu menciplak karya ilmiah orang lain nyaris 100% sama. Sedangkan plagiat auto plagiat adalah plagiat yang sendiri tetapi lupa mencantumkan sumbernya.

Contohnya, pada saat saya menulis buku saya yang kedua atau ketiga , dan isinya kebetulan saya lupa menulis sumbernya, karena itu buku saya yang membuat, maka hal ini tetap saja kena auto plagiat," jelas dia.

Oleh karenanya, terang Prof Uman, jangan coba-coba menjadi seorang plagiator. Sebab saat ini banyak alat dan aplikasi yang bisa mendeteksi ada tidaknya unsur plagiat dalam karya tersebut. Selain itu, juga ada batas toleransi , mana karya yang pantas disebut plagiat atau karya asli.

"Kalau, hanya 20 persen itu bisa dimaklumi, kalau sudah sampai 75 persen. Harus diperbaiki. Terhadap yang 20 persen tersebut juga harus disebutkan sumber-sumbernya," karanya.

Sumber dalam jurnal itu, tambah Prof Uman, juga bisa jadi tolak ukur terhadap keaslian sebuah karya, karena sumber juga harus tertera di dalam daftar pustaka. "Kalau tidak ada, maka disebut plagiat juga," katanya.
Bila seorang dosen sudah bisa menulis artikel atau jurnal dengan baik, maka saat dia berbicara dia tidak hanya berkata lewat logika saja, tetapi berdasarkan hasil penelitian yang sudah teruji.

"Jadi dosen tersebut, saya katakan punya nilai, punya kapasitas yang bagus dan layak untuk naik panggung," pungkasnya.

Prof Usman juga berterima kasih kepada P3M Unwim, yang telah menyelenggarakan Seminar Nasional Teknik Publikasi Artikel Bereputasi Internasional dan Manajemen Agreditasi, semoga pengetahuan yang di dapatkan oleh peserta seminar ini bermanfaat dan tidak terjebak oleh para pebisnis plagiat.

Jangan sampai terulang kembali jurnal-jurnal predator yang sudah membayar mahal hanya menjadi pajangan. Karena saat ini sudah banyak alat dan aplikasi yang bisa mendeteksi ada tidaknya unsur plagiat dalam karya ilmiah, tandasnya. (husein).
 


×
Berita Terbaru Update