Jum’at , 22 Feb 2019, Buku Setebal 380 Halaman “Kembalikan Harum Citarum” Siap Dibedah

Jabar, faktabandungraya.com,-- Sejak puluhan tahun silam kondisi sungai Citarum yang merupakan sungai terpanjang di Provinsi Jawa Barat yang melintasi 12 Kabupaten/kota dikenal dengan sebutan “Sungai Terkotor Sedunia”. Bahkan sejak 2013 Black Smith Institute, organisasi nirlaba berbasis di New York yang hakekatnya telah menggambarkan masih rendahnya kualitas peradaban bangsa.

Predikat sungai terkotor ini tentunya sangat mengganggu nama baik Indonesia dimata Internasional. Untuk itu pemerintah Indonesia mengajak seluruh lapisan masyarakat untuk bersama-sama, bahu-membahu menangani dan mengembalikan harumnya sungai Citarum.

Sebenarnya penanganan dan pembenahan Sungai Citarum sudah sejak puluhan tahun silam sudah dilakukan, bahkan sudah menghabiskan anggaran puluhan triliun, baik dari APBN maupun APBD Provinsi dan Kabupaten/kota. Namun tidak secara holistik dan terintegrasi, sehingga hasilnya tidak maksimal.

Dan baru pemerintahan Presiden Jokowi penanganan Sungai Citarum baru dilakukan secara holistik dan terintegrasi yang diperkuat dengan keluarnya Peraturan Presiden RI No Nomor 15 Tahun 2018 Tentang Percepatan Pengendalian Pencemaran Dan Kerusakan Daerah Aliran Sungai Citarum. Perpres No 15/2018 menjadi regulasi untuk menangani dan mengembalikan Harumnya Citarum.

Seiring dengan jalannya waktu, tak terasa program Citarum Harum yang digagas oleh Pangdam III/Siliwangi Mayjen TNI Doni Monardo kala itu, kini sudah setahun berjalan. Dan bahkan, kini Doni Monardo sudah menjabat Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB).

Kerja keras dan kerja bareng seluruh lapisan masyarakat yang dimotori oleh Satuan Tugas (satgas) dengan Komandan Satgas Gubernur Jabar, Wadan Satgas Pangdam III/Siliwangi, Kapolda Jabar dan Kejati Jabar. Dibantu Forum Masyarakat Peduli Citarum, Pegiat  Lingkungan, Perguruan Tinggi, Perusahaan Swasta, Seniman-Budayawan, LSM, Ormas termasuk juga kalangan Media Media, kini kondisi fisik disepanjang aliran sungai Citarum sudah kelihatan hasil.

Ribuan Ton sampah yang menumpuk diatas aliran sungai sudah diangkut dan sudah tidak tampak lagi.  Ribuan rumah ilegal yang beridir diatas bantaran sungai sudah tidak ada dan sudah berubah menjadi taman tematik. Jutaan pohon penyangga sudah ditaman,  mulai dari Hilir (Situ Cisanti) hingga Hilir (Karawang-Bekasi).

Tekad dan kerja keras bersama dalam menangani Sungai Citarum agar kembali harum, telah menggugah dua wartawan senior Joko Irinato Hamid dan Esa Tjatur Setiawan untuk mendokumentasikan dalam buku setebal 380 halaman.

Dalam buku “Kembalikan Harum Citarum” , bertujuan untuk menjawab kritikan dunia internasional dimana sungai Citarum dijuluki “sungai terkotor sedunia”. kata Esa Tjatur saat dihubungi Selasa (19/2-2019).

Buku yang menelisik kondisi Citarum yang mencemaskan akibat pencemaran berat limbah berbahaya yang puluhan tahun dibuang secara tidak bertanggungjawab oleh sebagian besar dari 1900an industri. Citarum juga bagaikan bak sampah raksasa karena menampung sampah domestik yang dibuang masyarakat di sepanjang DAS Citarum.

“Alhamdulilah sejak awal tahun 2018 telah hadir Program Citarum Harum, yang secara regulasi diperkuat dengan Perpres No 15 tahun 2018. Program tersebut telah menerbitkan optimisme dan harapan baru dengan hadirnya partisipasi publik yang signifikan, dalam menjawab problematik masalah Citarum yang demikian terstruktur sistimatis dan masif dan sempat menimbulkan pesimisme publik untuk pemulihannya”, ungkapnya.

Program Citarum Harum diinisasi dan diperjuangkan bersama oleh Jenderal yang memiliki passion pada konservasi alam dan lingkungan,(Doni Monardo) saat itu menjabat Pangdam III Siliwangi, Gubernur Jabar (Ahmad Heryawan) dan hadirnya dukungan kuat Pemerintah Pusat melalui Kemenkomaritim serta berbagai pihak yang peduli Citarum dari kalangan akademisi,pegiat lingkungan, budayawan, agamawan dan media.

Esa juga mengungkapkan ada 4 tujuan dilakukan bedah buku yaitu; 1. Mengupas konten dan subtansi buku serta menghimpun masukan kritis dan kontruktif bagi penyempurnaan buku; 2. Menggulirkan diskursus implementasi program nasional “Kembalikan Harum Citarum” yang melibatkan unsur sinergi pentahelix yaitu unsur pemerintah, akademisi, media, komunitas dan bisnis melalui dialog yang kontruktif dan solutif.

Adapun tujuan ke 3. Membangun nilai subtantif terkait program “Kembalikan Harum Citarum” secara objektif, terorganisir, sustainnable dengan pendekatan sosial, kultural, pemberdayaan dan peningkatan ekonomi masyarakat.

Sedangkan tujuan ke 4, Sebagai momentum yg menyatukan anak bangsa sekaligus pemicu (trigger) bagi penyelesaian permasalahan empiris wilayah wilayah lain di Indonesia.

Acara bedah buku akan dilaksasanakan pada Jum’at, tgl 22 Februari 2019, pukul 13. 30 – 17.00 WIB, bertempat di Hotel Asrillia-, jalan Pelajar Pejuang Bandung.

Untuk pembicara ada 4 orang yaitu: 1. Letjen TNI Doni Monardo (Kepala BNPB); 2. Mochamad Ridwan Kamil (Dansatgas Citarum Harum); 3. Mayjen TNI Trie Soewandono,(Wadansatgas bidang Ekosistem); 4. Irjen Pol Agung Budi Maryoto, (Wadansatgas bid Penegakan Hukum), jelasnya.

Sedangkan sebagai pembahas terdiridari: 1. Prof. Dr. Ir. H. Eddy Jusuf Sp, M.Si., M.Kom (Rektor UNPAS, Ketua Asosiasi Pengelola Perguruan Tinggi Swasta Jabar - Banten); 2. Dr. TB Haeru Rahayu (Kemenko Maritim); 3. Dr. Tisna Sanjaya, M.Sch (Budayawan / ITB); 4. Dadan Ramdhan (Walhi Jabar); 5. Irma Hutabarat (Citarum Care - Vetiver Indonesia); 6. Joko Irianto Hamid (Pemred Lensa Indonesia.com); 7. Dr. Eki Baihaki, M.Si ( Citarum Institute); 8. Leonard Simanjuntak (Green Peace Indonesia); 9. Ipong Witono (Rumah Nusantara - Wanadri).

Untuk peserta bedah buku akan dihadiri sekitar 500 orang Undangan ditambah sekitar 50 orang media cetak, elektronik (TV dan Radio) dan media online. (husein).

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.