Dinas SDA Jabar Akan Bangun 100 Embung Juara dan Kaji Ulang Harga Jual Air Baku

BANDUNG, Faktabandungraya.com,--- Kepala Dinas Sumber Daya Air (SDA) Jawa Barat mengatakan, guna mewujudkan visi Gubernur : “ Terwujudnya Jawa Barat Juara lahir batin dengan inovasi dan kolaborasi”, pada tahun 2019 ini, ada sebanyak 30 proyek strategis Jabar pada tahun 2019 ini, sebagian leadingsectornya ada di Dinas Sumber Daya Air.

Untuk di Dinas SDA sendiri, ada beberapa program prioritas diantaranya, membangun Irigasi unggulan di Leuwisapi Sukabumi, D.I Caringin Sukabumi; Pengandaran di Perigi dan Cimerak. Membangun Daerah Irigasi Tuntas; membangun 7 Bendungan; membangun 100 Embung Juara; Membangun Irigasi Prima, termasuk juga akan menaikan harga jual air baku.

Hal ini dikatakan Kadis SDA Jabar Linda Al Amin dalam acara Japri 40 bertajuk Program Strategis Provinsi di halam depan Museum Gedung Sate Jl Diponegoro No 22, Bandung, Selasa (3/9-2019).

Turut hadir sebagai narasumber lainnya, selain Kadis SDA Jabar Linda Al Amin, Kadis Perkim Dicky Saromi, Sekretaris Bappeda Eko Priastono, Kabid PDN Disperindag Eem Sujaemah, Kabid e-Government Diskominfo Dian Istanti, Sekdis Parbud Jabar Andreas Wijanto .

Dikatakan, keberadaan embung sangat penting sebagai tempat penampungan air, untuk itu, kita rencanakan akan membangun sebanyak 100 embung yang tersebar di 6 wilayah sungai (Balai SDA).

Untuk tahun ini (2019) baru dilakukan DED untuk 20 embung yang anggarannya sekitar 900juta. Tahun depan (2020) kalau ada uangnya kita mulai bangun, plus melakukan DED lagi untuk 50 embung, tahun 2021, 50 embung yang dsdah ada DED dibangun, dan dilakukan lagi 30 DED. Sehingga pada tahun 2022 kita bangun embungnya. Sehingga semua mencapai 100 embung.

Sedangkan terkait D.I Caringin, yang sudah dibangun 2018 lalu, yang dibiayai oleh DAK (Dana Alokasi Khusus) Pusat ( APBN), tahun 2019 diteruskan untuk diselesaikan. Kalau bandungan D.I. Caringin selesai, selanjutnya kita tinggal membangun saluran irigasinya. Namun, anggrannya baru kita siapkan ditahun depan (2020)karena anggarannya di Dinas SDA sangat terbatas, jelasnya. 

Sementara terkait, penetapan harga jual air baku per M3, Linda mengatakan, bahwa pihaknya sedang melakukan kajian.

“ Kita sedang mengkaji secara teknis harga jual air baku per M3, karena kita tidak bisa menetapkan semberangan. Jangan sampai, harganya terlalu tinggi, pengguna air tidak bisa bayar, kalau terlalu rendah juga sayang. Jadi harus hati2 sesuai regulasi yang ada. Kan tujuan menjual air baku itu untuk menambah PAD (Pendapatan Asli Daerah), ujar Linda.

Harga air baku saat ini, kata Linda sebesar Rp.60 per meter kubik (M3), Untuk itu perlu ditingkatkan harga jualnya secara signifikan, agar bisa meningkatkan PAD dari sektor air permukaan. Namun, untuk perhitungan pajak harus benar-benar kita kaji, dengan harapan semakin banyak para pengguna air membayar pajak.

Adapun terkait Waduk Jati Luhur dan Jatigede, kedua bendungan ini merupakan sumber air atau daerah irigasi rentang terutama daerah yang yang irigasinya rentang air, seperti untuk kebutuhan air warga DKI Jakarta dari Waduk Jatiluhur-Purwakarta. Sedangkan Waduk Jatigedek untuk warga Cirebon, Indarmayu, Majalengka, Kuningan ( Ciayumajakuning) dan sebagian Sumedang yang luasnya hampai mencapi 900ribu Ha.

Dulu sebelum ada jadi Waduk Jatigede, kawasan persawahan Ciayumajakuning plus sebagian Sumedang, setiap tahun hanya bisa satu kali musim taman dan panen, namun kini sudah bisa 3 kali dalam setahun. Hal ini karena air dari Waduk Jatigede dimanfaatkan sebesar 90% untuk Irigasi pesawahan/ pertanian, sisanya 10 % lagi baru untuk PDAM wiayah Ciayumajakuning dan Listrik, jelasnya. (husein).

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.