Dansektor 21 Resmikan Penyelesaian Incenerator di Ponpes Al Falah 2


FAKTABANDUNGRAYA.COM, NAGREG - Komandan Sektor 21 Kol Inf Yusep Sudrajat resmikan penggunaan incenerator yang telah rampung dibangun di Pondok Pesantren Al Falah 2, Nagreg, Kabupaten Bandung, Minggu (14/4/19). Dengan adanya Incenerator ini nantinya Ponpes Al Falah yang memiliki 3000 santri dapat mengolah sampahnya secara mandiri.

Dijelaskan Dansektor 21 Kol If Yusep Sudrajat, bahwa Incenerator ini berhasil dibangun berkat kerjasama antara semua pihak yang mendukung program Citarum Harum. "Teknologi incenerator digagas oleh Telkom University, waktu itu sebulan yang lalu bertemu dengan saya dan ada informasi bahwa di Ponpes Al Falah yang berada di wilayah Satgas Sektor 21 membutuhkan penanganan sampah, karena terkendala dengan pengangkutan sampah," ujar Dansektor 21.

Ponpes Al Falah 1 dan 2 memiliki lebih dari 3000 santri, "Saya pikir kalo santri sebanyak itu, kalo sampah bisa dikelola sendiri di pesantren sehingga sampah tidak keluar dari pesantren itu lebih bagus," kata Kolonel Yusep.

Pembangunan Incenerator di Ponpes Al Falah berhasil diselesaikan kurang dari satu bulan, dan merupakan incenerator pertama yang dibuat oleh Satgas Sektor 21. "Sebenarnya sudah ada beberapa insenerator yang dibangun oleh Kementrian Dikti, itu inisiatifnya dari atas sehingga didanai oleh pemerintah," ujarnya.

"Tapi di Al Falah ini inisiatif pembuatannya dari bawah, dari beberapa masyarakat yang peduli terhadap lingkungan, sehingga bisa membiayai pembuatan insenerator ini. Nah itu bisa menjadi contoh bagi semua pihak, karena memang jawa barat perlu pengolah sampah," terang Kolonel Yusep.

Sementara, pimpinan Ponpes Al Falah 2 KH Cecep Abdullah mengucapkan rasa terimakasih kepada semua pihak yang turut andil dalam pembangunan Incenerator yang dibangun di pesantren, karena selama ini sampah menjadi problem di Pondok Pesantren. "Dengan adanya mesin ini merupakan suatu hal yang membahagiakan kami untuk bisa mengolah sampah. Bukan membuang tapi mengolah sampah, satu sisi bisa menjadi solusi, satu sisi juga bisa menjadi kontribusi menjaga lingkungan mendapatkan nilai ekonomi dari pengolahannya," jelas KH Cecep Abdullah. (Cuy).

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.